Monday, April 28, 2008

ADJIE NOTONEGORO TARIK PERHATIAN PENGUSAHA FESYEN SELANDIA BARU

Asosiasi pengusaha fesyen Selandia Baru membuka peluang kerja sama dengan mitra mereka dari Indonesia setelah bertemu Perancang busana kondang, Adjie Notonegoro, di Auckland pekan lalu, kata Kabid Penerangan KBRI Wellington, Sekretaris I Tri Purnajaya.

Keinginan tersebut terungkap dalam pertemuan Adjie Notonegoro dengan 20 orang anggota Asosiasi Pengusaha Fesyen "New Market" Auckland pada 23 April atau sehari sebelum ia menggelar acara fesyen bertema batik di Hotel Hyatt Auckland, katanya dalam keterangan persnya yang diterima ANTARA di Brisbane, Senin.

"Ketua Asosiasi Pengusaha Fashion New Market, Cameron Brewer mengharapkan kunjungan Adjie dapat memberikan peluang dan membuka kesempatan kerja sama antara industri fesyen Indonesia dan Selandia Baru," katanya.

Adjie Notonegoro menggelar acara fesyen bertema batik sebagai warisan budaya asli Indonesia dengan menampilkan 24 koleksi kebaya dan gaun malam rancangannya. Karya-karyanya itu dibawakan oleh 10 orang peragawati Indonesia, termasuk Catherine Wilson.

Puncak acara promosi Batik yang berlangsung 24 April lalu itu dihadiri sekitar 300 orang, termasuk Menteri Pendidikan dan Menteri Urusan Etnik Chris Carter, beberapa anggota perlemen, komunitas perancang busana, dan kalangan pengusaha distributor tekstil, katanya.

Kehadiran Adjie Notonegoro di Selandia Baru itu tidak terlepas dari upaya Departemen Luar Negeri RI memberikan kesempatan kepada publik luar negeri, termasuk masyarakat Selandia Baru, untuk mengetahui perkembangan karya-karya perancang kebaya dan gaun malam bermotif batik terbaik Indonesia, katanya.

"Konsep modern dan elegan yang dikembangkan Adjie dalam rancangannya itu menarik perhatian dan sesuatu yang diluar dugaan," katanya.

Menurut Tri, Indonesia perlu lebih gencar lagi mempromosikan batik sebagai warisan budaya asli Indonesia terlebih lagi batik sering diklaim oleh beberapa negara lain sebagai milik mereka.

Dengan promosi yang gencar itu, terbuka pula peluang pasar industri batik Indonesia yang akan mendorong kemajuan industri batik dan berimbas pada kehidupan para pengrajin batik di daerah-daerah, katanya.

"Di tengah acara fesyen Adjie di Auckland, dilaksanakan pula kegiatan pelelangan sebuah baju yang disumbangkan Adjie. Kegiatan itu berhasil mengumpulkan dana sebesar seribu lima ratus dolar (Selandia Baru) untuk diserahkan kepada NZ Breast Cancer Foundation (Yayasan Kanker Payudara Selandia Baru)," katanya.

Tri mengatakan, kegiatan sosial semacam ini mendapat simpatik warga Selandia Baru, katanya.

*) My news for ANTARA on April 28, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity