Airlangga Utama, pelajar Indonesia yang dipukul seorang pemuda Australia mabuk di Adelaide, Australia Selatan, Minggu pagi (9/3), ditegaskan tim dokter Rumah Sakit Royal Adelaide yang menanganinya mengalami retak tulang rahang, pipi dan kening serius, kata seorang diplomat Indonesia.Dengan kondisi demikian, Airlangga harus menjalani operasi yang cukup besar dan tim dokter memperkirakan dia setidaknya memerlukan waktu enam minggu proses penyembuhan, kata Sekretaris I/Konsuler KBRI Canberra, Meri Binsar Simorangkir, kepada ANTARA seusai menjenguk Airlangga di rumah sakit dan bertemu tim dokter, pihak sekolah, serta unsur kepolisian di Adelaide, Rabu.
"Saya ke Adelaide atas perintah Bapak Duta Besar Hamzah Thayeb untuk melihat dari dekat kondisi Airlangga dan menemui berbagai pihak terkait. Bersama Pak Joko Julianto, ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA perwakilan Australia Selatan), saya menjenguk Airlangga," kata Simorangkir.
Pihak rumah sakit, katanya, berencana melaksanakan operasi terhadap Airlangga pada Kamis (13/3).
Terkait dengan program pendidikan persiapan masuk universitas yang sedang dijalani remaja asal Jakarta ini di Sekolah Internasional "Eynesbury" Adelaide, pihak sekolah berharap kasus pemukulan yang telah menyebabkannya terbaring di rumah sakit tidak sampai mengganggu studinya.
"Pihak sekolah Eynesbury sangat menyesalkan aksi kekerasan terhadap siswanya ini tapi mereka akan memberi perhatian sehingga kejadian itu tidak sampai mengganggu masa studi dan Airlangga bisa tepat waktu masuk ke universitas," katanya.
Simorangkir mengatakan, Airlangga berencana melanjutkan studinya ke Fakultas Kedokteran Universitas Adelaide.
Selain bertemu dengan pihak rumah sakit dan sekolah, ia juga membahas kasus pemukulan Airlangga ini dengan unsur kepolisian Adelaide maupun negara bagian Australia Selatan.
"Saya meminta pihak kepolisian Hindley yang kini menangani kasus pemukulan ini supaya menangani kasusnya secara serius karena apa yang dialami pelajar kita ini cukup serius. Kasus ini jangan dipeti-eskan. Saya juga sudah bertemu dengan detektif kepala Polisi Australia Selatan John Gerlach untuk menyampaikan harapan yang sama."
"Mereka mengatakan, kasus pemukulan ini baru disidangkan di pengadilan Adelaide pada 16 Juni 2008, sedangkan tersangka yang sudah ditangkap aparat kepolisian para hari kejadian tidak ditahan setelah membayar uang jaminan," katanya.
Namun tersangka tetap diminta polisi melapor dan menandatangani semacam perjanjian tentang tidak melakukan tindakan kriminal lainnya serta tidak meninggalkan negara bagian Australia Selatan. "Jika dia melanggar perjanjian ini, dia akan ditahan kembali," kata Simorangkir mengutip penjelasan polisi setempat.
Terlepas dari jalannya aturan hukuman yang berlaku di Australia, ia menegaskan keprihatinan KBRI Canberra dan tekad semua unsur perwakilan dan masyarakat Indonesia untuk memantau secara dekat penanganan kasus pemukulan warga Australia terhadap warga negara Indonesia ini.
"Kita berharap polisi cukup memiliki informasi saat kasusnya dibawa ke pengadilan bahwa korban Airlangga banyak menderita. KBRI Canberra meminta keadilan atas tindakan pelaku sesuai dengan apa yang dia perbuat terhadap korban. Teman-teman PPIA juga diharapkan tetap mengawal perkembangan kasusnya," katanya.
Simorangkir mengatakan, ia juga mendapat informasi bahwa pihak asuransi akan menanggung seluruh biaya perawatan Airlangga.
Dapat perhatian besar
Kasus pemukulan terhadap Airlangga tidak hanya mendapat perhatian bagian kekonsuleran KBRI Canberra, tetapi juga dari awal kejadian juga mendapat perhatian serius pihak Konsulat Jenderal RI di Sydney serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr.R.Agus Sartono,MBA.
Sekretaris III/Wakil Konsul Bidang Kekonsuleran KJRI Sydney, Fery Iswandy, juga berada di Adelaide untuk memantau dari dekat kondisi Airlangga dan kasus pemukulan terhadap dirinya itu.
Konsul Jenderal RI Sydney, Sudaryomo Hartosudarmo, bahkan sudah menghubungi langsung ayah Airlangga, Hermansyah, di Jakarta via telepon untuk memberitahu kondisi terakhir putranya yang dirawat di Rumah Sakit Royal Adelaide sejak pemukulan terjadi pada Minggu pagi.
"KJRI Sydney pun sudah mengirim surat 'sponsorship' yang diperlukan untuk pengurusan visa kedua orang tua Airlangga di Kedubes Australia di Jakarta karena mereka berencana menjenguk putra mereka itu di Adelaide," katanya.
Mengenai kronologis kejadian, Febriyan Hidayat, saksi mata yang ada bersama Airlangga pada saat pemukulan terjadi, menjelaskan, insiden pemukulan itu terjadi pada Minggu pagi sekitar 5.45 waktu setempat di jalan Hindley depan Hotel Rockford ketika dia, Airlangga, Oscar dan Rian hendak menuju halaman parkir mobil di Jalan Rose.
"Saat lagi melintasi Jalan Hindley, kami melihat sekelompok anak muda, jumlahnya sekitar tujuh sampai sembilan orang yang kelihatan lagi mabuk. Kami menyadari mereka tampaknya ingin mencari-cari keributan. Saya berjalan bersebelahan dengan Oscar di sebelah kiri trotoar jalan, sedangkan Airlangga dan Rian berjalan di belakang saya," kata Febriyan.
Oscar yang kebetulan mengenal salah seorang dalam kelompok anak muda mabuk itu mencoba mendekatinya dengan harapan mereka mengurungkan niat untuk berbuat onar. Tapi salah seorang pemuda itu justru mencoba memukul Oscar.
"Untungnya temannya Oscar itu menahan rekannya supaya tidak memukul Oscar dengan berkata "Don't hit him guys, I know him, he always playing Bongo (Brazilian drum) at Rundle Mall and Rundle st' (Jangan pukul dia. Saya kenal sama dia karena dia sering main Bongo (drum Brazil) di Mal Rundle dan di Jalan Rundle," kata Febriyan.
Namun provokasi terhadap mereka, kata Febriyan, terus dilakukan oleh anak-anak muda Australia mabuk ini dengan cara mendekati dan menyenggolkan bahu keras-keras ke dirinya dan diri Rian namun mereka berhasil menghindar.
"Pada saat yang sama, seorang lainnya justru berdiri dan langsung memukul muka Airlangga dengan siku kanan. Airlangga yang tidak menyadari situasi (datangnya serangan mendadak-red.) itu tidak bisa menghindar dan tersungkur. Wajahnya menghantam aspal jalan," katanya.
Pemukulan terhadap Airlangga menambah jumlah kasus kekerasan yang pernah dialami pelajar/mahasiswa Indonesia.
Pada Oktober 2007 lalu, mantan Ketua Ranting PPIA di Universitas Victoria, Andi Syafrani, juga pernah mengalami tindak kekerasan saat dua pemuda dan seorang pemudi Australia merampok dirinya di halaman parkir Stasiun Kereta Footscray, Melbourne, negara bagian Victoria.
Andi pun sempat dirawat di rumah sakit akibat luka di muka terutama mata yang dideritanya. Di seluruh Australia, terdapat lebih dari 16 ribu orang pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan di Australia.

No comments:
Post a Comment