Tuesday, July 8, 2008

RATUSAN KERAMIK INDONESIA DIPAMERKAN DI MUSEUM DARWIN

Ratusan keramik kontemporer Indonesia dan Australia akan dipamerkan di gedung Museum dan Galeri Seni Northern Territory (MAGNT) Darwin dari 12 Juli 2008 hingga 18 Januari 2009.

Pameran bertajuk Pertukaran Kerajinan Arafura Lintasan Memori, Tradisi dan Modernitas yang menghadirkan Sudjud Dartanto sebaga kurator tamu itu dibuka secara resmi oleh Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu, pada 11 Juli malam.

Kabid Penerangan Konsulat RI Darwin Arvinanto Soeriaatmadja, Selasa, mengatakan, Indonesia tidak hanya diwakili oleh Sudjud, kurator yang juga dosen Departemen Seni Kerajinan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tetapi juga diwakili oleh ahli keramik, Dona Prawita Arisstuta.

"Dengan kehadiran Dona, Dharma Wanita Konsulat RI Darwin berupaya menyelenggarakan 'workshop' (lokakarya) pembuatan keramik di beberapa SMA di Darwin dan jurusan seni Universitas Charles Darwin. Bahkan jika memungkinkan lokakarya juga dilakukan di SMA Alice Spring," katanya.

Setelah acara pembukaan 11 Juli malam, Dona Prawita Arisstuta juga mengisi lokakarya tentang seni keramik Indonesia di MAGNT, kata Arvinanto.

"Sesuai informasi yang diterima, acara pembukaan pameran yang akan berlangsung di Amphi Theatre Lawns MAGNT ini akan dihadiri Direktur Museum, Apolline Kohen, dan Kurator Seni Visual dan Museum Kerajinan Australia, Allison Gray," katanya.

Jumlah keramik kontemporer Indonesia yang dipamerkan mencapai 199 buah. Keramik-keramik ini umumnya berasal dari Yogyakarta.

Sementara itu, dalam penjelasan persnya, Kurator MAGNT, Allison Gray, mengatakan, pameran keramik karya seniman keramik Indonesia-Australia ini sudah dipersiapkan selama tiga tahun.

"Lintasan Memori, Tradisi dan Modernitas dalam keramik ini didasarkan pada (karya) seniman-seniman yang tinggal di negara-negara se-kawasan Asia Pasifik, serta tanggapan mereka pada tradisi yang hidup di saat kita bergerak melewati modernitas ...," katanya.

Di antara keramik-keramik yang dipamerkan itu adalah karya Jenny Orchard, Asmudojo Jono Irianto, Dona Prawita Aristuta, Titarubi and Harvey Ottley dengan aneka karakteristik seni, bentuk emotif, warna liar, tema dan konsep.

*) My news for ANTARA on July 8, 2008

1 comment:

Anonymous said...

Considering the fact that it could be more accurate in giving informations.

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity