"Insya Allah kapal sudah bisa berangkat Rabu pagi karena pengecekan ulang terhadap seluruh perangkat kapal selesai besok (Selasa). Pelayaran ke Kupang akan menempuh waktu sekitar lima hari," kata Nakhoda KRI Arung Samudera, Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono, kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Senin.
Sesuai dengan permintaan pihak perusahaan, Atase Laut di KBRI Canberra, Kolonel Laut Eden Gunawan, selaku penanggungjawab perbaikan KRI Arung Samudera akan menyaksikan jalannya pengecekan akhir sebelum kapal meninggalkan perairan Australia, katanya.
"Dijadwalkan, Pak Atase Laut di KBRI Canberra, Kolonel Laut Eden Gunawan, tiba di Darwin dari Canberra Senin malam. Kita pun sudah memesan berbagai 'spareparts' (suku cadang) KRI Arung Samudera yang sulit dicari di Tanah Air sebagai stok," katanya.
Kehadiran ke-19 awak KRI Arung Samudera di Darwin sejak sepekan lalu itu disambut hangat warga Indonesia yang berdomisili di maupun yang kebetulan sedang berkunjung ke ibukota negara bagian Northern Territory (NT) Australia itu.
Mayor Eko Deni mengatakan, pihaknya tidak hanya mendapat kunjungan tetapi juga undangan jamuan makan siang dari sejumlah warga.
"Hari ini kita dijamu makan siang di kediaman Ibu Maimunah Vera Syafiq (diplomat RI di Konsulat RI Darwin-red). Kemarin empat anggota Badan Periksa Keuangan yang sedang berada di Darwin juga menyempatkan diri mengunjungi kita. Mereka didampingi beberapa staf konsulat," katanya.
Selama di Darwin sejak 3 Juni lalu, kapal layar tiang tinggi buatan Selandia Baru ini merapat di Dermaga Pangkalan Angkatan Laut Australia (RAN) setempat.
KRI Arung Samudera berada di Australia sejak tahun lalu. Pelayaran KRI Arung Samudera ke negeri jiran ini dimaksudkan untuk ikut menyemarakkan penyelenggaraan KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik di Sydney pada 8-9 September 2007 bersama enam kapal layar tiang tinggi Australia.
Namun dalam pelayaran dari Cairns ke Brisbane pada 23 Agustus 2007, kapal dihadang badai besar di perairan Teluk Wide, Queensland, dan sempat terdampar di pantai Rainbow sebelum berhasil ditarik ke Brisbane.
Kapal layar ini berada di Queensland, khususnya Brisbane, selama sekitar sembilan bulan untuk proses perbaikan dan pemulihan akibat kerusakan yang dideritanya akibat badai dan cuaca buruk 23 Agustus 2007 itu.
Pada saat kejadian, Badan Meteorologi dan Geofisika Australia mencatat curah hujan di kawasan Rainbow Beach pada saat musibah terjadi mencapai 813 milimeter atau 10 kali lebih besar dari rata-rata curah hujan bulan Agustus. Intensitas curah hujan di kawasan itu selama beberapa hari pada Agustus 2007 merupakan yang terbesar sejak tahun 1880.
Perbaikan kapal berbobot 120 ton yang sebelum dibeli pemerintah RI bernama "Advanture" ini dilakukan di fasilitas dok milik "Viking Industries Limited" Brisbane melalui anak perusahaannya, "Marine Application".
Dalam proses perbaikan, beberapa perlengkapan kapal yang rusak telah diganti dengan yang baru. Di antara yang diganti baru itu adalah "Centre boat" berbobot 3,5 ton, enam layar, dua mesin, generator dan baling-baling tiga daun.
Rute palayaran pulang KRI Arung Samudera dari Australia menuju Tanah Air adalah dermaga RAN "Bulimba" Brisbane-Cairns-Darwin-Kupang dan Surabaya.
Kapal yang dinakhodai Mayor Eko Deni ini meninggalkan Brisbane menuju Cairns tanggal 6 Mei lalu.

No comments:
Post a Comment