Pemerintah Australia mengutuk serangan bom mobil terhadap Kedutaan Besar India di Kabul, Afghanistan, hari Senin (7/7) kemarin, yang menewaskan 41 orang dan melukai sekitar 150 orang lainnya, termasuk dua staf KBRI Kabul.Aksi kekerasan yang turut menewaskan lima petugas keamanan KBRI Kabul berkebangsaan Afghanistan itu dikategorikan Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith, sebagai sebuah "kekejaman".
Dalam pernyataan persnya yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia, Selasa, Menlu Smith mengatakan, Canberra menyampaikan belasungkawa yang setinggi-tingginya kepada pemerintah dan rakyat Afghanistan serta India.
"Mereka yang bertanggungjawab (dalam aksi ini) adalah para teroris yang tidak menghormati kehidupan umat manusia...," katanya.
Serangan bom bunuh ini, lanjutnya juga menunjukkan upaya intimidasi terhadap rakyat Afghanistan dan melemahkan upaya-upaya internasional dalam mengembalikan perdamaian dan stabilitas di negara itu.
Dalam insiden yang dikutuk Sekjen PBB Ban Ki-moon itu, tak seorang pun warga Australia tewas atau cedera.
Sementara itu, saat di Kuala Lumpur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Pemerintah Afghanistan dapat menjamin keamanan staf dan kompleks Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kabul.
Kepala Negara mengatakan, yang menjadi sasaran serangan tersebut adalah duta besar India yang sedang dalam konvoi berdekatan dengan KBRI Kabul. Akibatnya gedung KBRI pun mengalami rusak berat.
"Yang perlu saya sampaikan ke rakyat Indonesia adalah bukan KBRI kita yang dijadikan sasaran, bukan dubes dan diplomat kita yang dijadikan sasaran. Ini dampak dari dekatnya lokasi serangan atas diplomat India, termasuk petugas keamanan dan diplomat yang sedang bekerja," katanya.
Dalam kesempatan itu Presiden Yudhoyono pun menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya lima staf keamanan lokal KBRI Indonesia dan mengharapkan dua diplomat Indonesia yang terluka segera sembuh dan mendapatkan perawatan yang tepat.
Afghanistan terus mengalami pergolakan. Invasi Amerika Serikat dan sekutunya terhadap negara itu sebagai balasan atas serangan 11 September 2001 belum berhasil menjadikannya lebih damai dan makmur.
Lingkar kekerasan bersenjata dan terorisme dari aktor-aktor negara dan non-negara terus melingkupi kehidupan rakyat Afghanistan.
*) My news for ANTARA on July 8, 2008

No comments:
Post a Comment