Ketersediaan stok beras untuk keluarga miskin (Raskin) dalam jumlah yang memadai dan adanya pembatasan ekspor di tengah tingginya harga beras dunia adalah dua langkah yang tepat bagi pemerintah RI untuk menghadapi ancaman krisis pangan dunia, kata seorang peneliti."Penambahan stok beras Raskin dan pembatasan ekspor adalah dua kebijakan yang tepat untuk saat ini," kata Joni M.M.Aji, dosen Universitas Jember yang sedang mengikuti program doktor di Universitas Queensland, kepada ANTARA di Brisbane, Jumat.
Dosen Departemen Ekonomi Sosial Fakultas Pertanian Universitas Jember itu mengatakan, sejauh ini neraca beras Indonesia relatif "berimbang" antara produksi dan konsumsi namun pembatasan ekspor perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Sesuai dengan kebijakan pemerintah, ekspor beras baru bisa dilakukan jika stok beras nasional sudah mencapai lebih dari tiga juta ton, katanya.
Saat ini, kondisi pasar beras dunia sudah berubah. Pada Maret lalu, harga beras dunia dengan patahan 25 persen sudah mencapai lebih dari 500 dolar AS per ton sedangkan harga beras di dalam negeri (Indonesia) dengan mutu yang sama mencapai Rp5.000 per kilogram atau sekitar 400 dolar AS per ton, katanya.
"Kenaikan harga beras dunia sebesar itu baru kali ini terjadi dalam dua puluh tahun terakhir," kata Joni.
Bahkan pada awal April 2008, harga beras dunia sudah mencapai 750 dolar AS per ton namun harga beras dengan kualitas yang sama di dalam negeri masih sekitar 5.600-an rupiah per kilogram atau masih di bawah harga beras dunia, katanya.
Melambungnya harga pasar beras dunia itu, menurut dia, tidak terlepas dari ancaman krisis minyak dunia akibat terus membengkaknya harga. Akibat harga minyak dunia yang meroket ini, sejumlah negara maju mengonversi produksi pertaniannya untuk keperluan pembuatan bahan bakar nabati (biofuel), seperti jagung, kedele dan beras.
Kebijakan ini mengakibatkan pasokan bahan pangan dunia, termasuk beras, berkurang sedangkan permintaan bertambah. Kondisi inilah yang menyebabkan harga beras naik.
Selain adanya kebijakan "biofuel" di negara-negara maju, bencana alam yang melanda sejumlah negara produsen beras juga ikut berpengaruh walaupun bukan menjadi faktor utama, katanya.

No comments:
Post a Comment