Saturday, May 10, 2008

DEPUTI GUBERNUR BI DAN MAHASISWA INDONESIA SOROTI ISU KRISIS ENERGI

Krisis energi dan pangan dunia yang dampaknya kini turut dirasakan Indonesia mengemuka dalam acara silaturrahmi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ardhayadi Mitroatmodjo, dengan belasan mahasiswa Indonesia di Brisbane, Sabtu malam.

Dalam acara yang berlangsung di Restoran "Jakarta" Brisbane itu, ia mengatakan, masalah krisis pangan dan energi ini sebenarnya sudah pernah diprediksi dalam sebuah seminar di London saat ia bertugas sebagai kepala perwakilan BI di sana dua tahun lalu.

"Isu krisis energi dan pangan dunia sudah pernah kita angkat dalam seminar di London dua tahun lalu," katanya.

Dalam menghadapi krisis energi ini, Inggris dan negara-negara Eropa tampak sudah lebih siap karena mereka sudah mengantisipasinya sejak lama melalui pengembangan sumber-sumber energi alternatif serta riset-riset terpadu di antara negara-negara itu, katanya.

Pengalaman negara-negara Eropa yang pernah "shock" (terpukul) dengan melambungnya harga minyak bumi tahun 1970-an telah mendorong mereka untuk berfikir keras dalam merumuskan strategi pengamanan energi jangka panjang mereka, katanya.

Perancis misalnya mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir, sedangkan Spanyol memanfaatkan energi matahari secara luar biasa disamping pengembangan sumber-sumber bahan bakar nabati (biofuel), katanya.

"Pendekatan ini membuat mereka lebih siap dalam menghadapi krisis energi sekarang," kata Ardhayadi yang menduduki jabatan Deputi Gubernur BI sejak 29 November 2007 itu.

Dalam persoalan "biofuel", Laporan Randy Schnepf, spesialis masalah kebijakan pertanian, bertajuk "Kebijakan Bahan Bakar Nabati Uni Eropa dan Pertanian: Sebuah Tinjauan" tahun 2006, menyebutkan, pada 2004, Uni Eropa memproduksi sekitar 768 juta galon bahan bakar nabati.

Bagi para mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Australia, pengalaman Australia dalam mengembangkan sumber-sumber energi alternatif untuk mendukung keamanan energi dan pangannya bisa dijadikan masukan bagi Indonesia, katanya.

Acara silaturrahmi Ardhayadi Mitroatmodjo dengan 16 orang mahasiswa Indonesia itu digagas Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Universitas Queensland (UQISA).

Selama di Australia, Ardhayadi dijadwalkan menghadiri konferensi tentang pengawasan keuangan dalam konteks prospek ekonomi Australia di Sydney, Selasa (13/5).

*) My news for ANTARA on May 10, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity