Oleh Rahmad NasutionRabu, 16 April 2008, adalah momen kepulihan kapal layar tiang tinggi kebanggaan TNI "KRI Arung Samudera" dari kerusakan serius yang sempat dialaminya dalam pelayaran muhibahnya ke Australia 23 Agustus 2007 dini hari.
Kepulihan kembali kapal latih yang mengalami kerusakan akibat dihantam cuaca buruk di perairan Teluk Wide Queensland hampir sembilan bulan lalu itu ditandai dengan "turun dok" setelah mendapat perbaikan sejak 30 Oktober lalu.
Perbaikan kapal berbobot 120 ton itu dilakukan di fasilitas dok milik perusahaan perbaikan kapal "Viking Industries Limited" (VIL) Brisbane oleh para pekerja "Marine Application", anak perusahaan VIL.
Sebuah alat derek (Crane) beroda enam dan berkapasitas sekitar 300 ton memindahkan kapal yang dinakhodai Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono ini ke Sungai Brisbane.
Namun kapal buatan Selandia Baru yang sebelum dibeli Indonesia bernama ?Adventure?ini masih akan mendapat penyempurnaan (finishing) dan tes berlayar sebelum kembali ke pangkalannya di Tanah Air.
Acara turun dok itu juga ditandai dengan penyerahan sebuah lonceng oleh Perwira Angkatan Laut Australia (ARN), Letnan Tonny Masson, kepada Atase Laut KBRI Canberra Kolonel Laut Eden Gunawan yang selanjutnya menyerahkannya ke Komandan KRI Arung Samudera, Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono.
Dalam acara turun dok yang berlangsung sekitar tiga jam itu, seorang wakil "Marine Application" juga menyerahkan kenang-kenangan kepada Eden, Eko, dan empat awak KRI Arung Samudera. Kenang-kenangan itu berupa topi bertuliskan "Arung Samudera".
Peristiwa turun doknya KRI Arung Samudera itu mendapat peliputan Stasiun Televisi "Saluran Tujuh" dan beberapa media lokal lain yang berbasis di Brisbane.
Akibat hantaman angin berkecepatan 80 hingga 100 kilometer per jam sebanyak dua kali pada hari naas beberapa bagian kapal rusak. Di antara bagian yang rusak itu adalah layar utama dan layar depan, serta sebuah layar lainnya terlipat, dan baja bagian bawah yang berfungsi sebagai penyeimbang atau "stabilizer" kapal bengkok.
Adalah Bob Elmer orang Australia pertama yang bertemu dengan ke-18 anak buah kapal KRI Arung Samudera yang mengalami naas ini.
Elmer seperti dikutip ABC menuturkan bahwa dia bertemu mereka mengenakan jaket keselamatan dalam keadaan basah kuyub di pinggir jalan Pantai Rainbow dekat Gympie, Queensland selatan, 23 Agustus sekitar Pukul 07.30 pagi.
Musibah yang terjadi dalam pelayaran dari Cairns ke Brisbane itu telah menghentikan gerak KRI Arung Samudera untuk berparade bersama enam kapal layar Australia pada KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Sydney pada 8-9 September 2007.
Walaupun gagal berlayar bersama kapal "James Craig" (Australian Heritage Fleet), "One and All" (Australia Selatan), "Bounty" (New South Wales), "Replika HM Bark Endeavour" (ANMM), "Young Endeavour" (AL Australia), dan "Windward Bound" (Tasmania), seluruh awaknya tetap ikut dalam parade untuk memeriahkan acara APEC tersebut.
Mengingat kondisi kerusakan yang dialami, beberapa perlengkapan kapal yang rusak diganti dengan yang baru.
Di antara perangkat kapal yang diganti dengan yang baru itu adalah "centre boat" berbobot 3,5 ton, enam layar, dua mesin, generator, serta baling-baling tiga daun dengan ukuran dan kapasitas yang lebih besar dari sebelumnya.
Sebelum diuji-coba berlayar di lautan, kapal yang dilengkapi tiga tiang masing-masing setinggi 18 meter, sembilan layar dan dua mesin berkekuatan 260 PK ini masih akan mendapat penyempurnaan, seperti "replanting" (penambalan kembali) bagian-bagian yang berkarat dan penyediaan rantai jangkar sepanjang 200 meter.
Tahapan selanjutnya adalah "harbour trial" (pengujian di pelabuhan) dan "sea trial" (pengujian berlayar di lautan).
Dalam "sea trial" yang waktunya masih akan diputuskan setelah menunggu hasil pengujian di pelabuhan, Nakhoda KRI Arung Samudera, Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono, mengatakan, pihaknya berencana melakukannya di sekitar perairan Teluk Moreton.
Perbaikan kapal yang sempat terdampar di sekitar Pantai Rainbow dekat Gympie, Queensland selatan, dan baru bisa ditarik oleh kapal tunda ke Brisbane seminggu setelah kejadian itu bermula pada 30 Oktober 2007.
Setelah berhasil ditarik, proses perbaikannya sempat harus menunggu mengucurnya dana dari Jakarta. Kolonel Laut Eden Gunawan mengakui hal itu saat ditanya ANTARA 16 Oktober tahun lalu.
"Perbaikan masih harus menunggu dana tapi Insya Allah dalam waktu dekat dananya sudah ada. Yang pasti, tiga bulan ke depan (kapal) masih akan berada di Brisbane," katanya.
Untuk mengefisienkan pengeluaran, Eden mengatakan, KRI "Arung Samudera" ditarik ke dermaga AL Australia di daerah Balimba karena fasilitas "docking" (galangan kapal) yang ada umumnya milik swasta dan berbiaya mahal.
"Docking di sini umumnya milik swasta, sedangkan fasilitas dok AL Australia hanya ada di kota-kota seperti Sydney, Adelaide dan Darwin. Maklum Brisbane ini kan daerah wisata," katanya ketika itu.
Terlepas dari proses penungguan dan perbaikan yang beberapa bulan itu, seberapa besar negara harus mengeluarkan biaya untuk "memulihkan" KRI Arung Samudera, Eden Gunawan enggan mengungkapkannya.
Yang pasti, proses perbaikan kapal yang memerlukan waktu panjang itu telah memaksa Komandan kapal, Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono, dan empat anak buahnya -- Lettu Laut (P) Aster Budi Prasetyo, Lettu Laut (T) Yohannes, Letda Laut (P) Garmadi, dan KLK Mes Ja'far Said -- untuk tetap tinggal di Brisbane.
Ke-empat anak buah kapal (ABK) yang mendampingi Mayor Eko adalah perwira layar, perwira navigasi, kepala kamar mesin dan seorang ahli mesin, sedangkan 13 orang ABK lainnya sudah dikembalikan ke Tanah Air sejak September 2007.
Berpisah dari anak-istri dan sanak keluarga di Tanah Air tidak menyurutkan semangat pengabdian mereka sekalipun mereka harus melewatkan hari-hari besar keagamaan, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Natal 2007 di Queensland.
Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono mengatakan, rasa kangen dirinya dan ke-empat anak buahnya pada keluarga di Tanah Air terobati dengan tingginya rasa solidaritas dan kekeluargaan yang ditunjukkan banyak anggota masyarakat Indonesia di Brisbane.
Di saat Lebaran tahun lalu misalnya, Eko Deni mengatakan, ia bersama empat anak buahnya ikut bersilaturrahmi lebaran dan berwisata bersama beberapa orang Indonesia di Brisbane ke Kawasan Wisata Pantai Gold Coast.
Pada kesempatan itu, ia dan anak-anak buahnya dapat ikut mencicipi menu makanan khas Idul Fitri seperti ketupat, rendang, rempeyek dan opor ayam, katanya.
"Yang menariknya lagi, ketupat yang disajikan tidak terbuat dari (daun) janur tetapi plastik," kata Mayor Eko.
Solidaritas dan kekeluargaan yang dirasakannya dari banyak warga Indonesia yang dikenalnya dari pertemuan di jalan ataupun saat shalat di beberapa masjid tidak saja ia rasakan saat Idul Fitri tetapi selama sebulan penuh Ramadhan.
"Bayangkan setiap malam Pak Ali Kadir, warga kita yang sudah tiga puluh tahun menetap di sini, menjemput saya dan tiga dari empat anak buah kapal (ABK) yang beragama Islam untuk shalat Tarawih di Masjid Holland Park. Pada malam takbir pun kita ikut bergabung dengan jamaah masjid itu," katanya.
Seperti kebanyakan Muslim di Queensland yang merayakan Idulfitri 1428 Hijriah pada 13 Oktober 2007, ia bersama tiga dari empat ABK yang beragama Islam pun berlebaran pada hari yang sama dan ikut melakukan Shalat Id di lapangan Karawatha bersama ribuan orang.
Selain Mayor Eko, tiga dari empat ABK KRI Arung Samudera beragama Islam. Mereka adalah Lettu Laut (P) Aster Budi Prasetyo, Letda Laut (P) Garmadi, dan KLK Mes Ja'far Said, sedangkan Lettu Laut (T) Yohannes beragama Kristen.
Muhammad Masyhuri, warga Indonesia yang sudah beberapa kali bertemu Mayor Eko di masjid maupun di barak angkatan laut Australia di kawasan Balimba tempat para ABK Arung Samudera menginap, mengatakan, ia merasa senang bisa membantu Mayor Eko dan kawan-kawan.
"Pokoknya sebisa mungkin membantu mereka. Kalau tidak bisa membantu dengan materi, ya setidaknya membantu memberikan informasi sehingga mereka merasa tidak sendiri di Brisbane ini," katanya.
Mengutip penuturan para ABK, Masyhuri mengatakan, tiga minggu pertama mereka di Brisbane, mereka belum tahu dimana tempat membeli bumbu-bumbu masakan Indonesia atau pun lokasi masjid-masjid. "Pada satu kesempatan, saya datangi barak mereka sambil membawa beberapa bumbu masakan Indonesia."
"Selain memberi informasi tentang Toko Yuen dan China Town (toko/daerah di Brisbane yang banyak menjual produk makanan Asia termasuk Indonesia-red.), saya juga coba kenalkan mereka dengan orang Indonesia yang berprofesi sebagai 'tukang las' di Brisbane," katanya.
Ketika itu, apa yang ada dalam fikirannya, kata Masyhuri, hanyalah keinginan untuk membantu Mayor Eko dan kawan-kawan karena siapa tahu mereka memerlukan orang Indonesia yang memiliki keahlian mengelas itu untuk memperbaiki KRI Arung Samudera.
Bagi Atase Laut KBRI Canberra, Kolonel Laut Eden Gunawan, nasib kelima ABK Arung Samudera yang terpaksa jauh dari sanak keluarga di saat hari-hari besar keagamaan bukanlah hal baru bagi sebagian mereka.
Bahkan, menurut Eden, ada di antara mereka yang sudah tiga kali merayakan Idul Fitri di luar negeri. "Jadi bukan sesuatu yang luar biasa. Yang penting, semua anggota yang masih ada tetap dalam keadaan sehat dan bersemangat tinggi untuk memulangkan kapal ke Tanah Air setelah diperbaiki," katanya.
Mayor Eko dan ke-empat anak buahnya tak pernah kehilangan semangat juang terlebih lagi kekuatan solidaritas kebangsaan yang telah mereka rasakan di saat-saat jauh dari keluarga dan suasana Tanah Air telah membantu menjaga semangat itu.
Di luar itu, kehangatan persahabatan yang ditunjukkan para personil angkatan laut dan warga sipil Australia sejak hari pertama musibah hingga selama masa penungguan perbaikan KRI Arung Samudera adalah pengalaman yang juga tak kurang bernilainya.


No comments:
Post a Comment