Wednesday, April 23, 2008

PENELITI AUSTRALIA UNGKAP RAHASIA KOMODO INDONESIA

Tim peneliti Universitas New South Wales (UNSW) Australia berhasil mengungkap rahasia Komodo sebagai "mesin pembunuh" sekalipun gigitan reptilia asal Pulau Komodo, Indonesia, ini sama "lemahnya" dengan kucing.

Keberhasilan tim peneliti Australia dalam mengungkap rahasia kedahsyatan binatang dengan panjang rata-rata dua hingga tiga meter dan berat hingga 70 kilogram ini didukung oleh prinsip-prinsip teknik yang biasa digunakan dalam uji tabrakan alat transportasi.

Menurut laporan riset UNSW yang diterima ANTARA dari Konsultan Komunikasi Internasional UNSW, Louise Williams, di Brisbane, Rabu, Komodo (Varanus komodoensis) itu bisa dengan mudah membunuh buruannya, termasuk kerbau, tanpa menggunakan kekuatan besar.

Kadal raksasa ini tumbuh menjadi mesin pembunuh yang hebat dengan cara mengangkat rahangnya yang lemah dengan menggunakan otot-otot leher dan badan untuk menarik binatang yang menjadi korbannya pada saat menggigit.

Dengan gigi-gigi tajam dan bergerigi, satu kali gigitan Komodo bisa merobek sebungkal daging binatang buruannya dalam sekali sergap.

Peneliti UNSW Dr Stephen Wroe dalam laporan riset itu menjelaskan bagaimana serangan Komodo dapat menimbulkan luka serius di tubuh binatang buruannya, termasuk invertebrata, burung, mamalia, termasuk kerbau.

Dalam kondisi binatang buruannya yang terluka, Komodo kembali menyantap sebongkah daging, lalu berhenti dan menunggu sampai korbannya mati kehabisan darah, katanya.

Dari penelitian itu terbukti Komodo memiliki cara membunuh yang sangat efektif, terutama dibandingkan dengan jenis kucing besar yang harus menggunakan tenaga besar dan beresiko terluka saat mencekik mati buruannya, kata Dr.Wroe.

Ia lantas menganalogikan teknik membunuh Komodo dengan Hiu Putih Australia yang juga suka membiarkan binatang buruannya (anjing laut) mati dengan sendirinya tanpa ia harus mengeluarkan tenaga tambahan.

Dalam hasil penelitian itu, terungkap pula bagaimana tim riset UNSW ini bekerja.

Dalam penelitiannya, mereka menggunakan model-model komputer teknik yang biasa dipakai untuk mengukur kekuatan dalam simulasi uji kecelakaan pesawat terbang, kereta api, maupun mobil.

Mereka membangun apa yang disebut predator digital tiga dimensi sesuai dengan data yang mereka peroleh dari "CT Scan" spesimen Komodo milik sebuah meseum.

Untuk pertama kalinya, penelitian ini menghasilkan pengukuran-pengukuran yang akurat tentang bio-mekanik kekuatan gigitan Komodo maupun mekanisme makanannya.

Hasil riset ini telah dipublikasi di edisi terbaru "Journal of Anatomy". Populasi reptilia yang pertama kali ditemukan para peneliti Barat tahun 1920 ini perkirakan mencapai 4.000 - 5.000 ekor di habitat aslinya.

Namun, akibat perkembangan kegiatan manusia, eksistensi binatang yang punya kaitan dengan binatang purba 100 juta tahun lalu ini cenderung terdesak.

Perhimpunan Konservasi Alam Internasional (IUCN) kemudian memasukkan Komodo ke dalam daftar binatang yang patut dilindungi.

Binatang pemakan daging bangkai ini tahun lalu dilaporkan pernah memangsa seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun di Pulau Komodo kendati kasus ini termasuk kasus langka.

*) My news for ANTARA on April 23, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity