Thursday, April 17, 2008

KRI ARUNG SAMUDERA BELUM BISA SEGERA TINGGALKAN AUSTRALIA

Kapal latih TNI "Arung Samudera" yang sudah turun dok di Brisbane Rabu (16/4) masih memerlukan waktu sekitar 10 hingga 20 hari untuk keperluan pengecekan 20 "item" (perangkat) kapal dan tes berlayar sebelum pulang ke Indonesia, kata Atase Laut di KBRI Canberra, Kolonel Laut Eden Gunawan.

"'Harbour trial' (uji coba di pelabuhan) sudah mulai dilaksanakan sejak kemarin (Rabu). Dalam 'harbour trial' ini, setiap 'item' yang ada di kapal harus dicek dan dicoba satu per satu. Ini memerlukan waktu yang cukup lama karena ada 20 'item' yang harus diuji coba," katanya kepada ANTARA di Brisbane, Kamis.

Masa penyempurnaan ini, menurut Eden, memakan waktu yang "cukup lama" karena dalam sehari para pekerja hanya bisa menguji coba sekitar tiga atau empat perangkat.

Ia mengatakan, di antara 20 perangkat di kapal yang harus dicek dan diuji coba secara teliti dan sempurna itu adalah mesin utama, generator, kemudi, dan radar. "Semua 'item' harus dicoba benar-benar sebelum melangkah ke 'sea trial' (uji berlayar)," katanya.

Namun penyelesaian perbaikan KRI Arung Samudera yang ditandai dengan turun dok adalah satu tahap yang patut disyukuri dan pihaknya menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Australia, Angkatan Laut Australia, dan perusahaan yang memperbaiki kapal atas perhatian dan bantuan yang diberikan, katanya.

"Saya masih akan tetap memantau perkembangan tahap penyempurnaan kapal," kata Eden.

Kapal latih TNI "KRI Arung Samudera" yang mengalami kerusakan serius akibat dihantam cuaca buruk di perairan Teluk Wide, negara bagian Queensland, 23 Agustus 2007, akhirnya turun dok setelah mendapat perbaikan selama lebih dari lima bulan.

Alat derek pengangkat kapal berkapasitas sekitar 300 ton memindahkan KRI Arung Samudera ke Sungai Brisbane. Acara turun dok itu juga ditandai dengan penyerahan sebuah lonceng oleh Perwira Angkatan Laut Australia (ARN), Letnan Tonny Masson, kepada Atase Laut KBRI Canberra Kolonel Laut Eden Gunawan yang selanjutnya menyerahkannya ke Komandan KRI Arung Samudera, Mayor Laut (P) Eko Deni Hartono.

Dalam acara turun dok yang berlangsung sekitar tiga jam itu, seorang wakil dari "Marine Application", anak perusahaan perbaikan kapal "Viking Industries Limited", juga menyerahkan kenang-kenangan kepada Eden, Eko, dan empat awak KRI Arung Samudera. Kenang-kenangan itu berupa topi bertuliskan "Arung Samudera".

Peristiwa turun doknya KRI Arung Samudera itu mendapat peliputan Stasiun Televisi "Saluran Tujuh" dan beberapa media lokal lain yang berbasis di Brisbane.

Informasi yang dihimpun ANTARA menyebutkan, perlengkapan-perlengkapan kapal yang sempat rusak dalam musibah Agustus tahun lalu itu diganti dengan yang baru.

Beberapa perangkat kapal yang diganti baru itu adalah "centre boat" berbobot 3,5 ton, enam layar, dua mesin, generator, serta baling-baling tiga daun dengan ukuran dan kapasitas yang lebih besar dari sebelumnya.

Kapal layar buatan Selandia Baru berbobot 120 ton dengan 18 awak ini masih akan mendapat penyempurnaan, seperti "replanting" (penambalan kembali) bagian-bagian kapal yang berkarat dan penyediaan rantai jangkar sepanjang 200 meter.
Pelayaran KRI Arung Samudera ke Australia itu sendiri dimaksudkan untuk ikut menyemarakkan penyelenggaraan KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Sydney pada 8-9 September 2007 bersama enam kapal layar tiang tinggi Australia.

Akibat musibah tersebut, KRI Arung Samudera tidak bisa ikut dalam parade kapal layar tiang tinggi di Sydney namun seluruh awaknya tetap ikut menyaksikan parade kapal-kapal layar tiang tinggi Australia yang menjadi bagian dari rangkaian acara APEC 2007.

Ke-enam kapal layar tiang tinggi Australia itu adalah "James Craig" (Australian Heritage Fleet), "One and All" (Australia Selatan), "Bounty" (New South Wales), "Replika HM Bark Endeavour" (ANMM), "Young Endeavour" (AL Australia), dan "Windward Bound" (Tasmania).

*) My updated news for ANTARA on April 17, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity