Thursday, April 24, 2008

SELANDIA BARU DAMBAKAN KEHADIRAN GARUDA INDONESIA

Kehadiran kembali Garuda Indonesia yang melayani rute penerbangan langsung dari kota utama di Selandia Baru ke Denpasar Bali dan Jakarta akan sangat membantu upaya promosi pariwisata Indonesia di negara itu, kata seorang diplomat RI.

"Kami beranggapan bahwa Garuda penting bukan hanya sebagai 'flight carrier' (maskapai penerbangan) tapi juga yang lebih penting adalah sebagai 'flag carrier' (pembawa bendera bangsa) dan alat yang ampuh untuk promosi," Kabid Penerangan KBRI Wellington, Sekretaris I Tri Purnajaya, dalam penjelasannya kepada ANTARA, Kamis.

Ia mengatakan, sebenarnya pada saat Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Amris Hassan, baru menempati pos penugasan di Wellington akhir 2006, Dubes telah berupaya berjuang keras untuk tetap mempertahankan keberadaan penerbangan Garuda Indonesia di negara itu.

"Dubes bahkan sempat menyurati DPR, menteri perhubungan, dan Departemen Luar Negeri guna mengingatkan pentingnya eksistensi Garuda Indonesia di Selandia Baru," Kata Tri.

Namun manajemen Garuda telah memutuskan lain. Maskapai penerbangan Selandia Baru pun tidak lagi terbang ke Singapura melainkan mengalihkan rutenya ke China.

Sejak Garuda Indonesia menghentikan rute penerbangan langsung ke Bali dari Selandia Baru dan Brisbane (Australia) tahun 2007, ANTARA mencatat animo warga Selandia Baru untuk bisa terlayani penerbangan langsung ke Bali masih tetap ada.

Buktinya Suratkabar "The New Zealand Herald" edisi 2 April 2008 pernah menurunkan berita tentang kasus penipuan terhadap sedikitnya 10 orang yang ingin ke Bali oleh sebuah perusahaan yang menawarkan mereka jasa penerbangan langsung dari Selandia Baru ke Bali.

Kepolisian Selandia Baru seperti dikutip suratkabar itu menyebutkan para korban penipuan tersebut mengalami kerugian hingga ribuan dolar Selandia Baru.

Tri mengatakan, walaupun Garuda tidak lagi terbang ke Selandia Baru, ada beberapa alternatif penerbangan dari negara itu namun tidak lagi praktis karena banyaknya transit sehingga tidak lagi dirasa murah bagi mereka yang ingin ke Indonesia, katanya.

"Kita pernah rapat bersama Garuda di Wellington dan mereka cerita akan membuat kerjasama dengan LAN Chile. Saat ini tiket Garuda tetap dijual tapi melalui Sydney. KBRI Wellington terus berupaya mempromosikan turisme Indonesia melalui berbagai kegiatan."

Di antara kegiatan itu adalah turnamen golf, pagelaran seni-budaya Didik Nini Towok, festival film, promosi pariwisata, dan pagelaran busana (fashion show) Batik Adjie Notonegoro, katanya.

Di tengah upaya KBRI Wellington yang berkelanjutan itu, ia mengatakan, masih adanya anggapan pemerintah dan publik di Selandia Baru bahwa Indonesia belum sepenuhnya aman untuk dikunjungi serta pemberitaan media setempat tentang flu burung, konflik komunal, terorisme, dan pelanggaran hak azasi manusia adalah tantangan.

Tri mengatakan, ia pernah bertanya kepada beberapa pengusaha biro perjalanan setempat tentang mengapa persentase jumlah turis Australia yang ke Indonesia lebih tinggi dari wisatawan Selandia Baru, mereka umumnya menjawab "turis Australia lebih 'dablek' (bandel)."

Suasana kehidupan di Selandia Baru yang relatif lebih damai dan tenteram sebagaimana ditunjukkan oleh "Global Peace Index, warga negara itu umumnya memiliki standar keamanan yang berbeda dari bangsa-bangsa lain di dunia, katanya.

Data Pemerintah Selandia Baru menyebutkan, pada 2007, jumlah warganya yang bepergian ke Indonesia tercatat sekitar sebelas ribu orang atau masih di bawah jumlah mereka yang berkunjung pada 1998 yang mencapai 20 ribu orang.

*) My news for ANTARA on April 24, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity