Peter Llyod, koresponden Australian Broadcasting Corporation (ABC) untuk Biro Asia Selatan yang terjerat kasus narkoba di Singapura, akhirnya dibebaskan dari penjara setelah membayar uang jaminan sebesar 45 ribu dolar Australia namun proses persidangan kasusnya masih terus berlangsung.Kepastian tentang "bebasnya" Llyod dengan uang jaminan yang disampaikan teman Singapuranya bernama Mohamed Mazlee bin Abdul Malik, kepada pihak pengadilan itu disampaikan jaringan pemberitaan ABC dan dilansir Stasiun Televisi "SBS" dalam buletin beritanya Rabu malam.
Sebagai bagian dari syarat pembebasannya, wartawan senior ABC ini harus tetap berada di negara itu dan lapor diri tiga kali seminggu kepada otoritas terkait Singapura. Jumat pekan ini, Llyod kembali menghadiri proses persidangan kasusnya.
Wartawan kawakan berusia 41 tahun itu sudah ditahan aparat hukum Singapura sejak hampir sepekan dengan tuduhan bahwa yang bersangkutan telah memakai dan memperdagangkan narkoba jenis "ice".
Sebelumnya ABC melaporkan bahwa selain lapor diri tiga kali seminggu, dua kondisi lain yang harus dipenuhi Llyod adalah lapor diri yang ketat dan menyerahkan paspornya kepada otoritas hukum Singapura.
Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith yang tengah berada di Singapura untuk menghadiri beberapa pertemuan multilateral, termasuk Forum Regional Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyambut baik cara Singapura menangani kasus Llyod.
Menlu Smith juga menyatakan kepuasannya atas perawatan baik yang diterima Llyod atas infeksi mata serius yang dideritanya.
Kabar penangkapan Llyod disampaikan Direktur ABC News, John Cameron, 18 Juli lalu.
gara-gara "ice"
Koresponden ABC di New Delhi, India, ini ditangkap aparat Biro Narkotika Pusat (CNB) Singapura bersama barang bukti 0,8 gram narkoba jenis "ice" saat cuti dari tugas di negara itu.
Penangkapan terhadap dirinya itu dilakukan setelah aparat hukum Singapura menahan seorang warga negaranya berusia 31 tahun.
Jika terbukti bersalah di pengadilan, Llyod terancam hukuman lima hingga 20 tahun penjara dan lima hingga 15 kali hukuman cambuk.
Peter Lloyd menempati pos penugasannya di Biro Asia Selatan sejak pertengahan tahun 2002.
Dari New Delhi, dia meliput berbagai peristiwa penting dan menarik yang terjadi di India, Pakistan, Afghanistan, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, Bhutan, dan Maladewa.
Antara 2002 dan pertengahan 2006, Lloyd ditempatkan di Bangkok untuk meliput isu-isu Asia Tenggara di Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Filipina.
Laporan-laporan jurnalistiknya yang mengesankan tentang insiden Bom Bali dan bencana tsunami memasukkan namanya dalam daftar finalis "Walkely Awards".
Llyod bergabung dengan ABC pada 1988 namun kemudian dia pindah ke Inggris dan bekerja untuk BBC dan Sky News Inggris.
Pada 2000, dia kembali bergabung dengan ABC sebagai wartawan dengan pengalaman yang lengkap mulai dari divisi pemberitaan televisi hingga radio.
*) My updated news for ANTARA on July 23, 2008

No comments:
Post a Comment