Wednesday, April 23, 2008

KIRAB OBOR OLIMPIADE BEIJING DI CANBERRA AMAN DAN MERIAH

Kekhawatiran akan adanya insiden maupun gangguan dari para pendukung kemerdekaan Tibet terhadap kirab obor Olimpiade Beijing seperti yang terjadi di London, Paris, dan San Fransisco tidak terbukti di Canberra hari Kamis.

Dalam kirab yang melibatkan sedikitnya 50 orang pembawa obor dari berbagai latar belakang profesi itu, aparat kepolisian Australia bersikap tegas baik terhadap para aktivis hak azasi manusia dan kelompok pro-Tibet maupun kelompok pendukung China.

Dari tayangan Stasiun TV "Saluran Sembilan" Australia, terlihat aparat kepolisian memisahkan kelompok massa pro-Tibet dari massa pro-China yang jumlahnya jauh melebihi para pendukung Tibet.

Kendati berlangsung relatif aman dan sejumlah personil China berpakaian olahraga warna biru putih tampak hanya memberikan bantuan teknis untuk menjaga api obor tetap hidup, polisi Australia dilaporkan mengamankan enam orang aktivis pro-Tibet.

Dua insiden yang mencolok adalah pembakaran satu bendera China dan seorang aktivis pro-Tibet diamankan polisi saat melakukan aksi duduk tengah jalan yang akan dilalui arak-arakan.

Radio ABC juga mencatat adanya sekelompok pendukung China yang mengoyak bendera kecil bertuliskan "Bebaskan Tibet" yang dibawa beberapa warga setempat.

Namun suasana kirab berlangsung meriah, ditandai dengan kibaran bendera China berukuran besar yang dibawa para warga China yang menyebar di pinggir jalan-jalan yang menjadi rute kirab, termasuk gedung parlemen, hingga Taman Commonwealth dimana kauldron Olimpide berada.

Jalan ditutup

Juru Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi, mengatakan, ia harus berangkat lebih pagi ke kantor KBRI yang berlokasi di 8 Darwin Avenue, Yarralumla, karena beberapa ruas jalan dari rumah ke Yarralumla ditutup.

"Jalan-jalan yang saya lalui dari rumah ke kantor ditutup sejak pukul 08.30 pagi. Jadi saya harus buru-buru, dan tiba di kantor pukul 08.00," katanya.

Dino mengatakan, dari peristiwa kirab obor Olimpiade yang berlangsung relatif damai ini, ia melihat panitia dan pejabat pemerintah berhasil menyeimbangkan antara hak warga untuk menyalurkan aspirasi berdemokrasinya dan keamanan bagi jalannya kirab.

"Kalau orang yang membakar bendera China tadi, ya diamankan petugas karena di Australia, membakar bendera itu pelanggaran hukum," katanya mengomentari insiden yang sempat ia saksikan di tayangan TV lokal.

Atlet renang peraih medali emas Olimpiade, Ian Thorpe, merupakan pembawa obor terakhir yang menutup rangkaian arak-arakan kirab. Ia menyalakan api di kauldron Olimpiade di depan kerumunan warga yang berkumpul di Taman Commonwealth.

Selain Thorpe, di antara para pembawa obor Olimpiade Beijing 2008 di Canberra itu adalah Tania Major, Elizabeth Patrick, Megan Marcks, Jonathon Welch, Qiaobo Ye, Jacquelin Magnay, Neale Lavis, Rachel Imison, John Mackay, Changbin yu, Carol Keil, dan David Bussau.

Seterusnya, Heath Francis, Robert Innes, Christian Williams, Gerrard Gosens, Libby Trickett (Lenton), Phillip Cameron, Paul Narracott, Robert De Castella, Matt Welsh, Adam Pine, Jodie Henry, Nova Peris, Lee Kernaghan, Alice Mills, Fiona Stanley, dan Peter Sharp.

Kirab obor Olimpiade di Canberra itu berlangsung tepat 106 hari sebelum pesta olahraga dunia tersebut dilangsungkan.

Sepanjang sejarah olimpiade, kirab tersebut adalah peristiwa bersejarah ketiga bagi Canberra dan Australia setelah Olimpiade Melbourne 1956 dan Sydney 2000.

Dari Canberra, kirab obor Olimpiade Beijing selanjutkan dilangsungkan di Nagano (Jepang, 26/4), Seoul (Korea Selatan, 27/4), Pyongyang (Korea Utara, 28/4), dan Ho Chi Minh City (Vietnam, 29/4) sebelum memasuki Hong Kong dan kota-kota lain di China mulai 2 Mei 2008.

*) My news for ANTARA on April 24, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity