Wednesday, April 16, 2008

PRESIDEN HORTA KEMBALI KE TIMOR LESTE

Setelah 35 hari berada di Darwin, Australia, untuk mendapat perawatan tim dokter Rumah Sakit Royal Darwin dan berada dalam proses penyembuhan, Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, Kamis pagi, meninggalkan ibukota negara bagian Northern Territory itu untuk kembali ke negaranya.

Jaringan pemberitaan ABC melaporkan dari Darwin, Presiden Ramos Horta kembali ke Dili dengan pesawat carter bersama beberapa orang pengawal, dokter pribadi dan wartawan dari media internasional.

Ribuan warga Timor Leste dilaporkan berdiri di tepi jalan untuk menyambut kedatangan Horta yang mengalami dua luka tembak dalam insiden serangan anggota kelompok tentara pembelot pimpinan Alfredo Reinado di Dili 11 Februari lalu.

Dalam insiden itu, Reinado tewas bersama seorang pengikutnya. Namun tentara dan polisi Timor Leste dilaporkan masih memburu 16 orang tersangka lain.

Presiden Jose Ramos Horta resmi keluar dari RS Royal Darwin pada 19 Maret setelah mendapat perawatan intensif tim dokter sejak ia dievakuasi dari Dili ke rumah sakit itu pada 11 Februari.

Setelah kesehatannnya membaik, Horta langsung memberi "seruan" untuk rakyat Timor Leste. Ia meminta seluruh rakyat Timor Leste untuk membangun dan menjaga perdamaian dengan meninggalkan aksi kekerasan.

Pada 3 Maret lalu, tokoh kelahiran 26 Desember 1949 dan peraih Nobel Perdamaian tahun 1996 ini bahkan sudah memaafkan Alfredo Reinado dan meminta pemerintah mendukung keluarga Reinado.

Namun terkait dengan jabatan kepresidenannya, sempat muncul spekulasi bahwa Horta ingin mundur setelah Suratkabar "The Australian" edisi 8 April 2008 menurunkan kutipan hasil wawancaranya dengan Horta.

Dalam berita "The Australian" itu disebutkan ada keinginan Horta untuk tidak menjabat sampai akhir masa jabatannya namun hal itu kemudian dibantah sendiri oleh Horta dalam wawancaranya dengan TV nasional Timor Leste.

Timor Leste tidak kunjung keluar dari lingkar kekerasan sejak resmi merdeka pada 20 Mei 2002. Serangan kelompok Alfredo Reinado 11 Februari terhadap Presiden Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao itu menambah panjang rangkaian peristiwa berdarah yang mendera negara kecil tetangga Indonesia dan Australia ini sejak 2006.

Pertikaian berdarah di negara itu setidaknya telah menewaskan 37 orang dan mengakibatkan 155 ribu orang warga mengungsi. Pemerintah Timor Leste bergantung pada bantuan tentara dan polisi asing untuk memulihkan stabilitas.

*) My news for ANTARA on April 17, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity