Thursday, April 17, 2008

DELAPAN UNIVERSITAS TERKEMUKA AUSTRALIA ANGGAP PENTING BAHASA INDONESIA

Delapan universitas terkemuka di Australia yang tergabung dalam "Kelompok Delapan" (Go8) memberi perhatian besar pada pelestarian pengajaran bahasa-bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia, di tingkat perguruan tinggi unggulan negara itu.

Hal itu terungkap dalam wawancara ANTARA dengan Koordinator Program Bahasa Indonesia di Sekolah Studi Bahasa dan Budaya Komparatif (SLCC) Universitas Queensland (UQ), Asosiat Prof.Helen Creese, di Brisbane, Rabu (16/4).

Pakar Sastra Indonesia dan Sastra Bali ini mengatakan, perhatian "Go8" pada upaya pelestarian dan pemajuan pengajaran bahasa-bahasa asing, termasuk Indonesia, itu diwujudkan dalam bentuk pemberian insentif poin masuk perguruan tinggi.

Insentif poin itu diberikan kepada para lulusan SMA yang berhasil menyelesaikan program bahasa selain bahasa Inggris (LOTE) di kelas 11 atau 12 ketika mereka mendaftar untuk mengambil program studi bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia, kata Helen.

Sebagai bagian dari anggota "Kelompok Delapan" (Group of Eight), ia mengatakan, UQ juga "memperkenalkan skema bonus poin" kepada para lulusan SMA yang berhasil menyelesaikan program LOTE ketika mereka mengambil program studi yang sesuai di UQ.

Di UQ, terdapat 11 program studi bahasa asing, yakni bahasa Indonesia, China, Perancis, Jerman, Yunani, Klasik, Jepang, Korea, Latin, Rusia, dan Spanyol, katanya.

Helen yang dalam wawancara itu turut didampingi staf pengajar bahasa Indonesia UQ asal Bali,I Nyoman Darma Putra, PhD, sempat menyinggung animo para lulusan SMA di negara bagian Queensland untuk mengambil program studi bahasa Indonesia di UQ.

Editor buku "Seabad Puputan Badung: Perspektif Belanda dan Bali" bersama Darma Putra dan Henk Schulte Nordholt (2006) itu mengatakan, animo mahasiswa Australia untuk belajar bahasa Indonesia di UQ cenderung menurun pasca-terjadinya krisis ekonomi dan serangkaian aksi terorisme.

Jika pada 1996 -1997, jumlah mahasiswa baru yang mendaftar di program studi bahasa Indonesia UQ mencapai 80 orang, setelah Indonesia dilanda krisis moneter 1998, setahun kemudian jumlahnya turun menjadi 40 orang, kata Helen.

"Pada 2007, jumlah mahasiswa yang mengambil program studi bahasa Indonesia hanya 15 orang dan tahun ini (2008) turun menjadi 11 orang," kata Indonesianis yang sedang meneliti sejarah Sastra Bali itu.

Relatif kecil

Dibanding jumlah mahasiswa yang mengambil program studi bahasa asing lainnya di UQ seperti bahasa Spanyol, Rusia, dan Jerman, jumlah mahasiswa Australia asal Queensland yang belajar bahasa Indonesia relatif kecil, katanya.

Relatif rendahnya jumlah mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia di UQ itu tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik-keamanan Indonesia yang membentuk persepsi tersendiri kalangan generasi muda dan orangtua, tetapi juga oleh faktor ketersediaan calon mahasiswa.

Faktor ketersediaan calon mahasiswa itu terkait dengan kondisi pengajaran bahasa Indonesia di SMA-SMA Queensland.

Ia mengatakan, bahasa Indonesia umumnya hanya diajarkan di sekolah-sekolah yang ada di luar daerah metrolitan Queensland, sedangkan sekolah-sekolah di kawasan metropolitan cenderung mengajarkan bahasa-bahasa asing lain.

Kebijakan "travel advisory" (peringatan perjalanan) terhadap Indonesia yang dimaksudkan pemerintah Australia sejak era John Howard untuk melindungi keamanan warga Australia juga ikut mempersulit, katanya.

Peringatan perjalanan ini tidak hanya menyulitkan para guru dan siswa Australia, tetapi juga para akademisi seperti dirinya untuk pergi ke Indonesia karena mereka harus mendapatkan izin khusus pihak sekolah atau universitas, katanya.

"Travel advisory" itu telah pun membuat program pelatihan bahasa Indonesia bagi para guru bahasa Indonesia di SMA-SMA Australia belum lama ini harus dilaksanakan tidak di Indonesia sebagai negara asal bahasa tetapi di Darwin, Northern Territory, kata Helen.

Namun di tengah kondisi ini, para mahasiswa Australia, termasuk mahasiswa UQ, tetap dapat mengikuti program "Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies" (ACICIS) di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, katanya.

Di tingkat universitas Australia, terdapat 29 program studi bahasa asing. Bahasa Indonesia diajarkan di seluruh perguruan tinggi yang menjadi anggota "Kelompok Delapan".

Selain UQ, tujuh perguruan tinggi lain yang masuk "Kelompok Delapan" adalah Universitas Nasional Australia, Universitas Adelaide, Universitas Melbourne, Universitas New South Wales, Universitas Sydney, Universitas Monash, dan Universitas Australia Barat.

*) My news for ANTARA on April 17, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity