Friday, May 9, 2008

INDONESIA PERLU KIRIM PELATIH SILAT KE AUSTRALIA

Presiden Persekutuan Silat Antar Bangsa (PERSILAT) Edy M. Nalapraya mengatakan seni bela diri pencak silat akan semakin berkembang di Australia jika pemerintah RI mau mendukung pengiriman para pelatih bermutu dari Tanah Air.

"Jika pemerintah mendukung, saya akan kirim pelatih secara bergiliran ke sekolah-sekolah di Australia," katanya kepada ANTARA sehubungan dengan misi Persilat memperkenalkan seni bela diri ini di kalangan para siswa dan pencinta seni bela diri di negara bagian Victoria.

Setelah melakukan eksibisi di empat sekolah di Warnambul, Bendigo, Marusna, dan Echuca, pada 6-8 Mei, pada Jumat pagi dan sore, tim Persilat beranggotakan 19 orang pesilat yang dipimpin langsung Edy M Nalapraya menggelar eksibisi di "Aula Kota" Melbourne.

Edy mengatakan, pencak silat sebagai seni bela diri warisan budaya Indonesia bisa semakin berkembang di Australia jika pola pengembangannya bisa seagresif Vietnam.

Di Vietnam, pencak silat sudah demikian berkembang dan bahkan seni bela diri ini dapat dijumpai di seluruh provinsi di negara itu karena Indonesia dulu mengirim pelatih silat ke sana. "Bagaimana pun Indonesia wajib mengirim pelatih ke Australia seperti yang dilakukan untuk Vietnam dulu," katanya.

"Persilat adalah sukarelawan, dan kita siap membantu diplomasi publik Indonesia," katanya.

Kehadiran tim Persilat di Melbourne merupakan kerja sama Persilat dengan KJRI Melbourne dan pengurus silat di kota itu.

Sebelum tampil di Melbourne, tim Persilat yang dipimpinnya juga melakukan misi yang sama di beberapa sekolah dan sebuah universitas di Perth, Australia Barat. Australia adalah salah satu dari 54 negara anggota Persilat.

Di negara benua ini, seni bela diri pencak silat sudah relatif lama hadir.

Kelompok pesilat dari Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai-Diri (Kelatnas PD) yang didirikan Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo di Surabaya pada 2 Juli 1955 misalnya sudah mendirikan komisariat Australia sejak 1979.

Kini Kelatnas PD memiliki cabang di Tarragindi, Logan, Gold Coast, Springbrook, Gympie, Townsville, Noosaville, dan Yandina (Queensland), Byron Bay, Newcastle dan Sydney (New South Wales), Melbourne (Victoria), Highgate (Australia Selatan), dan Perth (Australia Barat).

*) My news for ANTARA on May 9, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity