Sunday, June 8, 2008

MUSLIM AUSTRALIA NIKMATI KEBEBASAN BERAGAMA TANPA INTIMIDASI

Pemimpin Muda Muslim Indonesia yang juga Dosen Agama Islam Universitas Jambi, Mohamad Rapik, mengatakan, ia terkesima dengan kebebasan beragama yang dinikmati umat Islam Australia.

Kaum perempuan Muslim di negara itu pun bebas berjilbab tanpa intimidasi dari pemerintah.

Kenyataan yang ia dapatkan selama mengikuti Program Pertukaran Pemimpin Muda Muslim Australia-Indonesia (AIME) Gelombang III di tiga kota di Australia dari 25 Mei hingga 9 Juni 2008 itu bertolak belakang dengan isu-isu di seputar Australia yang membentuk persepsi banyak orang di lingkungannya di Jambi, katanya.

Keikutsertaannya dalam program AIME ini sekaligus mengonfirmasi persepsi orang-orang di lingkungannya itu dengan melihat dan merasakan langsung denyut kehidupan Muslim di tengah komunitas Australia yang beragam, katanya kepada ANTARA yang mewawancarainya 3 Juni lalu.

Saat dihubungi, Mohamad Rapik sedang berada di Canberra bersama dua peserta AIME Gelombang III lainnya, yakni Kepala SMA Pondok Pesantren Modern Assalaam Solo, Bambang Arif Rahman, dan Direktur Eksekutif Pusat Muslim Moderat (CMM), Muhammad Hilali Basya.

Ia mengatakan, persepsi banyak orang di lingkungannya tentang Australia yang dibentuk oleh laporan media massa tentang sepak-terjang pemerintahan John Howard selama berkuasa terhadap Indonesia dan Dunia Islam adalah bahwa Australia tidak berbeda dari umumnya negara-negara Barat yang suka usil kepada umat Islam.

Dari hasil observasi dan dialog dengan kalangan akademisi, pendidik, aktivis, dan warga Muslim di Melbourne dan Canberra, ia berkesimpulan bahwa Muslim Australia mendapatkan kemerdekaan dalam menjalankan ibadah maupun menyampaikan aspirasinya seperti tampak dari program televisi SBS "Salam Cafe".

Sisi positif multikulturalisme

Dalam pertemuan dengan tiga peserta AIME ini, Direktur Pusat Keunggulan Studi Islam Universitas Melbourne, Prof. Abdullah Saeed, pun mengakui kemerdekaan beragama yang dirasakan Muslim Australia dan sisi positif dari multikulturalisme di negara berpenduduk 21 juta jiwa ini, katanya.

Kondisi yang kondusif ini tidak berarti bahwa sama sekali tidak ada masalah dalam hubungan antara Muslim dan masyarakat Australia. Setidaknya kasus penolakan mayoritas warga daerah Camden terhadap rencana pembangunan sekolah Islam menunjukkan dinamika dalam hubungan sosial itu, katanya.

Sependapat dengan Mohamad Rapik, Kepala SMA Pondok Pesantren Modern Assalaam Solo, Bambang Arif Rahman mengatakan, ia kini memiliki penilaian yang lebih proporsional tentang Australia setelah melihat langsung kehidupan masyarakat Muslim di negara itu.

Sebelum melihat langsung Australia, ia mengatakan, persepsinya tentang negara ini hanya terbatas pada apa yang ia baca dari laporan-laporan media massa. Bahkan, ia mengaku pernah "sebal" dengan Australia di era pemerintahan John Howard.

"Saya tidak menduga bahwa banyak betul umat Islam di Australia. Restoran Timur Tengah, India, dan Indonesia maupun masjid juga banyak. Selain itu, jilbab masih dibebaskan di Australia. Ini berbeda dengan Perancis yang melarang jilbab," katanya.

Ketiga peserta AIME Gelombang III itu berkesempatan bertemu kalangan akademisi, anggota parlemen, diplomat Indonesia, maupun tokoh agama Kristen, Katolik, Yahudi, dan Muslim Australia yang ada di kota Melbourne, Canberra, dan Sydney.

Selama di Canberra, mereka sempat bertemu Pakar Teologi Universitas Charles Sturt Prof.James Haire, dan Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb.

*) My news for ANTARA on June 8, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity