Sunday, July 13, 2008

SCHAPELLE CORBY TERGELINCIR GANJA AYAHNYA

Oleh Rahmad Nasution

Badai kasus Schapelle Corby, perempuan asal Gold Coast, Queensland, yang kini menjalani masa hukuman 20 tahun penjara di Bali dalam kasus penyelundupan 4,2 kilogram mariyuana tahun 2004, belum menunjukkan tanda-tanda berakhir menjadi pusat perhatian publik Australia lewat media.

Betapa tidak, setelah penayangan film dokumenter tentang kisah dirinya berjudul "Schapelle Corby: The Hidden Truth" di Stasiun TV "Channel Nine" pada 22 dan 24 Juni 2008 yang ditonton sedikitnya 1,6 juta orang, fakta demi fakta yang selama bertahun-tahun terkubur terus menyeruak menjadi konsumsi publik di negeri itu.

Penayangan film dokumenter itu membuka katup pengaman kotak pandora yang selama ini tertutup rapat karena setelah itu media cetak dan elektronika Australia lainnya seakan berlomba untuk mengungkap fakta-fakta terbaru di seputar Corby dan kiprah ayahnya dalam dunia kelam perdagangan narkoba.

Media Australia yang menindaklanjuti gebrakan Stasiun TV "Saluran Sembilan" (Channel Nine) itu adalah Stasiun TV ABC dalam acara "Lateline"-nya 4 Juli malam serta "The Sun Herald", "Sunday Telegraph", "The Age", "Sydney Morning Herald" (SMH) dan Australian Associated Press (AAP) pada 12 dan 13 Juli 2008.

Yang menjadi sorotan utama media-media Australia pasca-penayangan film dokumenter di Stasiun TV "Channel Nine" itu tiada lain adalah Michael Corby senior, ayah Schapelle Corby yang meninggal dunia di Rumah Sakit Brisbane karena penyakit kanker Januari 2008.

Jika dalam acara program "Lateline" ABC 4 Juli malam, sepupu ayah Corby, Alan Trembath, mengungkapkan secara gamblang keterlibatan Michael Corby senior dalam perdagangan mariyuana di Australia, pada pemberitaan "The Sun Herald" dan suratkabar-suratkabar milik kelompok Fairfax seperti The Age dan SMH justru menunjuk Michael Corby senior sebagai pemilik barang haram yang ada di sarung tas papan selancar anak perempuannya.

Teka-teki tentang ayah Corby sebagai pemilik 4,2 kilogram mariyuana yang ditemukan petugas Indonesia di dalam sarung tas papan selancar Schapelle Corby tahun 2004 itu terkuak setelah ada pengakuan baru Malcolm McCauley, pria Australia yang pernah tersangkut kasus ganja di Adelaide.

Pria yang sempat mendekam di penjara selama 15 bulan karena terbukti terlibat dalam pengiriman 100 kilogram mariyuana dari negara bagian Australia Selatan ke Queensland antara Januari 2004 dan November 2005 itu mengatakan dia dan ayah Corby adalah rekanan bisnis narkoba.

Pengakuan McCauley yang pada awalnya dia sampaikan ke "The Sun Herald" di Adelaide 11 Juli lalu itu juga semakin menguak fakta bahwa Schapelle Corby sesungguhnya mengetahui ayahnya itu adalah bandar narkoba. Dia pun paham bagaimana modus operandi penyelundupan mariyuana ayahnya ke Bali.

"Kebenarannya adalah dia (Corby) tahu ayahnya itu pedagang narkoba. Dia tahu seluk beluk perjalanan ke Bali, dia tahu sistimnya, (dia tahu) penyuapan. Dia tahu banyak," kata McCauley seperti dikutip SMH Minggu.

Di mata McCauley, penangkapan Corby oleh petugas Bea Cukai Indonesia di Bandar Udara (Bandara) Ngurah Rai tahun 2004 lalu itu tiada lain dikarenakan raibnya uang suap yang sudah disiapkan di dalam tas papan selancar Corby.

"Seandainya uang (suap) itu masih ada di tas (papan selancar), Schapelle Corby bebas sekarang ini," kata mantan terpidana yang mengaku bertemu ayah Corby lewat seorang rekan bisnis narkobanya pada 2000.

Modus Operandi Penyelundupan

Pria yang mengaku "tidak ingin lagi berbohong" dan mau hidup tenang dengan mengikuti kata hatinya sehingga mau buka mulut ke media Australia ini juga mengungkapkan bagaimana modus operandi penyelundupan mariyuana ke Bali yang pernah dilakukan ayah Corby.

Salah satu elemen penting dalam modus operandi itu adalah menyiapkan uang suap untuk petugas Bandar Udara Ngurah Rai Bali yang korup, kata pria yang bebas dari penjara sejak Mei 2008 itu.

Michael Corby senior biasanya sudah menyiapkan uang suap dalam bentuk tunai senilai 1.000 dolar Amerika Serikat bagi para petugas korup di Bandara Bali itu dengan imbalan tas berisi paket mariyuana miliknya diloloskan dari pemeriksaan, katanya.

Uang suap itu biasanya diselipkan Michael di dalam tas berisi paket ganja yang hendak diselundupkan.

Dalam pengakuannya ke "The Sun Herald" di Adelaide 11 Juli lalu, McCauley mengatakan, modus operandi penyelundupan ke Bali yang dilakoni Michael semasa hidupnya selalu sukses sampai akhirnya anak perempuannya tertangkap tangan dengan barang bukti tahun 2004.

McCauley menduga uang suap yang sudah disiapkan sebelumnya di dalam tas papan selancar milik Corby yang berisi 4,2 kilogram mariyuana itu sudah raib entah di mana.

Terhadap paket mariyuana kelas satu asal Australia Selatan yang berhasil lolos, bagaimana barang haram itu dipasarkan dan siapa-siapa saja sasaran pembelinya?

Menurut bekas pemasok mariyuana untuk ayah Corby ini, barang haram yang berhasil diselundupan ke Bali biasanya kemudian dikirim ke jaringan toko suvenir dan selancar. Mariyuana asal Australia Selatan itu dijual ke para ekspatriat (pekerja asing) dan turis di Bali dalam paket-paket ukuran "ons".

McCauley mengaku menjual barang haram itu ke ayah Corby seharga 3.000 dolar Australia per 454 gramnya atau harganya naik menjadi 3.500 dolar jika pasokan terbatas.

Pasar di Bali sudah mengenal reputasi mariyuana asal Australia Selatan ini, dan harganya bisa empat kali lipat dari besar uang yang keluarkan ayah Corby. Nilai jualnya akan lebih tinggi jika dijual secara eceran, katanya.

Apa yang diungkapkan McCauley, pria yang sempat berfoto bersama Schapelle Corby saat mengunjunginya di penjara Bali tahun 2005, itu semakin menguak rangkaian fakta yang selama ini "abu-abu" tentang ayahnya.

Jika pengakuan McCauley ini benar adanya, testimoninya itu telah pula menjelaskan bahwa menyuap petugas Bandara yang korup adalah bagian dari modus operandi para penyelundup narkoba.

*) My news article for ANTARA on July 13, 2008

1 comment:

Anonymous said...

mas rahmad, spt yg disampaikan pak darma lewat email, mohon izinnya utk copy paste artikel ini di balebengong.net

terima kasih..

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity