Kehadiran kembali Garuda Indonesia yang melayani rute penerbangan langsung dari kota utama di Selandia Baru ke Denpasar Bali dan Jakarta akan sangat membantu upaya promosi pariwisata Indonesia di negara itu, kata seorang diplomat RI."Kami beranggapan bahwa Garuda penting bukan hanya sebagai 'flight carrier' (maskapai penerbangan) tapi juga yang lebih penting adalah sebagai 'flag carrier' (pembawa bendera bangsa) dan alat yang ampuh untuk promosi," Kabid Penerangan KBRI Wellington, Sekretaris I Tri Purnajaya, dalam penjelasannya kepada ANTARA, Kamis.
Ia mengatakan, sebenarnya pada saat Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Amris Hassan, baru menempati pos penugasan di Wellington akhir 2006, Dubes telah berupaya berjuang keras untuk tetap mempertahankan keberadaan penerbangan Garuda Indonesia di negara itu.
"Dubes bahkan sempat menyurati DPR, menteri perhubungan, dan Departemen Luar Negeri guna mengingatkan pentingnya eksistensi Garuda Indonesia di Selandia Baru," Kata Tri.
Namun manajemen Garuda telah memutuskan lain. Maskapai penerbangan Selandia Baru pun tidak lagi terbang ke Singapura melainkan mengalihkan rutenya ke China.
Sejak Garuda Indonesia menghentikan rute penerbangan langsung ke Bali dari Selandia Baru dan Brisbane (Australia) tahun 2007, ANTARA mencatat animo warga Selandia Baru untuk bisa terlayani penerbangan langsung ke Bali masih tetap ada.
Buktinya Suratkabar "The New Zealand Herald" edisi 2 April 2008 pernah menurunkan berita tentang kasus penipuan terhadap sedikitnya 10 orang yang ingin ke Bali oleh sebuah perusahaan yang menawarkan mereka jasa penerbangan langsung dari Selandia Baru ke Bali.
Kepolisian Selandia Baru seperti dikutip suratkabar itu menyebutkan para korban penipuan tersebut mengalami kerugian hingga ribuan dolar Selandia Baru.
Tri mengatakan, walaupun Garuda tidak lagi terbang ke Selandia Baru, ada beberapa alternatif penerbangan dari negara itu namun tidak lagi praktis karena banyaknya transit sehingga tidak lagi dirasa murah bagi mereka yang ingin ke Indonesia, katanya.
"Kita pernah rapat bersama Garuda di Wellington dan mereka cerita akan membuat kerjasama dengan LAN Chile. Saat ini tiket Garuda tetap dijual tapi melalui Sydney. KBRI Wellington terus berupaya mempromosikan turisme Indonesia melalui berbagai kegiatan."
Di antara kegiatan itu adalah turnamen golf, pagelaran seni-budaya Didik Nini Towok, festival film, promosi pariwisata, dan pagelaran busana (fashion show) Batik Adjie Notonegoro, katanya.
Di tengah upaya KBRI Wellington yang berkelanjutan itu, ia mengatakan, masih adanya anggapan pemerintah dan publik di Selandia Baru bahwa Indonesia belum sepenuhnya aman untuk dikunjungi serta pemberitaan media setempat tentang flu burung, konflik komunal, terorisme, dan pelanggaran hak azasi manusia adalah tantangan.
Tri mengatakan, ia pernah bertanya kepada beberapa pengusaha biro perjalanan setempat tentang mengapa persentase jumlah turis Australia yang ke Indonesia lebih tinggi dari wisatawan Selandia Baru, mereka umumnya menjawab "turis Australia lebih 'dablek' (bandel)."
Suasana kehidupan di Selandia Baru yang relatif lebih damai dan tenteram sebagaimana ditunjukkan oleh "Global Peace Index, warga negara itu umumnya memiliki standar keamanan yang berbeda dari bangsa-bangsa lain di dunia, katanya.
Data Pemerintah Selandia Baru menyebutkan, pada 2007, jumlah warganya yang bepergian ke Indonesia tercatat sekitar sebelas ribu orang atau masih di bawah jumlah mereka yang berkunjung pada 1998 yang mencapai 20 ribu orang.

No comments:
Post a Comment