Australia menyiapkan dana tiga juta dolar Australia melalui Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Organisasi Internasional Untuk Migrasi (IOM) guna mendukung upaya pembangunan perdamaian di Timor Leste.Badan Pembangunan Internasional Australia (AusAID), Jumat, menyebutkan, dukungan Canberra itu tidak hanya difokuskan pada bantuan kemanusiaan tetapi juga pada upaya membangun kemampuan Timor Leste dalam pengelolaan bencana alam dalam jangka panjang.
Sejauh ini, PBB memperkirakan sebanyak 100 ribu warga Timor Leste masih tinggal di barak-barak pengungsian akibat kerusuhan berdarah yang pecah pada April dan Mei 2006.
Guna menangani para warga yang tercerabut dari kampung-kampung halaman mereka akibat konflik ini, AusAID mengatakan, pemerintah Australia melalui UNDP mendukung upaya pemerintah dan warga Timor Leste untuk membangun dialog dengan para pengungsi.
Para pengungsi yang menjadi sasaran program UNDP yang didukung Australia itu berada di distrik Lautem, Baucau, Viqueque, Ermera, Manufahi, Ailieu dan Dili.
AusAID menyebutkan, IOM akan membantu peningkatan kapasitas lembaga-lembaga pemerintah Timor Leste dalam penanganan risiko bencana dalam jangka panjang.
Negara yang pernah menjadi provinsi ke-27 Indonesia sebelum penyelenggaraan jajak pendapat tahun 1999 yang memberi jalan baginya mendapat kemerdekaan dari PBB tahun 2002 itu dikenal rentan terhadap ancaman bencana banjir, gempa bumi, dan kekeringan.
Sejak pertengahan 2006, Australia sudah mengeluarkan dana sebesar 17 juta dolar Australia untuk mendukung misi bantuan kemanusiaan kepada rakyat Timor Leste.
Sejak merdeka tahun 2002, instabilitas politik, sosial dan ekonomi terus mendera Timor Leste. Setelah pecah konflik terbuka tahun 2006 yang menewaskan 37 orang dan menyebabkan lebih dari 155 ribu orang warga lainnya mengungsi, insiden kekerasan kembali terjadi di sana pada 11 Februari 2008 lalu.
Saat itu, kelompok tentara pembelot pimpinan Alfredo Reinado melakukan serangan terpisah kepada Presiden Timor Leste, Jose Ramos Horta, dan Perdana Menteri Xanana Gusmao.
Akibat serangan itu, Presiden Ramos Horta mengalami dua luka tembak, sedangkan PM Xanana Gusmao selamat tanpa cidera apapun. Pemerintah Australia, Indonesia, dan PBB mengutuk serangan tersebut.
Australia yang sejak pecahnya krisis pasca pengumuman hasil jajak pendapat PBB tahun 1999 tetap memainkan peranan dominan di Timor Leste.
Dalam kunjungan singkatnya di Timor Leste 15 Februari lalu, PM Australia Kevin Rudd sempat membicarakan perihal kerja sama kedua negara di bidang ekonomi, seperti pembangunan infrastruktur, penyediaan lapangan pekerjaan bagi para pemuda dan pembangunan perdesaan, dengan PM Xanana Gusmao.
Pengamat masalah Timor Leste di Universitas Nasional Australia (ANU), George Quinn, dalam wawancara dengan ANTARA juga menggarisbawahi pentingnya pemerintah Timor Leste segera memperbaiki kondisi perekonomian rakyat di pedalaman dan masalah pengungsi.
"Saya tiga kali ke Dili sepanjang tahun 2006 dan 2007. Saya keluar masuk barak-barak pengungsian yang banyak dijumpai di kota Dili, termasuk di depan Bandar Udara Internasional Dili," katanya.
Masalah pengungsi ini merupakan persoalan yang harus segera diselesaikan pemerintah Timor Leste karena tidak sedikit dari para pengungsi itu enggan dipulangkan karena mereka masih takut, katanya.
*) My news for ANTARA on April 4, 2008

No comments:
Post a Comment