Thursday, June 26, 2008

AUSTRALIA PULANGKAN DUA NELAYAN MERAUKE

Puddin dan Ariel Impus, dua anak buah kapal (ABK) nelayan "Ramlan-07" asal Merauke yang ditangkap kapal patroli Australia di perairan Arafura 15 Juni lalu, sudah dipulangkan melalui Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis.

Pemulangan mereka yang relatif cepat itu karena otoritas Australia mendapati mereka baru pertama kali terlibat kasus penangkapan ikan secara tidak sah di perairan negara itu, kata Kabid Penerangan Sosial dan Budaya Konsulat RI Darwin, Arvinanto Soeriaatmadja.

Berbeda dengan nasib kedua ABK ini, nakhoda dan tiga ABK lainnya masih ditahan di Pusat Penahanan Imigrasi Australia di Darwin, Northern Territory, untuk menunggu sidang pengadilan kasus mereka.

Mereka itu adalah Samsul (nakhoda), Safri, Muchtar, dan Adi. Otoritas Australia menangani para nelayan Indonesia yang ditahan secara manusiawi. Mereka pun sudah lebih jelas dalam proses penangkapan mulai dari penentuan titik koordinat penangkapan hingga penarikan kapal dan nelayan ke Darwin, katanya.

Hal yang sama sebelumnya juga disampaikan Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu. Menurut Napitupulu, pihak-pihak terkait Australia sudah memiliki niat baik dengan meninjau ulang tata cara penangkapan dan sikap aparat mereka saat menangkap kapal-kapal ikan Indonesia yang diduga melanggar perairan mereka.

Peninjauan ulang terhadap prosedur standar operasi mereka, termasuk masalah bendera Merah Putih di kapal ikan maupun sopan santun tata cara penangkapan oleh petugas dilakukan otoritas Australia menyusul insiden salah tangkap kapal-kapal patroli mereka terhadap beberapa kapal ikan nelayan Indonesia April lalu, katanya.

Kapal ikan "Ramlan-07" itu sudah dibakar aparat kapal patroli Australia yang menangkapnya 15 Juni lalu.

Mengenai adanya kapal ikan nelayan Indonesia yang dibakar para petugas kapal patroli Australia di lokasi penangkapan, Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu, mengatakan, masalah karantina menjadi pertimbangan utama pihak Australia khususnya terhadap kapal kayu dengan kondisi buruk.

Terhadap kapal-kapal ikan nelayan yang relatif baik, kapal-kapal patroli Australia itu umumnya menariknya ke Darwin, katanya. Masalah karantina tidak hanya diberlakukan otoritas Australia kepada kapal-kapal nelayan Indonesia tetapi juga kepada alat angkut apa saja.

Bahkan, KRI Arung Samudera yang baru-baru ini merapat di Darwin serta pesawat militer TNI AU yang mendarat di Darwin untuk misi kerja sama survelensi laut Arafura dengan Australia juga harus diperiksa otoritas karantina Australia sebagai prosuder sebelum terbang dan berlayar, kata Napitupulu menambahkan.

Sepanjang April 2008, Konsulat RI Darwin sempat mencatat setidaknya ada 253 nelayan Indonesia yang ditahan otoritas Australia di Pusat Penahanan Darwin. Mereka umumnya adalah para nelayan asal Sulawesi Selatan yang merupakan awak dari 33 kapal ikan.

Namun tidak semua nelayan Indonesia yang ditangkap dan kemudian kapalnya dihancurkan otoritas keamanan Australia itu adalah mereka yang tertangkap tangan saat menangkap ikan di perairan negara tetangga ini. Ada juga di antara mereka yang merupakan korban salah tangkap kapal-kapal patroli Australia karena mereka ditangkap saat masih berada di perairan Indonesia.

Pemerintah federal Australia pun kemudian membayar ganti rugi atas kapal-kapal mereka yang sudah terlanjur dibakar itu.

Dalam konteks hubungan bilateral Indonesia-Australia, berdasarkan MoU Box 1974, para nelayan tradisional Indonesia masih memiliki akses penangkapan di zona khusus.

Kawasan yang diperbolehkan Australia bagi para nelayan tradisional Indonesia adalah Kepulauan Karang Scott, Seringapatam, Pulau Browse, Kepulauan Karang Ashmore, Pulau Cartier dan perairan di sekitarnya.

Dari beberapa kasus penangkapan para nelayan, masalah perbedaan peta yang menjadi pegangan nelayan serta penangkapan terhadap jenis biota laut yang dilindungi hukum Australia merupakan dua faktor penyebab terjadinya penahanan terhadap mereka.

*) My news for ANTARA on June 26, 2008

4 comments:

Anonymous said...

Damu pa kmu to?.. Nano ni klase blog man?

Anonymous said...

Interesting topics could give you more visitors to your site. So Keep up the good work.

Anonymous said...

good work
See photrom.fr
I need your opinion

Anonymous said...

I'm thankful with your blog it is very useful to me.

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity