"Selama di Australia, Anda semua tidak hanya mahasiswa tetapi juga para 'diplomat' Indonesia di komunitas Anda sendiri. Anda mewakili Indonesia dan Anda harus nyambung dengan kehidupan normal keseharian Australia di sekitar Anda," kata Dubes Thayeb.
Kondisi demikian dipahami sebagai apa yang digambarkan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda sebagai "diplomasi total", katanya di depan para peserta Konferensi Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) di Melbourne, Jumat.
Dalam konferensi untuk menyambut peringatan "100 Tahun Kebangkitan Nasional" dan "10 Tahun Reformasi" itu, Dubes Thayeb menggarisbawahi pentingnya semua pihak, termasuk kalangan mahasiswa, ikut memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Australia.
Konferensi yang berlangsung hingga Sabtu ini juga memberikan kontribusi pada upaya penguatan hubungan tersebut melalui kontak di tingkat masyarakat, katanya.
Para mahasiswa Indonesia berkesempatan berinteraksi secara luas dengan warga masyarakat Australia dan memahami fikiran dan hati mereka sehingga mereka berpeluang besar untuk tumbuh menjadi "Australianis" sekembalinya ke Indonesia, katanya.
"Itulah sebabnya kita harus terus memperluas kontak-kontak (di tingkat masyarakat) kedua negara ini," katanya.
Dubes Thayeb lebih lanjut mengatakan, perdebatan dan usul yang muncul dalam konferensi yang berlangsung di kampus Universitas Victoria ini diharapkan memunculkan solusi atas berbagai persoalan bangsa, termasuk bagaimana membuat Indonesia yang lebih baik dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.
"Apa yang menyatukan kita di konferensi ini adalah sikap optimis bahwa Indonesia bisa melakukan lebih baik karena kita sedang menuju arah yang benar. Namun kita tetap memerlukan pemikiran dan ide baru serta bekerja keras untuk mencapai cita-cita (sebagai bangsa)," katanya.
Konferensi PPIA yang turut dihadiri Wakil Rektor Universitas Victoria Prof. Linda Rosenman dan Konjen RI di Melbourne, Budiarman Bahar, itu menghadirkan sejumlah pembicara.
Mereka adalah Bupati Sragen Untung Wiyono, Indonesianis Universitas Victoria, Prof. Richard Chauvel, Prof.Arief Budiman (Universitas Melbourne), Chusnul Mar'iyah, PhD (Universitas Indonesia), Elfansuri Chairah, SIP (Universitas Murdoch), Luky Djani (Universitas Murdoch), dan Nani Pollard (Universitas Melbourne).
Konferensi yang mengusung "the voice of Indonesian future leaders' (suara para pemimpin masa depan Indonesia) itu berlangsung hingga Sabtu dan diisi dengan pemutaran film serta pameran foto dan karya seni.
Kebangkitan nasional yang resmi diperingati pada 20 Mei setiap tahun itu merujuk pada peristiwa sejarah tahun 1908, sedangkan 10 tahun reformasi berhubungan dengan berakhirnya era pemerintahan Orde Baru yang ditandai dengan pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
*) My news for ANTARA on May 2, 2008

No comments:
Post a Comment