Thursday, May 8, 2008

100 BEASISWA BARU "MANDALAWANGI" BAGI SISWA MISKIN INDONESIA

Sekelompok anak muda Indonesia di Canberra, Australia, yang tergabung dalam Kelompok "Mandalawangi" menyiapkan 100 beasiswa bagi para pelajar kurang mampu di Tanah Air dalam rangka peringatan "100 Tahun Kebangkitan Nasional" dan "10 Tahun Reformasi".

Dr.Teddy Mantoro, ilmuwan Indonesia yang bekerja bagi Universitas Nasional Australia (ANU) dan salah seorang pegiat "Mandalawangi", kepada ANTARA, Jumat, mengatakan, penyaluran beasiswa itu diprioritaskan bagi anak-anak miskin, korban konflik, bencana alam, yatim piatu, dan yang tinggal di daerah-daerah terpencil.

"Beasiswa ini hanya menanggung biaya sekolah dan akan diberikan multi-tahun hingga siswa yg bersangkutan lulus sekolah (berijazah). Prestasi sekolah tidak menjadi pertimbangan. Siswa yang tidak naik kelas akan tetap mendapat beasiswa," katanya.

Teddy Mantoro mengatakan, para pegiat Mandalawangi di Canberra memperoleh dana untuk menjalankan program beasiswanya, termasuk program beasiswa bagi 100 orang siswa SD, SMP,dan SMA dari keluarga kurang mampu ini, dari hasil berjualan makanan dan kartu telepon.

Selain itu, ada sedikit dana hasil penyaluran zakat maal maupun donasi dari beberapa warga Canberra namun jumlahnya tidak besar. Hasil pengumpulan dana terbesar justru berasal dari penjualan berbagai jenis kartu telepon internasional, katanya.

Sejak berdiri enam tahun lalu, pihaknya konsisten dengan upaya mandiri dari berjualan makanan dan kartu telepon untuk mendapatkan dana bagi kegiatan sosial organisasi. Pihaknya menghindari cara meminta-minta ke teman-teman Indonesia maupun lembaga-lembaga di Australia dalam mendapatkan dana, katanya.

"Para tenaga penjual kartu telepon adalah sukarelawan dari berbagai latar belakang agama. Ada yang Muslim, Katolik, Kristen, dan Hindu. Yang jadi aktivis partai politik juga ada, tapi kita mencoba tidak membawa kotak-kotak pembeda tersebut untuk menghasilkan sesuatu yg kecil, tapi jalan terus," kata Teddy.

Selama hampir enam tahun berjalan, terkumpul 36 orang sukarelawan Mandalawangi Canberra namun yang benar-benar aktif ada 16 orang. "Alumni perjual kartu telepon ini rata-rata adalah mahasiswa Indonesia di Canberra yg saat ini menyandang gelar doktor (PhD/S3) dan master (S2) dari berbagai universitas di Canberra," katanya.

Sejauh ini, pihaknya sudah menyalurkan beasiswa kepada 263 orang siswa dengan dana dari hasil kerja para pegiat yang bekerja secara ikhlas selama bertahun-tahun. Mereka itu antara lain berasal dari Aceh, Serui dan Wamena (Papua), Yogyakarta, Bogor, Nagari Paninggihan, dan Pangandaran, katanya.

Dengan uang 100 dolar Australia atau setara dengan lebih dari Rp800 ribu, seorang anak sudah bisa terbantu biaya sekolahnya selama setahun, katanya.

Terkait dengan program 100 beasiswa dalam rangka "100 Tahun Kebangkitan Nasional dan 10 Tahun Reformasi" itu, ia mengatakan, pihaknya sudah meminta para pembeli kartu telepon melalui pegiat Mandalawangi ikut mengusulkan nama para calon penerima beasiswa.

"Usul itu dapat dikirim ke alamat email scholarship@mandalawangi.com hingga tanggal 7 Juni 2008. Penerima beasiswa ini akan diumumkan pada tanggal 10 Juni 2008 dan pengiriman dana pada akhir Juni 2008," katanya.

*) My news for ANTARA on May 9, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity