Friday, July 4, 2008

INDONESIA SAATNYA FIKIRKAN PENGEMBANGAN "CENTERLINK" UNTUK RAKYAT

Pemerintah RI sudah saatnya memikirkan pengembangan "centerlink" seperti yang telah lama dimiliki Australia untuk memaksimalkan pelayanan keamanan sosial dan upaya memandirikan rakyat. Badan ini merupakan langkah lanjutan dari program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang selama ini sudah berjalan.

Usul perlunya dikembangkan "centerlink" ini mengemuka dalam diskusi akademis Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQISA) di Brisbane, Jumat, yang menghadirkan tiga mahasiswa doktoral UQ asal Indonesia sebagai pembicara.

Ketiga pembicara dalam diskusi yang membahas masalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan alternatif energi baru untuk Indonesia itu adalah Hidayat Amir (mahasiswa doktoral bidang ekonomi), Yalun Arifin (bio-teknik) dan Bob Hardian (teknologi informasi).

Hidayat Amir mengatakan, BLT dinilai "cukup baik" sebagai langkah awal pemberian subsidi kepada rakyat miskin namun program "penyelamatan" ini selayaknya diikuti pula dengan berbagai langkah konkrit pemberdayaan rakyat.

"Skema subsidi harus segera dialihkan dari subsidi produk yang rentan distorsi kepada subsidi langsung (orang) sebagai kewajiban asasi negara terhadap rakyatnya," katanya.

Dalam konteks penyaluran subsidi yang langsung kepada rakyat ini, keberadaan "centerlink" sangat diperlukan. Untuk itu, budaya "rent-seeker" (mencari-cari proyek) mutlak dikikis dan keterpaduan visi dan misi antara pemerintah pusat dan pemerintahan kota/kabupaten sangat penting, katanya.

Sementara itu, Bob Hardian melihat "centerlink" sangat mungkin dikembangkan di Indonesia selama negara ini sudah memiliki data kependudukan yang benar dan berhasil melakukan konsolidasi data kependudukan tersebut.

Secara teknis, upaya mengonsolidasi data kependudukan itu tidak ada masalah namun hal ini justru terkendala oleh hal-hal yang bersifat politis. "Selama 'database' kependudukan kita tidak benar, kita masih sulit mewujudkan 'centerlink', " katanya.

Sependapat dengan Bob, seorang peserta diskusi, Akhmad Muzakki, mengatakan, "centerlink" berhasil dibangun Australia bukan semata-mata karena data kependudukan dan infrastruktur teknologi penunjang negara ini sudah mapan, tetapi hal ini juga berkaitan dengan kejelasan pilihan konsep "welfare state" (negara kemakmuran).

"Di Australia, penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sangat dikontrol oleh rakyat sebagai pembayar pajak. Rakyat di sini nomor satu," katanya.

Berbeda dengan Australia, Indonesia tampaknya belum memiliki semua prasyarat seperti yang dimiliki Australia, katanya.

Terkait dengan harga minyak dunia yang terus naik dan bahkan diprediksi bisa mencapai 200 dolar Amerika Serikat (AS) per barel pada akhir 2008 atau awal 2009, Hidayat Amir mengatakan, Indonesia memerlukan kebijakan yang komprehensif di bidang energi.

"Produksi minyak Indonesia terus merosot namun konsumsi meningkat pesat. (Untuk ini) perlu kebijakan yang komprehensif di bidang energi terkait dengan konversi energi, energi alternatif dan investasinya serta sisi konsumsinya. Kebijakan yang tepat masa kini baru akan dinikmati dua puluhan mendatang," katanya.

Hanya saja yang terjadi adalah "banyak kebijakan yang lebih bersifat kumulatif daripada alternatif," katanya.

Mengenai sumber energi alternatif yang paling layak dikembangkan Indonesia, Yalun Arifin mengatakan, pilihannya adalah bahan bakar nabati (bio-fuel) karena, kendati tingkat polusinya relatif sama dengan minyak bumi, "bio-fuel" unggul dari segi keberlanjutan ketersediaan sumber energi.

Dalam hal ini, bahan bakar nabati yang dihasilkan selayaknya tidak mengganggu stok bahan pangan sehingga pengembangan etanol dari limbah kertas atau pun sisa gergaji misalnya patut mendapat perhatian, katanya.

*) My news for ANTARA on July 4, 2008

2 comments:

Anonymous said...

Whoever owns this blog, I would like to say that he has a great idea of choosing a topic.

Anonymous said...

What a great moment of reading blogs.

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity