Film klasik "Morning of the Earth" karya sineas Australia, Albert Falzon, tahun 1972 yang berhasil membuka mata peselancar negara itu pada keindahan dan kehebatan ombak laut Pulau Dewata Bali akan kembali diputar."Film ini dipersiapkan akan diputar lagi. Semoga bisa menarik minat generasi baru peselancar Australia seperti yang pernah terjadi lebih dari dua dasawarsa lalu," kata Pemerhati masalah Pariwisata Bali, Dr.I Nyoman Darma Putra, di Brisbane, Sabtu.
Judul film yang memotret lokasi berselancar di sepanjang pantai utara negara bagian New South Wales (Australia), Hawaii (Amerika Serikat) dan ombak pantai Kuta Bali (Indonesia) ini tidak dapat dilepaskan dari negarawan India, Jawaharlal Nehru.
"Judul film ini mengadopsi slogan Pandit Nehru yang berkunjung ke Bali tahun 1950-an, didampingi karibnya Presiden Sukarno. Saat itu Nehru menyebut Bali sebagai 'Morning of the Earth'," kata Darma Putra.
Film ini tidak saja membuka mata para peselancar Australia pada keindahan ombak pantai Bali tetapi juga memperkenalkan selancar sebagai olah raga baru kepada para pemuda Bali, khususnya yang ada di Kuta, katanya.
Sebelum pariwisata berkembang, berselancar sama sekali tidak dikenal di Bali, kata pakar bahasa dan sastra Indonesia yang juga penulis buku "Tourism, Development and Terrorism in Bali" bersama Prof.Michael Hitchcock (London, Ashgate, 2007) ini.
Banyak peselancar Bali lahir setelah itu. Di antara mereka itu banyak yang "jago dan bertarung" di lomba internasional dengan dukung sponsor dari bisnis "merchandise" Australia, kata dosen Universitas Udayana yang kini peneliti dan staf pengajar bahasa Indonesia di Universitas Queensland itu.
"Para peselancar juga masuk ke dunia 'merchandise' dengan menjual kaos dan alat-alat berselancar yg belakangan menjadi industri besar. Nama-nama 'merchandise' seperti Billabong, Quiksilver, Bali Barrell, membuka usaha waralaba dengan pengusaha lokal Bali," katanya.
Industri pariwisata, menurut Darma Putra, tidak saja memberikan pengaruh dalam budaya dan gaya hidup, tetapi juga dalam olah raga.
Pantai Grajagan di Banyuwangi (Jawa Timur) dan Nias (Sumatera Utara) adalah dua di antara daerah yang banyak diincar dan dikunjungi peselancar Australia setelah Bali, katanya.
Seperti dilaporkan Harian "The Age" edisi Sabtu, film "Morning of the Earth" versi digital akan ditayangkan dalam sebuah konser di Teater Palais Melbourne 3 Oktober 2008 bersama penampilan sejumlah musisi asli film ini, seperti Brian Cadd, Mike Rudd, Tamam Shud, dan produser album, G. Wayne Thomas.
Arthur O'Bryan dalam tulisannya berjudul "Morning of the Earth: A Surf Movie Classic" (2004) menggarisbawahi sumbangsih film berdurasi sekitar 77 menit ini pada promosi pariwisata Bali bagi kalangan pecinta olahraga selancar di Australia dan dunia.
*) My news for ANTARA on July 12, 2008

No comments:
Post a Comment