Thursday, July 17, 2008

AUSTRALIA MENANTI DATANGNYA HARI EKSEKUSI AMROZI CS

Publik Australia kini menanti datangnya hari pelaksanaan eksekusi terhadap Amrozi bin H. Nurhasyim, Ali Ghufron, dan Imam Samudera, tiga terpidana mati yang ikut bertanggungjawab atas tewasnya 202 orang, termasuk 88 orang warga negara Australia, dalam insiden Bom Bali 12 Oktober 2002.

Penantian publik Australia, khususnya mereka yang kehilangan anak dan sanak saudara dalam serangan terorisme kelompok Amrozi cs, itu terekam dalam pemberitaan berbagai media cetak dan elektronika utama di negara itu pada Kamis dan Jumat.

Di antara media Australia yang memberikan ruang bagi opini dan harapan keluarga korban Bom Bali 2002, serta perkembangan terkini masalah Amrozi cs itu adalah Stasiun Televisi "SBS", "Channel Seven" (Saluran Tujuh), "ABC", "Herald Sun", "Sydney Morning Herald", "The Australian", "AAP" dan "The Canberra Times".

Mengutip berbagai sumber, media Australia pada umumnya yakin eksekusi terhadap Amrozi, Ghufton, dan Imam Samudera sudah semakin dekat terutama setelah Mahkamah Agung RI menolak permohonan PK terakhir mereka. Satu-satunya celah buat mereka untuk bisa terhindar dari eksekusi adalah pengampunan Presiden RI.

Harian "The Canberra Times" yang menurunkan berita berjudul "Bali bombers 'to die any day'" (Pengebom Bali Akan Mati Kapan Saja" misalnya mengungkapkan kuatnya hasrat keluarga 88 warga Australia yang tewas dalam serangan Bom Bali 2002 untuk diberitahu jika eksekusi terhadap ketiga terpidana ini sudah dilakukan.

"Para keluarga 88 warga Australia yang tewas dalam insiden Bom Bali 2002 berharap mendapat kabar via telepon dalam beberapa hari ini bahwa ketiga militan yang melakukan serangan (di Bali itu) mati," sebut suratkabar yang berbasis di ibukota negara Australia itu.

Jaringan pemberitaan "ABC" mengutip keterangan anggota tim pembela Amrozi cs, Mahendradatta, melaporkan bahwa Amrozi cs akan "mati dalam sebulan".

Spekulasi media Australia tentang waktu pelaksanaan eksekusi Amrozi cs ini tidak terlepas dari pengakuan seorang ayah korban, David "Spike" Stewart, bahwa dia diberitahu seorang personil senior Polisi Federal Australia (AFP) 11 Juli lalu bahwa Amrozi cs akan dieksekusi pada akhir pekan.

Stewart yang kehilangan putranya, Anthony, dalam serangan bom 2002 itu mengatakan, dia akan merasa lega dan gembira jika Amrozi, Ghufron dan Imam Samudera dieksekusi "hari ini" atau "beberapa hari mendatang".

"Kami sangat senang bila kami diberitahu. Sekarang kami harus menunggu dan bila AFP menelepon kami dan mengatakan (eksekusi) itu sudah dilaksanakan, itu bagus," katanya seperti dikutip "The Herald Sun" edisi 17 Juli.

Kendati umumnya publik Australia berpendapat sama dengan pemerintah Australia yang tidak ingin mencampuri keputusan sistim pengadilan dan ketatanegaraan Indonesia dalam soal hukuman mati, termasuk terhadap Amrozi cs, ada juga di antara sanak keluarga korban Bom Bali 2002 yang tidak ingin ketiga terpidana ini mati dieksekusi.

Suratkabar "The Australian" mengutip hasil wawancara ABC dengan Brian Deegan yang kehilangan putranya, Josh, dalam peristiwa 2002 itu mengatakan ia tidak menginginkan Amrozi cs dipandangan sebagai "martir" atau "orang suci" di mata para pengikutnya.

Dalam masalah eksekusi terhadap terpidana mati dalam kasus apapun, pemerintah Indonesia tidak pernah mengumumkan secara resmi tanggal dan tempat eksekusi mereka.

Namun di mata mantan menteri luar negeri Australia, Alexander Downer, kemarahan terhadap ketiga terpidana mati kasus Bom Bali 2002 ini tidak mengenal batas.

*) My news for ANTARA on July 18, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity