Friday, May 2, 2008

CINTA AUSTRALIA PADA BALI DAN GELIAT PROMOSI "VIY" 2008

Oleh Rahmad Nasution

Gaung Tahun Kunjungan Wisata Indonesia (VIY) 2008 di Australia "nyaris tak terdengar" sampai penghujung 2007. Geliatnya baru berangsur-angsur terasa dalam empat bulan terakhir ini di berbagai ajang pameran dan promosi di negara benua itu.

Kantor-kantor perwakilan RI di Australia kini seakan berlomba untuk memompa kesadaran dan pengetahuan publik negeri itu tentang eksistensi VIY 2008 melalui berbagai kegiatan pameran dan promosi di tengah kurang bergaungnya iklan VIY 2008 di media cetak dan elektronika utama Australia.

Melalui kerja sama dengan Garuda Indonesia, biro perjalanan, dan unsur masyarakat Indonesia di negara itu, kantor KBRI, Konjen dan Konsulat RI di Canberra, Sydney, Melbourne, Darwin, dan Perth memanfaatkan berbagai acara pameran yang ada disamping menyiapkan pula "panggung" sendiri untuk berpromosi.

Dalam empat bulan pertama 2008, setidaknya sudah empat kali Indonesia hadir dalam acara-acara besar, yakni Festival Alice Springs di Northern Territory, Festival Indonesia di Adelaide, serta "travel mart" (promosi pariwisata) di Brisbane dan Melbourne.

Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu, kepada ANTARA mengatakan, pihaknya sejak awal sudah mengagendakan promosi VIY 2008 dalam setiap kesempatan, termasuk acara tahunan Australia di Alice Springs yang berlangsung dari 28 Februari hingga 1 Maret lalu.

"Kita bekerja sama dengan kantor Garuda di Darwin dan warga kita yang ada di Alice Springs untuk membuka gerai Indonesia. Di situ kita memperkenalkan beragam potensi perdagangan dan pariwisata, serta kekayaan seni budaya kita," katanya.

Pariwisata Bali masih menjadi andalan. Untuk menarik perhatian pengunjung, gerai Indonesia di Alice Springs itu pun tetap menonjolkan kharisma "Bali" mengingat pulau dewata itu sudah demikian melekat di benak banyak warga Australia di manapun.

Sambutan pengunjung terhadap gerai Indonesia, kata Napitupulu, relatif baik dan tidak hanya datang dari orang-orang setempat melainkan juga dari Menteri Kepala negara bagian NT, Paul Raymond Henderson dan Menteri Ekonomi NT, Kon Vatskalis.

"Sebagai ajang promosi 'Visit Indonesia Year' 2008, kita sudah pula menjadwalkan keikutsertaan kita di Festival Darwin pada 14 - 31 Agustus serta 'Sail Indonesia' pada 5 Juli dan 26 Juli," katanya.

Promosi VIY 2008 yang menargetkan kedatangan tujuh juta orang wisatawan mancanegara itu juga mewarnai Festival Indonesia (Indofest) pertama yang berlangsung di kawasan taman kota "Rymill Park" Adelaide, Australia Selatan, 13 April lalu.

Berbeda dengan acara di Alice Springs dan Adelaide yang cenderung menempatkan promosi VIY 2008 bukan sebagai fokus utama, gaung promosi khusus VIY 2008 di Australia baru kelihatan terfokus pada kesertaan Indonesia di "travel mart" Brisbane dan Melbourne.

Pada pameran pariwisata (travel mart) internasional yang berlangsung di Gedung Konvensi dan Eksibisi Brisbane, negara bagian Queensland, pada 29-30 Maret 2008, gerai Indonesia sempat dikunjungi lebih dari dua ribu orang pengunjung.

Berselang 13 hari setelah "travel mart" di Brisbane itu, Konsulat Jenderal RI di Melbourne juga mengikuti ajang promosi pariwisata internasional yang berlangsung dua hari di gedung Pusat Pameran Melbourne untuk mendukung promosi VIY 2008.

Minister Counsellor/Ekonomi KJRI Melbourne, Jahar Gultom, mengatakan, pihaknya menyiapkan 12 ribu brosur pariwisata Indonesia selama pameran yang juga diikuti ratusan gerai milik industri pariwisata Australia dan mancanegara ini.

Selain menyediakan belasan ribu brosur yang memuat berbagai informasi tentang destinasi wisata andalan dan potensial Indonesia, gerai KJRI Melbourne juga menyuguhkan tari-tarian Bali dan Sumatera Barat untuk menarik pengunjung.

"Travel Mart" di Melbourne itu, katanya, juga dimanfaatkan pihaknya untuk mempromosikan Festival Indonesia 2008 yang akan berlangsung Agustus mendatang.

Keikutsertaan Indonesia di kedua pameran pariwisata di Australia itu berada di bawah payung Pusat Promosi Pariwisata ASEAN (APCT) bersama dengan Filipina, Thailand, Singapura, dan Malaysia.

Dari pengalaman promosi pariwisata Indonesia di Australia, termasuk di dua "travel mart" tersebut, Bali tetap dijadikan "magnet" pintu gerbang Nusantara.

Bahkan gerai Indonesia di ajang "travel mart" Brisbane dihiasi dengan ornamen-ornamen yang khusus didatangkan dari Pulau Bali.

Kabid Penerangan Konsulat Jenderal RI di Sydney, Minister Counsellor Pratito Soeharyo, yang ikut dalam promisi VIY 2008 di Brisbane, mengatakan, pihaknya sengaja menempatkan Bali di barisan terdepan promosi pariwisata Indonesia karena kharisma Bali sudah demikian kuat apalagi kalau Indonesia berpromosi dengan banyak negara lain.

"Kita memang tetap menjadikan Bali sebagai daya tarik utama Indonesia dalam pameran wisata untuk menyongsong musim libur musim dingin ini," katanya.

"Bali" dan "Go Beyond"

Tetapi penempatan Bali sebagai lokomotif dalam strategi promosi pariwisata Indonesia di Australia tidak berarti bahwa dukungan bagi "Go Beyond Bali" diabaikan.

Dalam pameran pariwisata di Brisbane itu, Pratito mengatakan, pihaknya mengandalkan potensi "eco-tourism" (eko turisme) mengingat sekitar 60 persen dari pengunjung pameran adalah para orang tua dan pensiunan yang menginginkan suasana berlibur yang tenang, bersih, aman, dan nyaman.

"Kita berharap daerah-daerah kita siap dengan semua tuntutan itu," katanya.

Karena itu, selain menawarkan paket-paket wisata Bali, pihaknya juga mencoba untuk mengenalkan potensi daerah tujuan wisata Nusantara di luar Bali dan Lombok.

Tema "Go Beyong Bali" itu sesuai dengan tujuan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan (stake holders) industri pariwisata nasional untuk membangun citra kebinnekaan Indonesia, katanya.

Para pengunjung gerai Indonesia di Brisbane Maret lalu itu juga diperkenalkan dengan daerah-daerah tujuan wisata potensial yang tersebar mulai dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Utara, hingga Sumatra.

Dua di antaranya adalah Bunaken di Sulawesi Utara dan Danau Toba di Sumatera Utara, katanya.

Berbekal pengalaman suksesnya dalam memperkenalkan Program "Discover Indonesia" (Temukan Indonesia) bersama rekan-rekannya saat bertugas di kantor perwakilan RI di salah satu negara Eropa antara tahun 1996 dan 2000, Pratito pun akan menggelar program yang sama di Australia akhir Juli 2008.

Saat bertugas di Eropa dulu, ia bersama diplomat RI lainnya memperkenalkan potensi pariwisata Indonesia kepada para wisatawan Hongaria, Kroasia, Bosnia, dan Slovenia dengan menggandeng biro perjalanan wisata Rusia.

Diplomat senior ini mengatakan, KJRI Sydney dan Garuda Indonesia akan menggelar "Discover Indonesia" bagi para pelaku industri pariwisata dan media massa Australia untuk memperkenalkan potensi pariwisata Nusantara di luar Bali.

Program "Discover Indonesia" yang direncanakan berlangsung dua minggu ini akan diikuti para wakil dari 20 biro perjalanan wisata yang membuat paket-paket perjalanan wisata serta beberapa jurnalis televisi dan suratkabar.

"Kita akan mengarahkan mereka pada potensi eko-turisme yang ada di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua," katanya.

Pratito berharap beberapa gubernur yang disurati KJRI Sydney terkait dengan program "Discover Indonesia" ini responsif dan bersiap diri untuk menonjolkan satu atau dua obyek wisata unggulan daerah mereka masing-masing.

"Kita ingin masing-masing daerah menonjolkan satu atau dua destinasi wisata yang benar-benar 'proper' (siap) untuk dikunjungi turis asing," katanya.

Kesiapan suatu obyek wisata yang akan masuk dalam destinasi program "Discover Indonesia" itu tidak hanya diukur dari obyek wisatanya semata tetapi juga akomodasi dan transporasi, katanya.

"Alat transportasi yang dimaksud tidak harus selalu berarti baru. Alat transportasi yang antik asal 'safe' (memenuhi standar keselamatan-red) juga oke."

Unsur keselamatan dan kenyamanan sangat penting mengingat para peserta program ini adalah para wakil biro-biro perjalanan wisata utama yang ada di Brisbane, Sydney, Adelaide, Cairns, Townsville, dan kota-kota lain yang ada di Queensland, New South Wales, dan Australia Selatan, katanya.

Beberapa obyek wisata seperti taman laut Bunaken, cagar alam Banten, pusat preservasi orangutan Kalimantan, Danau Toba Sumatera Utara, dan destinasi wisata yang ada di sekitar Bandung, Malang, dan Yogyakarta dipertimbangkan sebagai destinasi program ini.

Terlepas dari adanya semangat mengusung "Go Beyond Bali" dalam momentum VIY 2008 di Australia, segmen pasar negeri jiran yang sudah sedemikian mengenal Bali cenderung tetap menempatkan pulau dewata itu sebagai daerah tujuan utama mereka berlibur.

Dalam konteks ini, ketersediaan rute penerbangan langsung yang menghubungkan kota-kota utama di Australia dengan Denpasar dan Jakarta agaknya sudah menjadi keharusan.

Bagi warga Australia yang berdomisili di Brisbane, ibukota negara bagian Queensland, keputusan Garuda Indonesia menutup layanan rute penerbangan langsung Brisbane-Denpasar dirasakan mengganggu minat mereka untuk berlibur ke Indonesia, khususnya Bali.

Pratito mengakui hal itu. Ia mengatakan, banyak warga Australia yang mengunjungi gerai Indonesia di "travel mart" Brisbane menanyakan kapan Garuda kembali membuka rute penerbangan langsung Brisbane-Denpasar-Jakarta.

Mendapat pertanyaan seperti itu, ia hanya bisa menjelaskan bahwa Garuda Indonesia akan kembali melayani rute penerbangan langsung Brisbane-Denpasar-Brisbane tersebut jika jumlah pesawat yang dimiliki Garuda sudah memadai.

Tuntutan penerbangan

Munculnya pertanyaan sebagian pengunjung pameran wisata internasional di Brisbane tentang penutupan rute penerbangan langsung Garuda Indonesia itu mengisyaratkan adanya perhatian mereka terhadap Bali dan Indonesia, katanya.

Penelusuran ANTARA pun mendapati adanya dampak negatif terhadap daya saing pariwisata Indonesia, khususnya Bali, akibat dari keputusan Garuda Indonesia menghentikan rute penerbangan langsungnya dari Brisbane ke Denpasar sejak 13 Januari 2007 itu.

Setidaknya hal ini pernah diakui oleh Operator "Student Flight" di kawasan St.Lucia, Andrew Ellison. Ia mengatakan, sejak Garuda Indonesia menghentikan rute penerbangan langsungnya itu, para turis Australia dan mancanegara dari Brisbane cenderung lebih memilih berwisata ke Bangkok, Thailand, daripada Bali.

"Bagi para turis 'back packer' (turis dengan kantong mahasiswa) lebih murah berlibur ke Thailand daripada Bali akibat tak adanya lagi penerbangan langsung Garuda Indonesia ke Denpasar dari Brisbane. Mereka yang ingin ke Bali harus terbang lewat Sydney atau Darwin," katanya dalam sebuah perbincangan Agustus 2007 lalu.

Kondisi ini sangat tidak praktis karena mereka harus mengeluarkan uang setidaknya 1.200 dolar Australia untuk penerbangan PP. Dengan biaya tiket sebanyak itu, berlibur ke Bangkok, Thailand, justru lebih murah.

Ketika Garuda masih melayani rute penerbangan langsung Brisbane-Denpasar, tiket PP maskapai penerbangan ini tergolong "murah", yakni hanya sekitar 500 dolar Australia, katanya.

Dari segi kepercayaan pasar Australia terhadap Bali pasca-insiden bom Bali 2005, Perwakilan Garuda Indonesia di NT, Sahrul Tahir, pernah mengatakan bahwa kepercayaan tersebut sudah semakin pulih.

"Pada periode Januari-Agustus 2007, Garuda sudah mengangkut sedikitnya 9.000 orang penumpang dari Darwin. Jumlah ini meningkat sekitar 48 persen dibandingkan jumlah penumpang pada periode yang sama tahun lalu," katanya.

Kecenderungan positif pasar Australia terhadap pariwisata Indonesia, khususnya Bali, tidak hanya terjadi di Darwin, Northern Territory, tetapi juga di negara bagian Victoria.

Di tengah masih diberlakukannya "Peringatan Perjalanan" (Travel Advisory) terhadap Indonesia oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia, arus pengunjung asal Victoria ke Bali juga meningkat.

Mengutip data statistik kunjungan warga Australia ke Indonesia, Konsul Jenderal RI di Melbourne, Budiarman Bahar, mengatakan, jumlah mereka itu meningkat dari 194.736 orang pada 2006 menjadi 282.516 orang pada 2007.

"Sebagian orang Australia sudah melihat perkembangan Indonesia jauh lebih baik sehingga 'travel advisory' tidak lagi dianggap sebagai hambatan melainkan hanya sebuah peringatan pemerintah untuk warganya saja," katanya.

Sejauh ini, sebagian besar turis Australia masih menjadikan Bali sebagai tujuan utama mereka berlibur dan bahkan pertumbuhan jumlah mereka yang memilih Bali tetap relatif besar, katanya.

"Pada 2007, terdapat 204 ribu orang turis Australia ke Bali atau naik dibandingkan tahun 2006 yang tercatat sebanyak 137.000 orang. Data Garuda Indonesia di Melbourne pun menunjukkan adanya kenaikan jumlah penumpang yang sangat signifikan (untuk rute Melbourne-Denpasar.red) pada 2007," katanya.

Kenaikan jumlah penumpang maskapai penerbangan nasional itu mencapai 65 persen. Kondisi ini menunjukkan pasar Australia masih sangat potensial untuk dikembangkan.

Asuransi dan promosi media

Untuk menyiasati kendala "travel advisory" itu, Budiarman Bahar mengharapkan peran aktif perusahaan asuransi di Indonesia dalam ikut mendorong jumlah wisatawan Australia ke Tanah Air melalui kesediaan mereka memasukkan turis Australia sebagai tertanggung asuransi selama kunjungan.

"Saya mengimbau asuransi Indonesia mau 'meng-cover' para turis Australia yang akan ke Indonesia karena problem kita adalah asuransi di Australia tidak mau meng-cover mereka gara-gara 'travel advisory'," katanya.

Dibandingkan negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) lainnya, seperti Thailand dan Singapura, Indonesia kalah agresif dari mereka dalam menjual keunggulan pariwisata di pasar Australia.

Keagresifan kedua negara anggota ASEAN itu terlihat dari besarnya iklan pariwisata mereka di media massa Australia, namun khusus bagi Bali, sejumlah media Australia justru membantu "promosi" lewat tayangan khusus, iklan perusahaan, dan pemberitaan mereka.

Terjaganya keamanan dan menguatnya nilai tukar dolar Australia terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan Rupiah ditengarai Pengamat pariwisata Bali yang juga pakar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Queensland (UQ), I Nyoman Darma Putra, PhD., sebagai dua faktor utama di baliknya geliat promosi Bali di media setempat.

Darma Putra mengatakan, media cetak dan elektronika di Australia mempromosikan Bali dalam beragam konteks sebagaimana dapat dilihat dari iklan perusahaan penerbangan "Jet Star" yang menyebut-nyebut Bali dan ABC yang menyiarkan Subak.

"Selain itu, TV SBS (Special Broadcasting Service) juga menyiarkan sisi adat Bali di acara 'Global Village'-nya minggu lalu. Harian Sydney Morning Herald (SMH) menurunkan tulisan di rubrik 'Travel'-nya tentang berwisata ," katanya.

Penulis Buku "Tourism, Development and Terrorism in Bali" (London, Ashgate 2007) itu bahkan melihat artikel Kay O'Sullivan yang dimuat di rubrik "Travel" SMH edisi 29 Maret 2008 tersebut sebagai cerminan dari "betapa Bali tetap menjadi magnet bagi para wisatawan Australia".

Sullivan sendiri memperkirakan jumlah wisatawan Australia ke Bali sepanjang 2008 bisa naik menjadi 267.500 orang atau setara dengan jumlah wisatawan Australia ke Bali tahun 2004 atau jauh melebihi jumlah tahun 2006 (137 ribu) dan 2007 (204.473).

Himbauan kepada DFAT agar meninjau kembali status "travel advisory" terhadap Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya tidak hanya terus-menerus disuarakan para diplomat Indonesia, tetapi juga disuarakan oleh orang-orang Australia sendiri.

Warga Australia yang bergerak di sektor industri pariwisata Bali yang disebut Sullivan sebagai pulau wisata yang indah itu misalnya juga telah meminta pemerintah Australia untuk menurunkan level "travel advisory" bagi Indonesia dari empat ke tiga.

Adrian Forsyth, pengelola Bali Garden Hotel di Tuban dan Samsara Hotel dan Spa di Kuta, misalnya, merujuk pada fakta dimana DFAT sudah menurunkan level "travel advisory" terhadap Kenya dari empat ke tiga.

Level empat dalam peringatan perjalanan DFAT itu berarti warga negara Australia yang ingin bepergian ke luar negeri diminta untuk "mempertimbangkan kembali keperluannya berkunjung" sedangkan level tiga berarti "diminta untuk waspada".

Argumentasi Adrian Forsyth lainnya adalah fakta bahwa banyak hal yang telah dan terus dilakukan pemerintah daerah di Bali untuk menjaga daerah-daerah tujuan wisata utama mereka tetap aman bagi para turis.

Pengusaha Australia di Bali ini mengatakan bahwa pejabat pemerintah di Bali juga secara reguler mengecek semua daerah pemukiman di sana guna memastikan bahwa semua orang yang tinggal di kawasan pemukiman tersebut adalah para warga yang berhak.

Berbagai pos polisi dan pos pemeriksaan kendaraan pun didirikan di banyak jalan menuju daerah Kuta/Legian, kata Forsyth.

Menurut Darma Putra, apa yang ingin ditekankan Forstyh dalam artikel SMH itu adalah fakta bahwa keamanan Bali terjaga baik.

Hanya saja, kecenderungan naiknya jumlah wisatawan Australia ke Bali di tengah menguatnya nilai tukar dolar Australia terhadap rupiah dan terjaganya keamanan Pulau Dewata itu sepatutnya diimbangi dengan ketersediaan rute penerbangan langsung, katanya.

"Kendalanya memang pesawat langsung yang terbatas dan tidak ada dari semua 'state' (negara bagian). Dari Brisbane tak ada ke Bali langsung seperti dulu. Garuda diharapkan segera mengisi kekosongan sehingga lebih banyak lagi warga Australia bisa melenggang dengan gampang ke Bali," katanya.

Di tengah keterbatasan yang ada, dampak positif dari geliat promosi VIY 2008 sudah mulai terlihat dalam tiga bulan pertama 2008.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) RI di Jakarta menyebutkan sudah ada 1,405 juta orang pengunjung mancanegara yang masuk Indonesia dari semua pintu masuk.

Jumlah ini meningkat sebanyak 502.041 orang atau naik 13,30 persen dibandingkan jumlah pengunjung pada periode yang sama tahun 2007 yang tercatat 1,214 juta orang.

Data Depbudpar RI itu menunjukkan perjuangan Indonesia masih panjang untuk bisa menggapai target tujuh juta orang wisatawan mancanegara hingga akhir tahun ini. Untuk mencapai target tersebut, kreativitas dan agresifitas berpromosi menjadi penting.

Ketersediaan layanan rute penerbangan langsung yang menghubungkan kota-kota utama Indonesia dan dunia, termasuk Australia, adalah bagian dari strategi promosi yang kreatif dan agresif itu disamping terus menjaga dan meningkatkan faktor keamanan, keselamatan, kenyamanan, keunggulan daerah tujuan wisata serta keramah-tamahan rakyat.

Dampak positif dari pencanangan 2008 sebagai Tahun Kunjungan Pariwisata itu sendiri bisa jadi baru akan terlihat setahun kemudian karena seperti yang pernah disampaikan Konjen RI di Melbourne, Budiarman Bahar, idealnya setahun sebelum VIY diluncurkan, gaungnya sudah didegungkan kemana-mana melalui berbagai sarana dan prasarana promosi, termasuk kegiatan Indonesia di dalam dan luar negeri.

Di mata Budiarman Bahar, kendati jumlah penduduknya hanya 21 juta jiwa, pasar Australia tak patut dianggap enteng dan apalagi diabaikan oleh Indonesia.

*) My news-writing for ANTARA on May 3, 2008

1 comment:

Dennis said...

weleh2, panjang banget...

pokoknya Visit Indonesia 2008 deh wkowkwo, gw liat videonya di youtube..

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity