Sunday, April 27, 2008

PEMERINTAH AUSTRALIA NAIKKAN PAJAK MINUMAN KERAS

Pemerintah Australia mengambil langkah konkrit untuk mengatasi kebiasaan pesta minuman keras di kalangan remaja negara itu dengan cara menaikkan pajak minuman beralkohol.

Dengan keputusan ini, harga per botol minuman keras di Australia kini naik sebesar 30 sen sampai 1,30 dolar Australia, demikian laporan ABC dan Harian "The Australian" Minggu.

Keputusan pemerintah itu disambut baik kalangan pemerhati masalah kesehatan namun mereka juga meminta pemerintah mengambil langkah yang sama terhadap produk rokok untuk mengatasi masalah merokok di kalangan remaja negara itu.

Persoalan pesta minuman keras yang merasuki sebagian kehidupan masyarakat Australia, termasuk kalangan pemuda dan remaja, telah mengusik perhatian banyak kalangan dan bahkan Perdana Menteri Kevin Rudd.

Kegalauan PM Rudd pada apa yang disebutnya "epidemi pesta minuman keras di Australia" itu semakin nyata setelah ia bertemu para perwira polisi negara itu belum lama ini.

Kekhawatirannya itu sangat beralasan mengingat masalah kekerasan yang disebabkan oleh minuman keras cenderung semakin membesar di Australia.

Hasil survei Biro Pusat Statistik Australia (ABS) tahun 2004-2005 misalnya menunjukkan adanya tren peningkatan konsumsi minuman keras beresiko tinggi.

Pola konsumsi minuman keras di Australia berdasarkan survei kesehatan tahun 2004-2005 itu menunjukkan, sebanyak 62 persen responden orang dewasa mengaku mengonsumsi minuman beralkohol seminggu sebelum mengikuti survei.

Sekitar satu dari setiap delapan orang responden dewasa masuk kategori pengonsumsi alkohol beresiko tinggi. Kategori ini mewakili 13 persen dari keseluruhan orang dewasa atau sekitar dua juta orang pada 2004-2005.

Proporsi warga berusia dewasa yang masuk kategori pengonsumsi alkohol beresiko tinggi itu terus naik dalam tiga kali survei kesehatan nasional dilakukan, yakni dari 8,2 persen tahun 1995 naik menjadi 10,8 persen tahun 2001, dan naik lagi menjadi 13,4 persen pada 2004-2005.

Pria dan wanita

Ditilik dari umur dan jenis kelamin kelompok peminum beresiko tinggi di Australia itu, ABS menyebutkan bahwa 15 persennya adalah kaum pria dan 12 persennya wanita namun dari tiga kali survei kesehatan, tren kedua kelompok ini meningkat.

Proporsi konsumen wanita beresiko tinggi naik dari 6,2 persen menjadi 11,7 persen, sedangkan kaum pria naik dari 10,3 persen menjadi 15,2 persen.

Pola konsumsi pada apa yang disebut PM Rudd sebagai "binge drinking" (pesta minuman keras) yang diyakini banyak pihak sebagai faktor penyebab terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor dan aksi kekerasan itu tidak hanya merasuki orang-orang berumur 18 tahun ke atas tetapi juga mereka yang berusia 14 tahun-an.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan dapat meningkatkan resiko terserang penyakit hati, stroke, berbagai penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah, serta beberapa jenis kanker.

Kebiasaan mengonsumsi minuman keras secara berlebihan itu pun bisa memicu terjadinya aksi kekerasan verbal dan fisik, kematian akibat kecelakaan, serta bunuh diri.

ANTARA mencatat, dalam kasus kekerasan yang dilakukan para pemabuk di Australia, seorang pelajar Indonesia yang sedang mengikuti pendidikan persiapan ke universitas di Adelaide, Australia Selatan, bahkan pernah menjadi korban pada 9 Maret pagi.

Pelajar Indonesia bernama Airlangga Utama itu terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Royal Adelaide untuk menjalani perawatan intensif akibat luka di bagian muka setelah pemuda Australia yang lagi mabuk itu mendaratkan pukulan telak dengan siku kanannya persis di bagian muka anak Indonesia ini.

Di Australia, minuman keras pun tercatat sebagai penyumbang kedua terbesar beban penyakit kronis setelah rokok dengan ongkos ekonomi yang harus ditanggung masyarakat sebesar 15 miliar dolar Australia per tahun.

*) My news for ANTARA on April 27, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity