Pemilihan Mesir sebagai tempat Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyampaikan pidato bersejarahnya tentang hubungan baru AS dan Dunia Islam membuktikan Indonesia yang demokratis dan toleran belum dianggap sebagai bagian dari "elit" dan representasi komunitas Islam global.Pendapat itu disampaikan Akademisi Indonesia di Universitas Queensland (UQ), Akh Muzakki, kepada ANTARA di Brisbane, Kamis, menanggapi kunjungan Obama ke Arab Saudi dan Mesir pada 3-4 Juni bagi perbaikan hubungan Barat dan Dunia Islam.
"Keputusan Amerika memilih Mesir tidak perlu membuat kita kecewa. Justru situasi politik relasional Dunia Islam dan Barat saat ini memberikan ruang kepada Indonesia untuk berkontribusi lebih jauh dengan modal kultural yang telah dimilikinya," katanya.
Namun, Indonesia tidak boleh merasa puas dengan karakter keberagamaan dan keberislamannya yang moderat, toleran, dan plural selama ini karena Dunia Islam dan Amerika ternyata belum menganggap Indonesia bagian dari negara-negara elit Islam, katanya.
Untuk dapat masuk ke dalam lingkar "kelompok elit" Dunia Islam itu, Indonesia tak memiliki pilihan lain kecuali menjadi penyumbang aktif pembangunan peradaban dunia. "Yang namanya perabadan itu tidak dapat dilepaskan dari soal kemajuan intelektual dan penguasaan teknologi sebagai simbol dari peradaban itu sendiri."
Dalam konteks penguasaan teknologi, mungkin Mesir dapat disaingi oleh negara-negara Islam lain di sekitarnya seperti Uni Emirat Arab, namun dalam soal kemajuan intelektual, Mesir telah memberikan kontribusi besar bagi Dunia Islam antara lain ditandai dengan keberadaan Universitas Kairo.
"Kalau dihubungkan dengan konteks industri akademik dunia, sumbangan Mesir tidak dapat dianggap kecil. Banyak tokoh Dunia Islam yang mengalami pendadaran intelektual di Mesir," kata dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya yang sedang merampungkan studi doktornya di UQ itu.
Kondisi ini sepatutnya menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi para akademisi dan aktivis Muslim Indonesia dengan terus memodernisasi pendidikan Islam dan meningkatkan penguasaan sains dan teknologi sebagai alat untuk memengaruhi peradaban keras dan perabadan lunak dunia, katanya.
"Industri akademik menjadi hal yang sangat penting. Setiap akademisi Muslim Indonesia harus mampu memproduksi gagasannya dalam bahasa-bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan Arab," kata Muzakki.
Selama ini, kalangan Dunia Islam cenderung berpandangan bahwa kemunculan Indonesia yang dipersepsikan banyak negara Barat sebagai negara "yang menjanjikan tatanan baru dunia karena mampu menjadi negara demokratis terbesar ketiga dunia" tidak lebih dari "fenomena baru".
Persepsi kalangan Dunia Islam yang memandang Timur Tengah sebagai pusat jati diri Islam dan bukan Indonesia sebagaimana dianggap banyak kalangan di dunia Barat itu tidak dapat dilepaskan dari proses pembentukan perabadan Islam yang sudah berjalan jauh sebelum lahirnya Indonesia tahun 1945, katanya.
"Jadi ketika dalam masa pembentukan perabadan Islam itu, tidak ada warna yang muncul dari Indonesia sehingga kalangan Dunia Islam masih menganggap kita masih di pinggiran (peradaban Islam)," katanya.
Karena itu, untuk menaikkan kedudukan Indonesia di Dunia Islam yang akan juga memengaruhi posisi tawar Indonesia di Dunia Barat, pemajuan industri akademik menjadi sebuah kemutlakan karena sudah lama negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini memberikan kontribusi kecil bagi perkembangan Iptek dunia.
"Dengan Pakistan saja kita masih kalah. Karenanya penggalakan produksi akademik dalam bahasa Inggris dan Arab menjadi pekerjaan rumah besar buat orang-orang seperti saya untuk mengangkat profil Muslim Indonesia," kata Muzakki.
*) My updated news for ANTARA on June 4, 2009

1 comment:
Islam ternyata menakutkan! Liat blog ini deh --> BLOG MANTAN MUSLIM INDONESIA http://trulyislam.blogspot.com
Post a Comment