Oleh Rahmad NasutionKomunitas Indonesia yang merupakan kelompok minoritas di Darwin, Northern Territory (NT), kini tidak lagi hanya menjadi penonton dalam kompetisi sepakbola di negara bagian paling utara Australia itu.
Sejak Maret 2008, anak-anak muda dari komunitas Indonesia di sana juga sudah bisa ikut bermain dan berlatih, serta mengharumkan nama negara seraya memupuk solidaritas antarbangsa dalam kejuaraan tingkat negara bagian dengan tim "sendiri".
Skuad Indonesia yang pembentukannya diresmikan Konsul RI Darwin, Harbangan Napitupulu, 22 Maret lalu itu diberi nama "Garuda Football Club" atau "Garuda FC".
Sejauh ini, skuad yang dijuluki "New Boys Garuda" ini memiliki 28 orang pemain.
Walaupun pembentukannya disokong kantor Garuda Indonesia perwakilan NT dan Konsulat RI Darwin, tidak semua pemainnya adalah anak-anak muda Indonesia.
Penasehat "Garuda Football Club", Sahrul Tahir, mengatakan, anak-anak asuhan Pelatih, Oswualdo, ini datang dari beragam latarbelakang bangsa. Oswualdo sendiri adalah orang Timor Leste yang berdomisili di Darwin.
Di antara 28 orang pemain yang kini dimiliki skuad Garuda FC itu adalah Winarko, Victor, Warrick Bowman, Bobby Djari, A Hasan, Alex, Arthur, Adrian, Steven, Richard, Rama, Abdullah, dan Joseph (orang Indonesia).
Seterusnya Aleo, Sisco, Silvio, Jose, Steven Lo, Nuno (Timor Leste), Tim Lay (China), Kiren (Korea), Chan Tran (Vietnam), Itimai (Thailand), Kim Thonson (Australia), Brayn Caluza (Filipina), dan Sothaorios (Yunani).
Bagi Konsul RI Darwin, Harbangan Napitupulu, kehadiran skuad Garuda tidak hanya menjadi wadah pembinaan masyarakat Indonesia tetapi juga sarana penguatan hubungan Indonesia, Timor Leste dan Australia sebagai tiga negara yang saling bertetangga.
Eksistensi Garuda FC sendiri sudah resmi diakui Federasi Sepakbola NT (FFNT). Di federasi itu, ia masuk dalam Klub Darwin bersama dengan 13 klub lain yang sudah terlebih dahulu ada.
Di bawah Klub Darwin FFNT itu, bernaung tim Casuarina FC, Darwin City,Darwin Dragons, Hellenic, Litchfield FC, Millner Galaxy, Mindil Aces SC, Nakara Azzurri FC, Olympic,Padres FC, Palmerston SC,Port Darwin FC, dan University SC.
Walaupun usianya masih sangat belia, skuad Garuda FC sudah ikut bertanding dalam"President Cup", kompetisi tingkat negara bagian NT bersama 13 kesebelasan lainnya di Klub Darwin FFNT.
Dalam pertandingan 6 April melawan tim tangguh, Nakara Azzurri, tim Garuda FC berhasil menang satu nol dan dalam pertandingan kedua pada 13 April, anak-anak "New Boys Garuda" ini berjaya menahan Padres satu sama.
Namun, sebagai pendatang baru, perjuangan skuad Garuda tidak selalu mulus terbukti dalam pertandingan ketiga Sabtu malam (19/4) melawan tim tangguh "Casuarina FC", anak-anak Garuda tak kuasa menahan gempuran hebat para pemain Casuarina.
Abdul Hamid, warga Indonesia yang menyaksikan jalannya pertandingan di lapangan sepakbola Stadion Darwin, mengatakan, gawang Garuda FC sudah kebobolan enam gol di babak pertama.
"Sejak menit pertama para pemain Casuarina langsung menggempur. Gawang tim kita langsung bobol. Para pemain kita tampak bermain 'under pressure' (di bawah tekanan)," kata Hamid kepada ANTARA yang menghubunginya saat babak pertama masih berlangsung.
Dalam pertandingan 19 April malam, dukungan warga masyarakat Indonesia yang ada di Darwin "lumayan besar" namun tetap jauh dari jumlah supporter tim tuan rumah, kata ayah satu anak yang sudah menetap di Darwin selama tujuh tahun ini.
Terlepas dari kalah-menang dalam pertandingan di "President Cup" 2008, Penasehat "Garuda Football Club", Sahrul Tahir, mengatakan, kehadiran Garuda FC di kancah persepakbolaan Australia di NT setidaknya telah memberikan warna baru.
Keterlibatannya dalam mengasuh tim Garuda di Darwin juga memberikan pengalaman baru baginya. Sahrul mengatakan, untuk kepentingan kompetisi Liga NT yang dijadwalkan berlangsung hingga September 2008, pihaknya diharuskan FFNT memiliki "base" (tempat) sendiri untuk berlatih.
Untuk itu, pihaknya sudah menyewa lapangan sepakbola Wulangi, Darwin, sebagai tempat latihan.
Keikutsertaan Garuda FC dalam President Cup merupakan batu ujian pertama sebelum beranjak ke jenjang kompetisi sepakbola Australia berikutnya.
Sahrul yang juga manajer Garuda Indonesia untuk negara bagian Northern Territory ini mengatakan, di setiap negara bagian terdapat liga namun liga sepakbola tertinggi di Australia adalah "A-League".
"A-League" ini merupakan liga tahunan paling bergengsi dan sejauh ini diikuti oleh delapan kesebelasan sejak dimulai pada musim 2005/2006.
Pada musim 2007/2008, juara utama musim pertamanya adalah skuad "Adelaide United" sedangkan juara bertahan adalah skuad "Newcastle Jets".
Bagi tim Garuda FC, perjalanan menuju liga bergengsi di Australia masih sebatas angan. "Ya kita mulai dari 'President Cup' ini dulu. Habis itu, siapa tahu nasib baik membawa kita ke kompetisi yang lebih tinggi," katanya.
Tanpa dibebani target
Keikutsertaan anak-anak "New Boys Garuda" dalam President Cup FFNT sejak awal memang tidak dibebani target yang tinggi apalagi pada saat undian penetapan grup, Garuda FC masuk grup keras karena berada bersama tim-tim papan atas Darwin.
"Yang penting bagi kita saat ini adalah kita sudah resmi menjadi anggota FFNT. Terus setelah diterima (FFNT), klub kita ini langsung didaftar ke pusat, yakni Australian Football Federation," kata Sahrul.
Dengan berbekal lisensi FFNT, pihaknya merekrut para pemain yang sejauh ini berjumlah 28 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 15 orang di antaranya adalah "putra-putra Indonesia" dan selebihnya asing.
Terkait dengan pembiayaan klub, Sahrul mengatakan, sejauh ini Garuda Indonesia masih menjadi "penyokong dana" utama yang didukung Konsulat RI Darwin dan partisipasi masyarakat Indonesia.
"Untuk sementara ini, semua masih Garuda. Maklum, kita kan baru mulai. Tapi konsep saya adalah pertama kita bangun kesadaran dulu. Dan, langkah berikutnya, kita bangun kepercayaan. Dari situ Insya Allah kita baru 'layak jual'," katanya.
Untuk kepentingan liga NT hingga September 2008 misalnya, kendati Sahrul enggan mengungkapkan jumlah persisnya, ia tidak menampik kalau dana yang dikeluarkan bisa mencapai puluhan ribu dolar Australia.
"Kita perhitungkan, dengan partisipasi dan dukungan Konsulat RI, Garuda, dan masyarakat Indonesia, Insya Allah, pengeluaran itu bisa 'tercover' (tertanggulangi). Namun 'concern' (keprihatinan) kita sebenarnya adalah soal peraturan federasi, yakni manajemen klub harus ketat dan keuangan harus diaudit oleh auditor dari Federasi Sepakbola Northern Territory (NT)," katanya.
Dalam soal pendanaan klub di masa mendatang, Sahrul optimis bahwa pengalaman klub-klub sepakbola mapan di Darwin akan bisa diikuti oleh Garuda FC.
Di antara klub-klub mapan itu, katanya, ada yang memiliki lima hingga sepuluh perusahaan sebagai penyokong dana klub.
"Saya malah berharap ada perusahaan Indonesia lain di Australia yang mau ikut membangun 'Indonesia Incorporated' melalui Garuda FC."
Seperti halnya di negara-negara maju lain, di Australia pun, olahraga sudah lama menjadi komoditas bisnis yang besar. Sebagai contoh, dalam liga nasional Australia ("A-League" Hyundai) yang berakhir Februari lalu, dukungan sponsor datang dari Hyundai, Qantas, Telstra, Powerade, Ballantines, Zurich, Foxtel dan Fox Sports.
Sejauh ini, "Australian Football League" (AFL= liga sepakbola aturan Australia-red.) masih menjadi tontonan olahraga yang terpopuler dengan rata-rata jumlah penonton mencapai 36 ribu orang.
Namun popularitas sepakbola (soccer) juga mulai tampak menguat terutama sejak skuad "Socceroos", julukan tim kesebelasan nasional Australia, berhasil kembali masuk ke putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman setelah keikutsertaannya tahun 1974.
Dalam pertandingan grand final "A-League Hyundai" antara kesebelasan "Marines" dan "Newcastle Jets" 25 Februari lalu, setidaknya 36.354 orang memadati Stadion Sepakbola Sydney. Jumlah penonton sebanyak itu belum termasuk mereka yang menyaksikan pertandingan melalui siaran langsung Fox Sports.
Prospek cerah dunia persepakbolaan Australia ini menjadi pemicu semangat bagi Garuda FC untuk melangkah. Di dalam usianya yang masih sangat muda, debut Garuda FC yang cukup baik di dua pertandingan awal President Cup 2008 di Darwin setidaknya sudah membuka mata komunitas bola dan pejabat pemerintah NT, kata Sahrul.
"Bahkan ada menteri Northern Territory yang menyampaikan selamat kepada Garuda FC," katanya.
Animo masyarakat Indonesia di Darwin untuk menonton pertandingan sepakbola pun semakin meningkat setelah kehadiran skuad Garuda FC. Untuk meningkatkan keterampilan para pemain, pihaknya mendambakan kehadiran seorang pelatih bersertifikat dari PSSI.
"Ada keinginan dari anak-anak kita untuk mendapatkan 'coaching clinic'(pelatihan) selama dua minggu dari pelatih bersertifikat dari PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia)," kata Sahrul.
Kehadiran pelatih bersertifikat PSSI ini merupakan bagian dari langkah pihaknya untuk memperkuat kepak sayap skuad Garuda dalam persepakbolaan Australia, katanya.
*) My news-writing for ANTARA on April 19, 2008

No comments:
Post a Comment