Tuesday, June 24, 2008

INDONESIA DAN AUSTRALIA JADIKAN TIMOR LESTE "TITIK PUSAT" KERJA SAMA

Indonesia, Australia, dan Timor Leste berpeluang besar membangun kerja sama dalam mengembangkan potensi di wilayah tiga negara yang saling bertetangga itu dengan menjadikan Timor Leste sebagai "titik pusat", kata mantan juru bicara kepresidenan RI di era Presiden Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar.

"Timor Leste sebagai titik pusat bermakna bahwa Timor Leste sebagai pusat perhatian dan geografis. Bidang kerja sama yang bisa dikembangkan bersama ketiga negara adalah pendidikan dan budaya," kata Wimar kepada ANTARA yang menghubunginya seusai ia tampil sebagai pembicara di Forum "North Australia" di Darwin, Selasa.

Kawasan timur Indonesia dan kawasan utara Australia merupakan wilayah di dua negara yang relatif tertinggal dan "kurang" diperhatikan pemerintah pusat namun keduanya justru tidak memiliki beban sejarah sehingga sangat terbuka peluang untuk membangun kerja sama tiga negara bersama Timor Leste, katanya.

Dalam konteks ini, Indonesia adalah negara yang justru mempunyai "hutang sejarah" kepada Timor Leste karena, sejak resmi merdeka pada 20 Mei 2002, negara yang pernah menjadi wilayah Negara Kesatuan RI ini menerima Indonesia dengan baik, katanya.

Potensi kerja sama di bidang pendidikan dan budaya itu merupakan sesuatu yang paling mungkin karena, seperti dikatakan Presiden Ramos Horta, ada seribu orang pelajar Timor Leste yang belajar di Kuba sedangkan jumlah mereka yang belajar di Australia hanya beberapa puluh orang saja, katanya.

Selain itu, para mahasiswa Timor Leste pun sudah lama ada di Indonesia, kata Wimar.

Khusus antara Indonesia dan Australia, pemerintah kedua negara perlu lebih mengintensifkan kerja sama di bidang pendidikan, khususnya antara wilayah timur Indonesia dan Northern Territory karena potensi kerja sama itu tidak hanya besar di tingkat perguruan tinggi tetapi juga sekolah menengah, katanya.

Kerja sama pendidikan ini tidak harus selalu bersifat "simetris" melainkan "komplementer" (saling mengisi). Dalam konteks ini, kalau jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia lebih besar, Australia bisa mengimbanginya dengan mengirim warganya untuk melakukan riset atau menjadi staf pengajar di Indonesia.

"Jadi hubungannya jangan simetris tetapi saling mengisi," katanya.

Di Forum "North Australia" yang diselenggarakan Australian Broadcasting Corporation (ABC) itu, Wimar Witoelar tampil sebagai salah seorang penalis bersama Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta dan Direktur Penyiaran Nasional Papua New Guinea, Joseph Ealedona.

Mereka mengupas perihal hubungan bertetangga di kawasan Asia Pasifik dan bagaimana mewujudkan impian bersama untuk maju di tengah peluang dan tantangan yang ada.

Forum yang membahas enam tema utama yang mempengaruhi kemajuan negara bagian Northern Territory, seperti masalah air, masyarakat pribumi, sumberdaya pertambangan, perubahan kependudukan, perdagangan dan hubungan NT dengan negara-negara Asia itu juga diikuti para tokoh asal Australia.

Negara bagian NT merupakan wilayah Australia yang secara geografis paling dekat dengan kawasan timur Indonesia, Timor Leste dan PNG.

Secara kesejarahan, penduduk Aborigin bahkan sudah memiliki hubungan sosial dan kultural dengan para pelaut Makassar jauh sebelum para petualang Inggris, seperti James Cook, datang.

*) My news for ANTARA on June 24, 2008

1 comment:

Unknown said...

nice blog

I wish good luck to you
Come to my blog

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity