Oleh Rahmad NasutionSetelah di Olimpiade Melbourne 1956 dan Sydney 2000, kirab obor olimpiade kembali melintasi jalan-jalan utama kota Canberra untuk yang ketiga kalinya dalam sejarah pesta olahraga dunia itu hari Kamis (24/4).
Kalau pada dua olimpiade sebelumnya, suasana kirab obor berlangsung mulus, perjalanan obor Olimpiade Beijing 2008 di Canberra ditandai dengan kekhawatiran pihak panitia serta pejabat pemerintah Australia dan China jauh sebelum obor itu tiba di kota yang bermakna "tempat bertemu" dalam bahasa Aborigin itu.
Kekhawatiran tersebut tidak lain disebabkan oleh nyatanya ancaman aksi protes para aktivis hak azasi manusia (HAM) dan pendukung kemerdekaan Tibet di Australia yang memanfaatkan momen kirab untuk menyampaikan sikap politik mereka terkait dengan kondisi HAM di Lasha dan masalah Tibet pada umumnya.
Melihat rekam jejak perjalanan kirab obor api Olimpiade Beijing di London, Paris, dan San Fransisco, bentuk dan rangkaian aksi para aktivis pro-Tibet tampak dramatis.
Bahkan, Jin Jing, atlet perempuan China yang menjadi pembawa ketiga obor olimpiade dalam kirab di jalan-jalan kota Paris, Perancis, 7 April lalu, tak luput dari sasaran gangguan para aktivis pro-Tibet kendati dia "berjalan" dengan bantuan kursi roda.
Di tengah gelombang protes pro-Tibet yang menggelinding bak "bola salju" untuk mempermalukan China sebagai tuan rumah, Canberra menerima kedatangan nyala api pesta olahraga dunia yang berlangsung Agustus 2008 itu.
Obor Olimpiade Beijing itu sendiri sudah tiba di Canberra di bawah pengamanan ketat tepat 107 hari sebelum pesta olahraga ini dilangsungkan di Beijing.
Kedatangan api obor yang dibawa pesawat khusus, "Air China" Airbus A330, di lapangan terbang Pangkalan Angkatan Udara Australia (RAAF) Fairbairn Rabu pagi itu disambut dengan acara penyambutan tradisi rakyat Aborigin sebelum obor diterima Menteri Kepala Negara Bagian Australian Capital Territory (ACT), Jon Stanhope.
Sehari sebelumnya, obor tersebut diarak berkeliling kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta di tengah penjagaan ketat aparat kepolisian.
Di luar rute pawai, aksi protes kelompok pro-Tibet berlangsung. Masyarakat luas pun tidak leluasa menyaksikan kirab obor bertajuk "Journey of Harmony" itu dari dekat karena hanya orang-orang yang mempunyai kartu tanda pengenal khusus saja yang dilaporkan bisa masuk ke kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Di antara mereka yang beruntung bisa langsung menyaksikan dari dekat kirab obor olimpiade itu adalah para sponsor, wartawan dengan tanda pengenal khusus, pejabat pemerintah dan pembawa obor itu sendiri.
Sementara itu, terkait dengan kirab obor Olimpiade di Canberra, Kamis, pihak panitia mengumumkan nama Pemain Softball Olimpiade Australia, Joanne Brown, sebagai pembawa obor baru menyusul pengunduran diri tokoh ACT, Lin Hatfield-Dodds.
Dodds mengundurkan diri atas alasan menghormati HAM.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Jiang Yu, seperti dikutip ABC, meminta rakyat Australia untuk menghormati kirab obor Olimpiade dengan alasan bahwa para pemerotes dan pengganggu jalan
nya kirab tidak mengerti situasi di Tibet yang sebenarnya.
Kirab obor Olimpiade di Canberra itu merupakan persinggahan terakhir sebelum obor diterbangkan ke Nagano (Jepang, 26/4), Seoul (Korea Selatan, 27/4), Pyongyang (Korea Utara, 28/4), Ho Chi Minh City (Vietnam, 29/4), Hong Kong dan kota-kota lain di China mulai 2 Mei untuk mengikuti serangkaian acara kirab di sana.
Hingar-bingar pemerotes sebagaimana terlihat di London, Paris, dan San Fransisco telah memunculkan kontroversi di seputar pengamanan kirab obor olimpiade di Canberra ini.
Di berbagai kota dunia yang dilintasi kirab obor Olimpiade Beijing, termasuk di tiga kota utama negara-negara Barat itu, kehadiran sejumlah aparat keamanan China berpakaian olahraga warna biru putih selalu tampak.
Picu kontroversi
Perihal keterlibatan para personil keamanan China untuk mengamankan obor Olimpiade dari perampasan maupun gangguan para anggota kelompok anti-China sempat memicu spekulasi dan kontroversi di Australia dalam lebih dari dua pekan terakhir.
Pada 15 April lalu misalnya, Wakil Kepala Polisi Negara Bagian ACT, Shane Connolly, menegaskan pihaknya tidak akan melibatkan aparat keamanan China dalam kondisi apapun untuk mengamankan arak-arakan obor Olimpiade di Canberra 24 April 2008.
Penegasan perwira polisi negara bagian ACT tersebut sekaligus mengklarifikasi kebingungan yang sempat muncul setelah di hari yang sama Wakil Presiden Komite Olimpiade Australia (AOC), Kevan Gosper, mengisyaratkan adanya celah bagi keterlibatan aparat China dalam kondisi darurat.
Sebelumnya di sela kunjungan kerjanya di London, Inggris, 8 April lalu, Perdana Menteri Kevin Rudd juga telah mengungkapkan penolakannya pada kehadiran personil keamanan China dalam kirab obor di Canberra.
Pada kenyataannya, media Australia menyebutkan akan ada enam orang pengawal China yang akan bertindak sebagai "tameng hidup" bagi pengamanan api obor Olimpiade jika ada gangguan dari para pemerotes walaupun pengamanan normal jalannya kirab tetap sepenuhnya berada di tangan aparat Polisi Federal Australia (AFP) dan aparat kepolisian setempat.
Pemerintah China sendiri mengecam keras setiap aksi protes yang mengganggu perjalanan obor api Olimpiade tersebut.
Walaupun kecaman dan peringatan pemerintah China terus diberikan, bayang-bayang ancaman protes obor Olimpiade
di Canberra itu tetap nyata.
Sepanjang Rabu (23/4), media setempat melaporkan adanya serangkaian aksi para aktivis kelompok pro-Tibet.
Di Sydney misalnya, dua orang aktivis diamankan polisi saat keduanya disebut ABC hendak mencoba membentangkan bendera Tibet di Jembatan Pelabuhan Sydney.
Seterusnya, sekitar 50 orang aktivis pro-kemerdekaan Tibet juga dilaporkan berkumpul di luar gedung Kedutaan Besar RRC di Canberra untuk menggelar doa bersama.
Dalam isu Tibet, terutama yang berhubungan dengan HAM dalam insiden di Lasha Maret lalu, sikap pemerintah dan rakyat Australia sudah jelas sebagaimana disuarakan Perdana Menteri Kevin Rudd selama kunjungan empat harinya di Beijing sejak 9 April lalu.
Di mata Australia, pemerintah China telah melanggar HAM dalam insiden Lasha yang dilaporkan menewaskan puluhan warga sipil di kota Tibet itu.
Terlepas dari pro-kontra di seputar isu Tibet, dijadikannya momentum pesta olahraga dunia ini ajang penyaluran aspirasi perjuangan politik bukanlah yang pertama dalam sejarah olimpiade.
Pada beberapa kali penyelenggaraan olimpiade sebelumnya, termasuk Olimpiade Sydney 2000, selalu saja ada sekelompok orang atau bahkan negara yang memanfaatkan momentum tersebut untuk mempermalukan pemerintah negara tuan rumah atau negara peserta tertentu.
Jika pada Olimpiade Sydney 2000, kelompok pejuang HAM dan pribumi Aborigin mengusung isu "generasi yang terampas" yang merupakan sejarah buram hegemoni kulit putih atas penduduk asli benua Australia, pada Olimpiade Munich, Jerman, tahun 1972, sekelompok pejuang Palestina juga berupaya menarik perhatian dunia dengan aksi penculikan terhadap sejumlah atlet Israel.
Lalu pada Olimpiade Moskow 1980, Amerika Serikat (AS) melancarkan aksi pemboikotan seraya mendorong negara-negara lain untuk mengikuti jejaknya sebagai protes atas invasi Uni Soviet di Afghanistan.
Kalau kini China menjadi sasaran tembak para aktivis HAM dan kelompok pro-Tibet yang berusaha menarik perhatian dunia dengan mengganggu kirab obor api Olimpiade di sejumlah kota penting dunia, termasuk Canberra, sejatinya sejarah hanya sedang berulang.
*) My news-article for ANTARA on April 23, 2008

No comments:
Post a Comment