Pemerintah Indonesia dan Timor Leste perlu menjaga hubungan kekerabatan para diaspora Timor Timur yang ada di Indonesia dengan sanak-saudara mereka di Timor Leste melalui pemberian akses saling berkunjung yang mudah bagi keduanya karena kondisi ini akan sangat membantu penyehatan hubungan kedua negara, kata seorang pengamat Australia."Kalau mereka bisa saling berkunjung, hal ini akan sangat membantu pulihnya hubungan baik kedua negara," kata Indonesianis yang juga pakar masalah Timor Leste dari Universitas Nasional Australia (ANU), Dr.George Quinn, kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Selasa.
Keberadaan diaspora Timor Timur (Timtim) di Indonesia yang jumlahnya diperkirakan antara 40 hingga 60 ribu orang itu sangat signifikan dalam membantu penguatan hubungan Indonesia-Timor Leste namun pemerintah kedua negara perlu memikirkan bagaimana hubungan kekerabatan mereka ini dapat dijaga dengan baik, katanya.
"Diaspora Timor Timur umumnya sudah betah dan senang tinggal di Indonesia dan mereka pun sudah jadi 'aset' bagi Indonesia. Kalau kembali ke Timtim, tidak ada insentif buat mereka," kata George Quinn menanggapi masalah masa depan hubungan kedua negara dan kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Xanana Gusmao ke Jakarta.
Apa yang perlu dilakukan pemerintah kedua negara adalah "bagaimana mempertahankan hubungan mereka dengan sanak saudara yang ada di Timtim melalui pemberian kemudahan bagi mereka untuk saling berkunjung", kata akademisi penerima penghargaan tertinggi bidang pendidikan dari Rektor ANU tahun 2007 ini.
Bagi Indonesia, fakta bahwa Perdana Menteri Xanana Gusmao adalah sosok pemimpin Timor Leste yang bersimpati serta memiliki keinginan yang kuat untuk memelihara hubungan yang baik dan lebih erat lagi dengan Indonesia adalah fakta yang patut disyukuri, kata Indonesianis yang pernah menempuh pendidikan di UGM itu.
"Hal ini perlu dipupuk karena Xanana adalah seorang sahabat Indonesia sejati," kata George Quinn.
Keberadaan diaspora Timtim di luar negeri bukanlah hal baru karena pada saat Timtim masih menjadi bagian dari Indonesia, sekitar 20 hingga 30 ribu orang Timtim juga lari dan tinggal di Australia dan Portugal, katanya.
Kini lebih banyak diaspora Timtim justru tinggal di Indonesia. "Walau tidak ada angka yang tepat, jumlah mereka diperkirakan mencapai 40 hingga 60 ribu orang," kata kepala Pusat Asia Tenggara Fakultas Studi-Studi Asia ANU itu.
Pelik kalau dilindungi
Keberadaan mereka yang tinggal di Indonesia maupun yang ada di Australia yang jumlahnya diperkirakan ada 20 ribu orang tidak menjadi masalah dalam hubungan Indonesia dan Australia dengan Timor Leste. Namun tetap ada di antara mereka itu yang memiliki hubungan kekerabatan dengan aneka ragam orang-orang Timor Leste.
Hubungan yang sedemikian rupa ini menjadi pelik di saat para pengacau keamanan di Timor Leste, termasuk yang ikut dalam upaya pembunuhan terhadap Presiden Jose Ramos Horta dan PM Xanana Gusmao, mendapat perlindungan dari sanak keluarga dan teman-teman mereka, katanya.
"Walaupun Indonesia tidak ikut campur tapi kehadiran mereka ini bisa menjadi godaan bagi para pemberontak Timor Leste untuk lari ke Indonesia," katanya menanggapi tuduhan Presiden Ramos Horta tentang adanya "elemen eksternal" ikut terlibat dalam upaya pembunuhan yang gagal terhadap dirinya pada 11 Februari lalu.
Kemungkinan pemimpin kelompok tentara Timor Leste yang membelot, Alfredo Reinado, yang tewas dalam insiden serangan ke rumah Presiden Ramos Horta 11 Februari lalu itu juga mendapat dukungan orang-orang Timtim yang ada di Australia bisa saja terjadi karena dia misalnya disebut-sebut punya hubungan dengan seorang wanita Australia keturunan Timtim, Angelita Pires, katanya.
"Alfredo barangkali punya jaringan koneksi baik di Australia maupun di Indonesia yang bersimpati atau langsung mendukung untuk mengacau di sana (Timor Leste)," kata peneliti yang sudah beberapa kali mengunjungi Timor Leste baik sebelum maupun setelah menjadi negara merdeka itu.
Namun George Quinn enggan mengomentari tuduhan Presiden Ramos Horta kepada Desi Anwar, jurnalis senior Stasiun Metro TV Jakarta yang ditudingnya membantu Alfredo Reinado pada saat stasiun TV itu melakukan wawancara khusus dengan pemimpin tentara pembelot tersebut pada 23 Mei 2007.
Desi Anwar sendiri sudah membantah tuduhan Presiden Timor Leste Ramos Horta yang disebutnya sebagai "sangat lucu, tidak masuk akal dan sama sekali tidak benar" itu. Bahkan Metro TV dan Desi Anwar sendiri sudah melayangkan somasi kepada Presiden Ramos Horta melalui Kedubes Timor Leste di Jakarta.
Selama kunjungan lima harinya di Jakarta mulai 28 April, PM Xanana Gusmao antara lain bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Selasa (29/4). Selama di Indonesia hingga 2 Mei 2008, ia pun dijadwalkan melakukan kunjungan kehormatan kepada Ketua DPR, Ketua MPR, Panglima TNI dan Kapolri.
Xanana juga dijadwalkan bertemu kalangan usaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin), serta memberikan kuliah umum pada forum "Indonesian Council on World Affairs".

No comments:
Post a Comment