Thursday, June 4, 2009

OBAMA JANGAN ABAIKAN SUARA "MAYORITAS DIAM" ISLAM

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama sepatutnya tak mengabaikan suara mayoritas Muslim yang diam di Timur Tengah dan kawasan dunia lainnya jika ia serius membangun lembaran baru hubungan AS dan Dunia Islam karena sikap saling curiga yang akut sangat mewarnai hubungan keduanya.

"Hubungan Amerika dan Dunia Islam sudah sejak lama diwarnai kecurigaan satu sama lain. Kecurigaan itu selama ini sulit untuk direduksi akibat terputusnya komunikasi yang saling menghargai antar keduanya sebagai mitra yang sejajar," kata Akademisi Indonesia di Universitas Queensland (UQ), Akh Muzakki.

Dalam perbincangan dengan ANTARA di Brisbane, Kamis, mengenai makna kunjungan Obama ke Arab Saudi dan Mesir pada 3-4 Juni bagi perbaikan hubungan Barat dan Dunia Islam, Muzakki mengatakan, selama ini model komunikasi yang dibangun Amerika dengan Dunia Islam adalah "komunikasi patrol-klien".

"Kenyataan ini diperparah pula oleh perasaan Amerika sebagai negara yang lebih maju dari yang lain. Jika Presiden Obama serius mengampanyekan Amerika yang tidak akan menggurui dunia, saya fikir ini bisa menjadi awal terbangunnya kemitraan sejajar itu," katanya.

Dalam konteks penyelesaian konflik berkepanjangan Palestina-Israel dan non-proliferasi nuklir di kawasan Timur Tengah, pemerintah Amerika di bawah kepemimpinan Obama layak mendengarkan bagaimana "suara mayoritas Muslim yang diam" di Palestina dan kawasan dunia lainnya.

"Kalau sekiranya Amerika punya agenda tersendiri, sebaiknya agenda itu disimpan dulu. Dengarkan suara mayoritas diam di lapangan," kata dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya yang sedang merampungkan studi doktornya di UQ itu.

Menanggapi dipilihnya Mesir sebagai tempat Presiden Obama menyampaikan pidato bersejarahnya tentang hubungan baru AS dan Dunia Islam, Muzakki mengatakan, hal itu membuktikan bahwa Indonesia yang demokratis dan toleran belum dianggap sebagai bagian dari "elit" dan representasi komunitas Islam internasional.

"Keputusan Amerika memilih Mesir tidak perlu membuat kita kecewa. Justru situasi politik relasional Dunia Islam dan Barat saat ini memberikan ruang kepada Indonesia untuk berkontribusi lebih jauh dengan modal kultural yang telah dimilikinya," katanya.

Namun, Indonesia tidak boleh merasa puas dengan karakter keberagamaan dan keberislamannya yang moderat, toleran, dan plural selama ini karena Dunia Islam dan Amerika ternyata belum menganggap Indonesia bagian dari negara-negara elit Islam, katanya.

Untuk dapat masuk ke dalam lingkar "kelompok elit" Dunia Islam itu, Indonesia tak memiliki pilihan lain kecuali menjadi penyumbang aktif pembangunan peradaban dunia. "Yang namanya perabadan itu tidak dapat dilepaskan dari soal kemajuan intelektual dan penguasaan teknologi sebagai simbol dari peradaban itu sendiri."

Dalam konteks penguasaan teknologi, mungkin Mesir dapat disaingi oleh negara-negara Islam lain di sekitarnya seperti Uni Emirat Arab, namun dalam soal kemajuan intelektual, Mesir telah memberikan kontribusi besar bagi Dunia Islam antara lain ditandai dengan keberadaan Universitas Kairo.

"Kalau dihubungkan dengan konteks industri akademik dunia, sumbangan Mesir tidak dapat dianggap kecil. Banyak tokoh Dunia Islam yang mengalami pendadaran intelektual di Mesir," katanya.

Kondisi ini sepatutnya menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi para akademisi dan aktivis Muslim Indonesia dengan terus memodernisasi pendidikan Islam dan meningkatkan penguasaan sains dan teknologi sebagai alat untuk memengaruhi peradaban keras dan perabadan lunak dunia, katanya.

Dalam kunjungannya ke Mesir itu, Presiden Barack Obama dilaporkan bertemu Presiden Mesir Hosni Mubarak, menyampaikan pidato di Universitas Kairo, dan mengunjungi sebuah masjid.

*) My news for ANTARA on June 4, 2009

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity