Keberatan rakyat terhadap keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang kemudian memicu naiknya harga sembilan bahan pokok dan tarif angkutan lebih disebabkan oleh kekesalan mereka karena ketidakmampuan pemerintah memberikan pelayanan umum yang baik selama ini.Pendapat itu disampaikan Wimar Witoelar, pengamat politik, presenter dan mantan juru bicara kepresidenan di era pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid, kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Selasa.
Menurut Wimar yang tengah berada di Darwin, Australia, reaksi sebagian publik di Tanah Air terhadap keputusan pemerintah menaikkan BBM itu tidak akan seperti ini jika pemerintah bersih dan fungsi pelayanannya kepada rakyat berjalan dengan baik.
"Kalau pemerintah bersih dan 'perform' (berfungsi dengan baik-red), rakyat bisa menerima naiknya harga BBM karena masalah naiknya BBM ini sudah menjadi masalah global dan bahkan menjadi isu dalam Pemilu di Amerika Serikat," katanya.
Hanya saja, yang kerap terjadi adalah "pemerintah sering menyebalkan" sehingga apapun yang dilakukan mendapat sorotan publik secara kritis, kata bekas pengasuh acara "Perspektif" di SCTV sekitar tahun 1994 itu.
Namun, ia tidak setuju dengan apa yang disebutnya "politisasi" masalah BBM di DPR-RI (parlemen) karena persoalan naiknya harga BBM bukan masalah politik. "Politisasi masalah BBM di parlemen ini sangat disesalkan," katanya.
Apa yang justru lebih penting untuk disikapi dan ditangani oleh bangsa adalah persoalan-persoalan substantif seperti radikalisme, katanya.
"Intinya kita mencari pemerintahan yang bersih, dan politisi jangan memancing di air keruh," kata pendiri "Intermatrix Communications" itu.
Terkait dengan isu BBM ini, DPR-RI di Jakarta, Selasa, menggelar sidang paripurna untuk menentukan nasib penggunaan hak angket DPR terhadap kebijakan pemerintah itu, serta interpelasi DPR atas kenaikan harga BBM.
Wimar Witoelar berada di Darwin, ibukota negara bagian Northern Territory (NT), karena diundang sebagai pembicara utama di Forum "North Australia" Australian Broadcasting Corporation (ABC) bersama Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta.
Diskusi panel yang dimoderatori Pemimpin ABC di Darwin, Mark Bowling, itu juga menghadirkan Direktur Penyiaran Nasional Papua New Guinea, Joseph Ealedona.
Wimar, Presiden Horta dan Ealedona mengupas perihal hubungan bertetangga di kawasan Asia Pasifik dan bagaimana mewujudkan impian bersama untuk maju di tengah peluang dan tantangan yang ada.
Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu, dan sejumlah staf Konsulat RI Darwin menjamu Wimar Witoelar sebagai penghormatan atasnya seusai ia berbicara dalam sesi panel yang dipandu oleh Pemimpin ABC untuk Northern Territory, Mark Bowling itu.
*) My news for ANTARA on June 24, 2008

1 comment:
artikel anda :
http://nasional.infogue.com/
http://nasional.infogue.com/keberatan_rakyat_atas_naiknya_bbm_terkait_buruknya_pelayanan_publik
promosikan artikel anda di www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!
Post a Comment