Thursday, May 1, 2008

AUSTRALIA TANGKAPI KAPAL-KAPAL NELAYAN RI DI WILAYAH INDONESIA

Kapal-kapal patroli Australia yang mengawal perairan utara negara itu kini cenderung menangkapi kapal-kapal nelayan Indonesia saat para nakhoda dan para awaknya masih merasa berada di dalam wilayah perairan Indonesia.

Dari 24 hingga 26 April 2008, sudah 14 perahu dan kapal nelayan Indonesia yang ditangkap otoritas Australia dengan jumlah awak kapal dan nakhoda yang mendekam di pusat penahanan Darwin, Northern Territory (NT), mencapai 264 orang, kata Konsul RI di Darwin, Harbangan Napitupulu.

"Sekarang ini ada kecenderungan kapal-kapal nelayan kita ditangkap di wilayah 'seabed line' (garis bentang perairan laut) Australia tapi nelayan-nelayan kita umumnya masih merasa berada di dalam perairan kita," katanya kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Kamis.

Napitupulu mengatakan, tampaknya ada kebingungan dan ketidaktahuan para nelayan Indonesia yang berasal dari 14 kapal ikan yang April lalu ditangkap itu mengenai kejelasan batas perairan mana mereka masih boleh menangkap ikan padahal mereka umumnya sudah melaut selama puluhan tahun di perairan yang sama.

"Sepertinya ada ketidaktahuan nelayan-nelayan kita mengenai kejelasan batas mana mereka boleh menangkap ikan padahal nelayan-nelayan kita itu sudah puluhan tahun melaut dan dulu tidak ada masalah. Kenapa sekarang jadi masalah?" katanya mengutip pengakuan sejumlah nelayan yang ditahan.

"Ini kecenderungan penangkapan (pihak Australia) yang agak mengherankan," katanya.

Napitupulu kemudian mengambil contoh pengakuan La Bara, nakhoda kapal "Kembar Jaya" yang ditangkap kapal patroli Australia pada 25 Maret 2008.

Perahu sirip hiu asal Pulau Buton, Sulawesi Selatan, yang dilengkapi perangkat "Global Positioning System" (GPS) itu ditangkap di saat nakhodanya merasa masih berada di dalam perairan Indonesia, katanya.

"La Bara sudah dipulangkan pihak Australia ke Indonesia via Kupang hari Selasa (29/4). Sebelumnya, ke-empat anak buahnya pun sudah dipulangkan," katanya.

Napitupulu mengatakan, pihaknya sempat mengupayakan agar dia mendapat izin otoritas Australia untuk tetap berada di Darwin guna memperjuangkan keyakinan dan haknya secara hukum namun pihak pengadilan tidak setuju kalau dia berada di pusat penahanan lebih lama.

Sesaat sebelum pulang, La Bara telah memberi kuasa hukum untuk melakukan penuntutan ganti rugi kepada pemerintah Australia kepada biro bantuan hukum yang bekerja sama dengan Colin Mcdonald, pengacara senior Australia yang selama ini menaruh perhatian besar pada Indonesia dan nasib nelayan Indonesia, katanya.

Mengenai nasib perahunya, Napitupulu mengatakan, seperti biasa, semua kapal nelayan Indonesia yang terbuat dari bahan kayu langsung dibakar di perairan di mana mereka ditangkap setelah nakhoda dan para ABK dinaikkan ke kapal patroli Australia.

"Perahu yang dinakhodai La Bara ini pun dibakar 'on the spot' (di tempat)," katanya.

Pembakaran terhadap perahu-perahu nelayan Indonesia yang berbahan kayu dilakukan otoritas Australia, katanya, dilakukan atas pertimbangan kepentingan "karantina" namun perangkat GPS perahu "Kembar Jaya" masih berada di tangan pihak terkait di Australia, katanya.

Dalam soal penangkapan dan penahanan terhadap para nelayan asing oleh suatu negara, Napitupulu mengatakan bahwa hal itu adalah bagian dari hak pihak otoritas negara bersangkutan selama kapal-kapal ikan asing tersebut jelas-jelas melanggar.

Di perairan kawasan timur Indonesia, kapal-kapal patroli TNI pun sering memergoki kapal-kapal nelayan asing yang menangkap ikan secara ilegal. Jadi persoalan penangkapan ikan secara ilegal ini bukan hanya masalah Indonesia dan Australia tetapi sudah menjadi masalah regional, katanya.

*) My news for ANTARA on May 1, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity