Tuesday, July 8, 2008

AUSTRALIA KUTUK SERANGAN BOM MOBIL DI KABUL

Pemerintah Australia mengutuk serangan bom mobil terhadap Kedutaan Besar India di Kabul, Afghanistan, hari Senin (7/7) kemarin, yang menewaskan 41 orang dan melukai sekitar 150 orang lainnya, termasuk dua staf KBRI Kabul.

Aksi kekerasan yang turut menewaskan lima petugas keamanan KBRI Kabul berkebangsaan Afghanistan itu dikategorikan Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith, sebagai sebuah "kekejaman".

Dalam pernyataan persnya yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia, Selasa, Menlu Smith mengatakan, Canberra menyampaikan belasungkawa yang setinggi-tingginya kepada pemerintah dan rakyat Afghanistan serta India.

"Mereka yang bertanggungjawab (dalam aksi ini) adalah para teroris yang tidak menghormati kehidupan umat manusia...," katanya.

Serangan bom bunuh ini, lanjutnya juga menunjukkan upaya intimidasi terhadap rakyat Afghanistan dan melemahkan upaya-upaya internasional dalam mengembalikan perdamaian dan stabilitas di negara itu.

Dalam insiden yang dikutuk Sekjen PBB Ban Ki-moon itu, tak seorang pun warga Australia tewas atau cedera.

Sementara itu, saat di Kuala Lumpur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Pemerintah Afghanistan dapat menjamin keamanan staf dan kompleks Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kabul.

Kepala Negara mengatakan, yang menjadi sasaran serangan tersebut adalah duta besar India yang sedang dalam konvoi berdekatan dengan KBRI Kabul. Akibatnya gedung KBRI pun mengalami rusak berat.

"Yang perlu saya sampaikan ke rakyat Indonesia adalah bukan KBRI kita yang dijadikan sasaran, bukan dubes dan diplomat kita yang dijadikan sasaran. Ini dampak dari dekatnya lokasi serangan atas diplomat India, termasuk petugas keamanan dan diplomat yang sedang bekerja," katanya.

Dalam kesempatan itu Presiden Yudhoyono pun menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya lima staf keamanan lokal KBRI Indonesia dan mengharapkan dua diplomat Indonesia yang terluka segera sembuh dan mendapatkan perawatan yang tepat.

Afghanistan terus mengalami pergolakan. Invasi Amerika Serikat dan sekutunya terhadap negara itu sebagai balasan atas serangan 11 September 2001 belum berhasil menjadikannya lebih damai dan makmur.

Lingkar kekerasan bersenjata dan terorisme dari aktor-aktor negara dan non-negara terus melingkupi kehidupan rakyat Afghanistan.

*) My news for ANTARA on July 8, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity