Mahasiswa program doktor asal Indonesia di Canberra direkrut untuk menjadi guru bahasa Indonesia di empat sekolah publik Australia di kota itu dalam pilot proyek pengembangan pengajaran bahasa Indonesia yang diinisiatifi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Adikbud) RI di KBRI Canberra."Pengembangan pengajaran bahasa Indonesia di Canberra, kita sudah memulai 'pilot project' mulai term kedua pekan depan ini di empat sekolah, yakni Melrose High School (SMA Melrose), Florey dan Hughes Primary School (SD), serta Hawker College," kata mantan Adikbud RI di KBRI Canberra, Dr.R.Agus Sartono,MBA.
Dalam perbincangan dengan ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Sabtu, Agus Sartono yang kini menempati pos baru sebagai kepala biro perencanaan dan kerja sama luar negeri Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) RI di Jakarta ini mengatakan, empat orang mahasiswa doktor Indonesia sudah resmi direkrut.
Ke-empat mahasiswa doktor asal Universitas Nasional Australia (ANU) dan Universitas Canberra yang lulus seleksi pihaknya itu adalah Daim Syukriyah, Ari Pawam, Ida Parida, dan Muhammad Subhan Zein, katanya yang saat dihubungi berada di Sydney untuk bersiap pulang ke Jakarta pada penerbangan hari Minggu.
"Saya buat 'pilot project' ini di Canberra tapi ini bisa dikembangkan ke negara-negara bagian lain di Australia mengingat di setiap negara bagian ada mahasiswa Indonesia sehingga ini bisa menjadi alternatif bagi sekolah-sekolah Australia untuk mendapat tenaga guru bahasa Indonesia," katanya.
Agus Sartono yang menjabat sebagai Adikbud RI di KBRI Canberra selama 15 bulan ini mengatakan, ada dua keuntungan yang bisa diperoleh pemerintah maupun pengelola lembaga pendidikan di negara bagian dari perekrutan para mahasiswa doktoral asal Indonesia untuk menjadi staf pengajar paruh waktu, katanya.
Kedua keuntungan itu adalah bahwa dari segi waktu, para mahasiswa program doktor umumnya lebih fleksibel dan sebagian besar dari mereka sudah memahami dengan relatif baik budaya akademik Australia selain menguasai bahasa Inggris, kata Agus Sartono.
"Keuntungannya adalah pola ini bisa mempercepat pengajaran bahasa Indonesia disamping pengajaran oleh para guru bahasa Indonesia asal Australia sendiri. Kehadiran para mahasiswa Indonesia di sekolah hanyalah sebagai guru kedua yang berada di bawah pengawasan langsung guru-guru tetap," katanya.
Pola ini, katanya, merupakan sebuah langkah progresif untuk menyambut komitmen pemerintah Australia pada pengembangan pengajaran bahasa Indonesia di negara itu sebagaimana tercermin dari surat Wakil Perdana Menteri yang juga Menteri Pendidikan Australia, Julia Gillard, kepada Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb baru-baru ini.
"Isi surat itu pada intinya adalah bahwa Australia sangat menyambut pengajaran bahasa Indonesia dan Australia sudah meminta ada satu pejabat KBRI Canberra yang segera membahas tindak lanjut teknis pengajaran bahasa Indonesia di Australia," kata Agus menambahkan.

2 comments:
Dear Bro Rahmad,
thanks for the correction and your prayer for us. Hope we will be pursuing to phd programs.
Keep up the good work!
DS
Terima kasih kembali. Insya Allah saya akan update dengan menulis ulasan. Nah di situ Insya Allah corrected versionnya saya selipkan ya. Semoga Allah SWT memudahkan jalan untuk teman2 untuk terus melangkah ke jenjang pendidikan tertinggi untuk memperkuat barisan pejuang Indonesia, amien...
Wassalam,
RN
Post a Comment