Thursday, June 12, 2008

AUSTRALIA KEKURANGAN GURU BAHASA INDONESIA YANG PROFESIONAL

Tantangan terbesar sekolah-sekolah di Australia dalam pengajaran bahasa-bahasa Asia, termasuk bahasa Indonesia, adalah kurangnya jumlah guru yang profesional dan bekerja penuh waktu, kata Indonesianis Universitas Nasional Australia (ANU), George Quinn.

"Kita harus mengusahakan adanya guru-guru yang profesional dan 'full time' (penuh waktu) bukan mereka yang mengajar secara sambilan," katanya kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane belum lama ini sehubungan dengan keinginan pemerintah federal Australia kembali menggairahkan pengajaran bahasa Asia.

Kepala Pusat Asia Tenggara ANU itu mengatakan, masalah yang kini dihadapi banyak sekolah di Australia dalam pengajaran bahasa-bahasa Asia, seperti Indonesia, Mandarin, dan Jepang, adalah para guru kurang menguasai bahasa-bahasa tersebut secara baik.

Akibatnya, mereka kurang percaya diri dan bisa mengajar dengan daya cipta yang baik seperti di masa lalu. "Dulu, guru-guru bahasa Indonesia di Australia misalnya ada yang betul-betul menguasai bahasa Indonesia dengan baik," katanya.

Ditanya apakah kemungkinan pelajaran bahasa selain bahasa Inggris (LOTE) itu akan menjadi mata pelajaran wajib di sekolah, dosen senior di Fakultas Studi-Studi Asia ANU yang merampungkan pendidikan sarjananya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu mengatakan, ia belum melihat adanya kemungkinan tersebut.

Dalam pandangan George Quinn, pengajaran bahasa-bahasa Asia adalah isu yang memang dianjurkan dalam KTT 2020 di Canberra April lalu namun menjadikannya mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah memerlukan proses yang panjang dan akan memicu kontroversi karena dipastikan akan menimbulkan penentangan sebagian siswa.

"Dulu pun, mata pelajaran bahasa asing bukan mata pelajaran wajib," kata Indonesianis yang tertarik pada isu-isu sastra dan budaya kontemporer Jawa ini.

Ditilik dari kondisi riil para siswa Australia yang belajar salah satu bahasa asing, termasuk bahasa-bahasa Asia, hingga kelas 12, jumlahnya cenderung menurun.

Kurang dari 14 persen

Wakil PM Australia, Julia Gillard, yang juga menteri pendidikan dalam kabinet pemerintahan PM Rudd mengatakan, jumlah siswa kelas 12 di Australia yang mempelajari bahasa asing kini kurang dari 14 persen.

Dari jumlah itu, hanya sekitar 5,8 persen yang belajar bahasa-bahasa Asia di kelas 12. Di tingkat universitas, proporsi mahasiswa yang belajar bahasa-bahasa Asia jauh lebih rendah, yakni sekitar tiga persen, katanya.

Kondisi monolingual mayoritas siswa dan mahasiswa Australia itu, katanya, bertolak belakang dengan fakta yang dapat ditemui di Belanda dan Finlandia, kata Gillard dalam pidatonya bertajuk "Leading 21st Century Schools Engage With Asia Forum" 20 Mei lalu.

Di Belanda, jumlah siswa sekolah menengah pertama yang mengambil satu mata pelajaran bahasa asing mencapai 99 persen, dan di Finlandia, para siswa diwajibkan mempelajari tiga bahasa asing di sekolah, katanya.

Kondisi monolingual di Australia umumnya ditemui di kalangan warga kulit putih keturunan "Anglo Saxon" karena mereka tampaknya merasa cukup hanya dengan bahasa Inggris yang telah menjadi bahasa internasional.

Untuk memenuhi kebutuhan diplomasi jangka panjang dan meningkatkan daya saing Australia di abad 21, Menteri Pendidikan Julia Gillard mengatakan, pemerintah federal akan mengalokasikan dana sebesar 62,4 juta dolar dalam empat tahun untuk mendukung Program Nasional Studi dan Bahasa Asia di Sekolah.

"Program ini akan mendukung studi bahasa-bahasa Asia di sekolah lanjutan atas dengan penekanan pada bahasa Jepang, Indonesia, Mandarin, dan Korea,"katanya.

Di seluruh Australia, jumlah siswa yang belajar bahasa Indonesia mencapai 170 ribu orang.

*) My news for ANTARA on June 12, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity