Wednesday, March 12, 2008

"SOLUSI DUA NEGARA" CARA TERBAIK PENYELESAIAN KONFLIK ISRAEL-PALESTINA

Australia memandang penyelesaian terbaik terhadap masalah konflik Palestina dan Israel yang berkepanjangan adalah pendekatan "solusi dua negara bangsa".

"Ada pandangan kuat yang dipegang teguh di Timur Tengah. Pandangan sangat kuat Pemerintah Australia adalah solusi dua negara ...," kata Menteri Luar Negeri Stephen Smith dalam pernyataan persnya, Rabu.

Penegasan sikap Canberra itu disampaikan Menlu Smith menjawab pertanyaan pers Australia berkaitan dengan 60 tahun berdirinya negara Israel yang sejak awal sejarahnya sangat didukung Australia.

Menlu Smith mengatakan, Australia menghormati "hak Israel" untuk hidup dan "sebuah negara bangsa (yang merdeka) bagi rakyat Palestina" sehingga Canberra sangat mendukung proses perdamaian Annapolis, Amerika Serikat (AS).

Secara umum, semua orang sangat prihatin dengan apa yang terus terjadi di kawasan Timur Tengah. Karenanya, Pemerintah Australia "sangat mendukung" upaya-upaya pemeliharaan keberlanjutan proses perdamaian Annapolis, katanya.

"Karenanya kami selalu mengungkapkan keprihatinan kami ketika orang-orang yang tidak berdosa menjadi korban konflik di Timur Tengah," katanya.

Menlu Smith mengatakan, Australia memiliki kontribusi bersejarah bagi kelahiran negara Israel.

Negara Yahudi itu diproklamasikan pada 14 Mei 1948. Berbeda dengan negara-negara seperti Australia, Inggris, Amerika Serikat dan Singapura yang mengakui eksistensi Israel serta membuka hubungan diplomatik dengannya, Indonesia hingga kini tidak mengakui kedaulatan Israel yang didirikan di atas tanah rakyat Palestina yang dicaploknya.

Sebaliknya, Indonesia mengakui kedaulatan Palestina kendati negara Palestina belum memiliki wilayah yang pasti. Israel sejauh ini memiliki total luas wilayah 20.770 kilometer persegi.

*) My news for ANTARA on March 12, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity