Oleh Rahmad NasutionPenyanyi berbakat Australia berdarah Indonesia-Aborigin yang juga runner-up Australian Idol 2006, Jessica Mauboy, menjadi duta sekaligus ikon diplomasi budaya negaranya di Indonesia.
Kehadirannya di tanah tumpah darah ayahnya untuk pertama kalinya itu terkait dengan program musik "In2Oz: Creative Australia", program diplomasi budaya Australia di Indonesia sepanjang 2008.
Berdasarkan informasi yang diterima Minister Counsellor Bidang Penerangan, Sosial dan Budaya Konsulat Jenderal RI di Sydney, Pratito Soeharyo, Jessica berada di Indonesia pada Juni dan Agustus.
Setelah perjalanan pertamanya dari 24 hingga 28 Juni, gadis yang lahir dan besar di Darwin, Australia Utara, ini akan kembali berada di Indonesia dari 6 hingga 15 Agustus. Salah satu programnya yang juga penting adalah mengunjungi sekolah di Nusa Tenggara Timur, kata Pratito.
Sekolah yang acara pembukaannya akan dihadirinya itu adalah salah satu sekolah bantuan pemerintah Australia untuk Indonesia.
Di mata Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer, Jessica adalah perekat ikatan kebudayaan Indonesia dan Australia karena "dengan ayah Indonesia dan ibu Australia", penyanyi berbakat asal Northern Territory (NT) ini juga merupakan contoh hidup dari ikatan kebudayaan dan hubungan antar-masyarakat kedua negara.
Lahir di Darwin dan diajar berbahasa Indonesia oleh ayahnya, Jessica suka menyanyikan lagu-lagu Indonesia dengan komunitas Indonesia yang tinggal di Darwin, Australia Utara.
Karenanya, menurut Dubes Farmer, kunjungan Jessica merupakan kesempatan yang luar biasa untuk merayakan persahabatan kedua negara. "Dan kami sangat berbahagia menyambut Jessica di kampung halamannya," kata Dubes Farmer dalam pernyataan persnya menyambut kehadiran Jessica.
Selama di Indonesia, penyanyi berusia 18-an tahun ini memulai debutnya 25 Juni lalu dengan menyanyikan lagu kebangsaan Australia, "Advance Australia Fair" sebelum pertandingan persahabatan kesebelasan dari Australia Barta dan Jawa timur di Stadion Deltras Sidoarjo.
Putri pasangan, Ferdy Mauboy dan Theresa Mauboy, ini pun manggung bersama Delon, Judica, Mike, dan Lucky (Indonesian Idol) di Plaza Semanggi Jakarta 26 Juni. Di acara itu, Jessica dikabarkan membawakan lagu-lagu handalannya dari albumnya tahun 2007, "The Journey".
Puncak kehadirannya selaku duta diplomasi budaya Australia di Jakarta itu ditandai dengan acara manggung di "Indonesian Idol Spectacular Show" di Balai Sarbini yang disiarkan langsung Stasiun TV "RCTI" Jumat malam (27/6).
Bagi penyanyi yang dikabarkan telah bergabung dengan para diva muda di Australia ini, masyarakat dan budaya Indonesia bukanlah sesuatu yang baru baginya. Bahkan, dia menyadari betul dan bangga pada latarbelakang Indonesia yang disandangnya.
Kebanggaannya pada status Indonesianya itu pernah ia sampaikan sendiri saat ditemui penulis di sela acara hiburan dan penyerahan penghargaan bagi anak-anak Indonesia dan keturunan Indonesia-Australia yang berprestasi tinggi oleh Konsulat RI Darwin 2 September 2007.
Jessica mengatakan, ia bangga menjadi bagian dari komunitas Indonesia di NT dan berterima kasih atas penghargaan yang diberikan Konsulat RI Darwin kepadanya. "Saya bangga bisa menjadi bagian dari komunitas Indonesia," katanya.
Mendatangkan Jessica Mauboy ke Indonesia hanyalah seciul dari sekian banyak program Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) dan Dewan Kebudayaan Internasional Australia (AICC) untuk mendukung promosi diplomasi budayanya sepanjang 2008 di Indonesia.
Mesin diplomasi budaya Australia
Melalui AICC yang merupakan kelompok konsultan utama bagi promosi kebudayaan Australia di luar negeri ini, diorganisir kunjungan seniman, musisi, dan penulis negara itu ke Indonesia untuk tampil di berbagai acara.
Pada Maret lalu misalnya, beberapa musisi Jazz terbaik Australia tampil mengesankan di Jakarta International Java Jazz Festival. Lalu pada April lalu, pencinta musik rock Indonesia juga disuguhkan penampilan kelompok musik rock Australia, "Band Young and Restless" yang mengadakan tur secara nasional.
Seperti disampaikan DFAT, masyarakat Indonesia pun diberi kesempatan untuk membuat musik ciptaan mereka sendiri di "Strike- A- Chord", suatu pameran pendidikan keliling yang memberikan kesempatan kepada pengunjungnya untuk memimpin sebuah orkestra virtual.
Bagi yang suka "skateboard dan BMX", mereka berkesempatan untuk melihat pameran seni media yang fenomenal, "Streetworks", dan terinspirasi oleh penulis Australia di Festival Penulis dan Pembaca Ubud.
Sebelum "membanjiri" Indonesia dengan produk unggulan seni musik dan budayanya, AICC telah pun menggelar misi yang sama di negara-negara utama Asia dan Eropa, seperti China, Singapura, India, Inggris, Perancis, dan Malaysia untuk mempromosikan pemahaman dunia yang lebih luas akan budaya asli Australia.
Beberapa kegiatan yang sudah berlangsung sejak 2002 adalah "Celebrate Australia 2002" di Festival Seni Internasional Shanghai untuk merayakan hari ulang tahun hubungan diplomatik Australia dan Republik Rakyat Cina yang ke 30; dan Program ASEAN (2004) untuk merayakan mitra dialog Australia/ASEAN yang ke 30.
Seterusnya, "Program oZmosis" di Singapore (2005) untuk memperingati HUT Kemerdekaan yang ke 40; "Undergrowth-Australian Arts UK (Inggris) tahun 2005-2006; "AusArts India" (2005-2006); keikutsertaan Australia di Paris Festival Quartier D?Ete (2005) dan program setahun penuh di Malaysia (2007).
Untuk mendukung kegiatan promosi dan diplomasi budayanya di Perancis, Malaysia dan Indonesia sebagai negara-negara kunci yang menjadi sasaran utama program ini, pemerintah federal Australia mengalokasikan dana puluhan juta dolar Australia.
Saat masih menjabat menteri luar negeri, Alexander Downer, pernah mengatakan, pemerintah mengalokasikan dana tambahan sebesar 20,4 juta dolar Australia untuk mendukung berbagai kegiatan diplomasi publiknya.
"Kucuran dana itu meningkat enam kali lipat dalam anggaran AICC dan akan menempatkan diplomasi budaya dan promosi ekspor budaya Australia pada tingkatan baru," katanya.
Program diplomasi budaya ini menunjukkan peran penting yang bisa dimainkan budaya Australia yang unik dan beragam dalam menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang Australia di luar negeri, kata Downer.

No comments:
Post a Comment