Penyair dan kolumnis perempuan Indonesia, Laksmi Pamuntjak, mengatakan, kebebasan pers dan kebebasan berekspresi merupakan buah gerakan reformasi yang patut disyukuri namun, pada saat yang sama, menjamur sikap intoleran yang mengancam kebhinnekaan bangsa.Sikap intoleran yang boleh jadi merupakan produk dari kebebasan yang dinikmati di era reformasi itu adalah tantangan serius bagi bangsa ke depan, kata penulis yang sedang merampungkan novel terbarunya berjudul "The Blue Widow" itu kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Rabu malam.
Saat dihubungi, Laksmi sedang menghadiri acara makan malam yang diadakan Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu, untuk menghormati Laksmi dan Pendiri Majalah Tempo, Goenawan Mohamad, sebagai dua penulis Indonesia yang diundang dalam Festival Penulis Internasional, "WordStorm" 2008, di Darwin pekan ini.
Pada Rabu siang, ia bersama Goenawan Mohamad dan Jurnalis senior Australia, Mark Bowling, berbagi pengalaman dalam menulis serta berdiskusi tentang perkembangan politik, sosial dan budaya kontemporer Indonesia dengan sekitar 30 orang di forum akademis Universitas Charles Darwin (CDU).
Laksmi mengatakan, sikap intoleran yang sedang berkembang di masyarakat itu dapat dilihat dari kasus-kasus, seperti upaya pemaksaan terhadap pemberlakuan undang-undang anti-pornografi dan pornoaksi dan serangan kelompok masyarakat tertentu terhadap para pengikut Ahmadiyah.
Fenomena intoleransi ini mengancam kebhinnekaan bangsa yang justru merupakan inti dari pembentukan Indonesia. "Indonesia itu adalah kebhinnekaan karena Indonesia adalah sebuah bangsa yang dikonstruksi (dibangun) dari begitu banyak kebhinnekanaan," katanya.
Tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini adalah bagaimana menafsirkan ulang ide di balik konstruksi Indonesia itu, katanya.
Dalam pandangan Laksmi, Indonesia itu tiada lain adalah hasil konstruksi artifisial yang menggabungkan 17 ribuan pulau, empat ratus lima puluhan bahasa serta keragamann ethno-linguistik yang kemudian dipersatukan dengan satu bahasa (bahasa Indonesia-red.), katanya.
Kendati keragaman bangsa Indonesia itu melebur dalam satu bahasa namun jangan sampai ada pemaksaan adanya "nilai tunggal" dalam masyarakat oleh segelintir orang, katanya.
Sementara itu, terkait dengan kehadirannya di Festival WordStorm Darwin yang berlangsung hari Jumat, Sabtu dan Minggu ini, Laksmi Pamuntjak mengatakan, ia akan berbicara di forum yang juga dihadiri belasan penulis dari Australia, Timor Leste, Singapura, dan Selandia Baru.
Laksmi Pamuntjak selama ini dikenal sebagai penyair, penulis puisi prosa dan kolumnis yang produktif. Selain meghasilkan koleksi puisi, ia juga menghasilkan banyak artikel dan kolom berisi ulasan tentang isu-isu politik, film, kuliner, musik klasik, dan sastra di Majalah Tempo maupun penerbitan lain.
Koleksi puisi keduanya bertajuk "Anagram" terbit pada Maret 2007. Pada September tahun yang sama, ia juga berhasil merampungkan terjemahan buku Goenawan Mohamad dalam bahasa Inggris berjudul "On God and Other Unfinished Things".
Sepanjang karir kepenyairannya, ia sudah mengikuti pembacaan karya sastra dan diskusi di banyak kota dunia. Beberapa di antaranya adalah Amsterdam, Paris, New York, Los Angeles, Hong Kong, Singapura, Kuala Lumpur, Kanada, dan kota-kota Australia, seperti Melbourne dan Darwin.
Sebelum mengikuti Festival "WordStorm" 2008 di Darwin, ia telah pun mengikuti beberapa festival sastra internasional di Australia, seperti Festival Sastra Byron Bay dan Festival Puisi Nasional di negara bagian Victoria.
Edisi ketiga dari bukunya berjudul "Jakarta Good Food Guide" (2008-2009) terbit Maret lalu.


No comments:
Post a Comment