Saturday, April 26, 2008

MAHASISWA INDONESIA DIREKRUT JADI GURU BAHASA DI SEKOLAH AUSTRALIA

Mahasiswa program doktor asal Indonesia di Canberra direkrut untuk menjadi guru bahasa Indonesia di empat sekolah publik Australia di kota itu dalam pilot proyek pengembangan pengajaran bahasa Indonesia yang diinisiatifi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Adikbud) RI di KBRI Canberra.

"Pengembangan pengajaran bahasa Indonesia di Canberra, kita sudah memulai 'pilot project' mulai term kedua pekan depan ini di empat sekolah, yakni Melrose High School (SMA Melrose), Florey dan Hughes Primary School (SD), serta Hawker College," kata mantan Adikbud RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono,MBA.

Dalam perbincangan dengan ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Sabtu, Agus Sartono yang kini menempati pos baru sebagai kepala biro perencanaan dan kerja sama luar negeri Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) RI di Jakarta ini mengatakan, empat orang mahasiswa doktor Indonesia sudah resmi direkrut.

Ke-empat mahasiswa doktor asal Universitas Nasional Australia (ANU) dan Universitas Canberra yang lulus seleksi pihaknya itu adalah Daim Syukriyah, Ari Pawam, Ida Parida, dan Muhammad Subhan Zein, katanya yang saat dihubungi berada di Sydney untuk bersiap pulang ke Jakarta pada penerbangan hari Minggu.

"Saya buat 'pilot project' ini di Canberra tapi ini bisa dikembangkan ke negara-negara bagian lain di Australia mengingat di setiap negara bagian ada mahasiswa Indonesia sehingga ini bisa menjadi alternatif bagi sekolah-sekolah Australia untuk mendapat tenaga guru bahasa Indonesia," katanya.

Agus Sartono yang menjabat sebagai Adikbud RI di KBRI Canberra selama 15 bulan ini mengatakan, ada dua keuntungan yang bisa diperoleh pemerintah maupun pengelola lembaga pendidikan di negara bagian dari perekrutan para mahasiswa doktoral asal Indonesia untuk menjadi staf pengajar paruh waktu, katanya.

Kedua keuntungan itu adalah bahwa dari segi waktu, para mahasiswa program doktor umumnya lebih fleksibel dan sebagian besar dari mereka sudah memahami dengan relatif baik budaya akademik Australia selain menguasai bahasa Inggris, kata Agus Sartono.

"Keuntungannya adalah pola ini bisa mempercepat pengajaran bahasa Indonesia disamping pengajaran oleh para guru bahasa Indonesia asal Australia sendiri. Kehadiran para mahasiswa Indonesia di sekolah hanyalah sebagai guru kedua yang berada di bawah pengawasan langsung guru-guru tetap," katanya.

Pola ini, katanya, merupakan sebuah langkah progresif untuk menyambut komitmen pemerintah Australia pada pengembangan pengajaran bahasa Indonesia di negara itu sebagaimana tercermin dari surat Wakil Perdana Menteri yang juga Menteri Pendidikan Australia, Julia Gillard, kepada Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb baru-baru ini.

"Isi surat itu pada intinya adalah bahwa Australia sangat menyambut pengajaran bahasa Indonesia dan Australia sudah meminta ada satu pejabat KBRI Canberra yang segera membahas tindak lanjut teknis pengajaran bahasa Indonesia di Australia," kata Agus menambahkan.

*) My news for ANTARA on April 26, 2008

2 comments:

Anonymous said...

Dear Bro Rahmad,

thanks for the correction and your prayer for us. Hope we will be pursuing to phd programs.

Keep up the good work!

DS

Rahmad Nasution said...

Terima kasih kembali. Insya Allah saya akan update dengan menulis ulasan. Nah di situ Insya Allah corrected versionnya saya selipkan ya. Semoga Allah SWT memudahkan jalan untuk teman2 untuk terus melangkah ke jenjang pendidikan tertinggi untuk memperkuat barisan pejuang Indonesia, amien...
Wassalam,
RN

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity