Enam orang nelayan Indonesia dibawa paksa aparat keamanan Pusat Penahanan Imigrasi Australia di Darwin ke ruang isolasi setelah mereka menolak diinterogasi berkaitan dengan insiden di ruang makan tahanan itu pada 7 Juli malam lalu.Kabid Penerangan Sosial dan Budaya Konsulat RI Darwin, Arvinanto Soeriaatmadja, Kamis, mengatakan, pihak Konsulat sudah turun tangan membantu penyelesaian masalah keenam nelayan yang diisolasi itu sehari setelah kejadian.
Ke-enam orang nelayan yang masuk ke dalam ruang isolasi tersebut adalah Cecep dan Fikar (keduanya ABK KM Sri Rezeki), Mustamin (Kapten KM Country), Safri (Kapten KM Ramlan-07), Williem Rossi (ABK KM Karena Dia) dan Muchtar (ABK KM Ramlan-07), katanya.
Insiden perusakan beberapa properti milik "Detention Center" (Pusat Penahanan) Imigrasi Darwin itu, katanya, terjadi saat makan malam pukul 18.00.
Ketika itu, dua orang nelayan Indonesia yaitu Usman Hasbulah dan Fikar (ABK KM Sri Rezeki) sempat bersitegang dengan petugas GSL (pegawai kontrak untuk keamanan Detention Center)-red.)karena tidak membawa kartu identitas yang dikeluarkan pihak pusat penahanan.
"Melihat kejadian tersebut, para nelayan lainnya emosi dan sebagai bentuk luapannya melakukan tindakan anarkis dengan merusak peralatan dan jendela kantor 'Detention Center'," katanya.
Keesokan harinya, pihak GSL meminta keterangan enam orang nelayan Indonesia itu, namun kesemuanya menolak. Akibat penolakan tersebut, pihak GSL membawa mereka dengan paksa ke dalam ruang isolasi. Buntut dari kejadian ini, beberapa nelayan lainnya memperlihatkan solidaritas dengan tidak mau makan di ruang makan pusat penahanan, katanya.
"Informasi terakhir yang diterima, salah satu nelayan yang diisolasi bernama Wiliam Rossi akan dikembalikan ke 'compound' (ruang) sebelumnya, namun lima orang lainnya masih berada di ruang isolasi," katanya.
Arvinanto mengatakan, koordinasi Konsulat RI Darwin dengan otoritas pusat penahanan berjalan baik karena sehari setelah kejadian, Julie Furby, pejabat eksekutif Pusat Penahanan Imigrasi Darwin, langsung meminta pihak Konsulat untuk segera datang.
"Segera setelah itu, (beberapa staf) Konsulat RI Darwin datang dan memperoleh informasi bahwa insiden tersebut terjadi beberapa saat setelah rombongan the Federal Parliament's Joint Standing Committee on Migration (Komite Masalah Imigrasi Parlemen Federal Australia), Canberra, meninggalkan 'detention center'."
Kunjungan Komite Parlemen Federal Australia itu adalah kunjungan rutin ke beberapa tempat tahanan keimigrasian di seluruh Australia pada 7 Juli 2008, katanya.
Dalam pertemuan dengan para nelayan, pihaknya memberikan penjelasan dan mengimbau agar para nelayan tidak melakukan tindakan anarkis yang dapat merugikan proses hukum yang saat ini sedang dipertimbangkan untuk dibawa ke Pengadilan Tinggi (Supreme Court), katanya.
"Akhirnya, para nelayan bersedia untuk makan malam bersama dengan Konsulat RI Darwin di ruang makan di detention center," katanya.
Arvinanto mengatakan, pihaknya juga sudah meneruskan keluhan para nelayan tersebut mengenai sikap petugas GSL yang akhir-akhir ini, khususnya petugas yang baru, terkadang kaku dan kasar.
"Pelayanan petugas GSL di ruang makan di detention center sering membuat para nelayan bersitegang saat jam makan. Julie Furby menyampaikan permintaan maaf dan berjanji akan mengambil tindakan administratif kepada petugas yang bersangkutan," katanya.
*) My news for ANTARA on July 10, 2008

No comments:
Post a Comment