Kaum perempuan Muslim di negara itu pun bebas berjilbab tanpa intimidasi dari pemerintah.
Kenyataan yang ia dapatkan selama mengikuti Program Pertukaran Pemimpin Muda Muslim Australia-Indonesia (AIME) Gelombang III di tiga kota di Australia dari 25 Mei hingga 9 Juni 2008 itu bertolak belakang dengan isu-isu di seputar Australia yang membentuk persepsi banyak orang di lingkungannya di Jambi, katanya.
Keikutsertaannya dalam program AIME ini sekaligus mengonfirmasi persepsi orang-orang di lingkungannya itu dengan melihat dan merasakan langsung denyut kehidupan Muslim di tengah komunitas Australia yang beragam, katanya kepada ANTARA yang mewawancarainya 3 Juni lalu.
Saat dihubungi, Mohamad Rapik sedang berada di Canberra bersama dua peserta AIME Gelombang III lainnya, yakni Kepala SMA Pondok Pesantren Modern Assalaam Solo, Bambang Arif Rahman, dan Direktur Eksekutif Pusat Muslim Moderat (CMM), Muhammad Hilali Basya.
Ia mengatakan, persepsi banyak orang di lingkungannya tentang Australia yang dibentuk oleh laporan media massa tentang sepak-terjang pemerintahan John Howard selama berkuasa terhadap Indonesia dan Dunia Islam adalah bahwa Australia tidak berbeda dari umumnya negara-negara Barat yang suka usil kepada umat Islam.
Dari hasil observasi dan dialog dengan kalangan akademisi, pendidik, aktivis, dan warga Muslim di Melbourne dan Canberra, ia berkesimpulan bahwa Muslim Australia mendapatkan kemerdekaan dalam menjalankan ibadah maupun menyampaikan aspirasinya seperti tampak dari program televisi SBS "Salam Cafe".
Sisi positif multikulturalisme
Dalam pertemuan dengan tiga peserta AIME ini, Direktur Pusat Keunggulan Studi Islam Universitas Melbourne, Prof. Abdullah Saeed, pun mengakui kemerdekaan beragama yang dirasakan Muslim Australia dan sisi positif dari multikulturalisme di negara berpenduduk 21 juta jiwa ini, katanya.
Kondisi yang kondusif ini tidak berarti bahwa sama sekali tidak ada masalah dalam hubungan antara Muslim dan masyarakat Australia. Setidaknya kasus penolakan mayoritas warga daerah Camden terhadap rencana pembangunan sekolah Islam menunjukkan dinamika dalam hubungan sosial itu, katanya.
Sependapat dengan Mohamad Rapik, Kepala SMA Pondok Pesantren Modern Assalaam Solo, Bambang Arif Rahman mengatakan, ia kini memiliki penilaian yang lebih proporsional tentang Australia setelah melihat langsung kehidupan masyarakat Muslim di negara itu.
Sebelum melihat langsung Australia, ia mengatakan, persepsinya tentang negara ini hanya terbatas pada apa yang ia baca dari laporan-laporan media massa. Bahkan, ia mengaku pernah "sebal" dengan Australia di era pemerintahan John Howard.
"Saya tidak menduga bahwa banyak betul umat Islam di Australia. Restoran Timur Tengah, India, dan Indonesia maupun masjid juga banyak. Selain itu, jilbab masih dibebaskan di Australia. Ini berbeda dengan Perancis yang melarang jilbab," katanya.
Ketiga peserta AIME Gelombang III itu berkesempatan bertemu kalangan akademisi, anggota parlemen, diplomat Indonesia, maupun tokoh agama Kristen, Katolik, Yahudi, dan Muslim Australia yang ada di kota Melbourne, Canberra, dan Sydney.
Selama di Canberra, mereka sempat bertemu Pakar Teologi Universitas Charles Sturt Prof.James Haire, dan Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb.

No comments:
Post a Comment