Tuesday, March 11, 2008

LAWATAN PRESIDEN RI KE IRAN SEKADAR SOLIDARITAS DUNIA ISLAM

Lawatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Iran tidak lebih dari sekadar bentuk solidaritas antarnegara "muslim" karena kepentingan politik lebih kental dibandingkan kepentingan ekonomi, kata seorang Indonesianis ANU.

Pakar ekonomi Indonesia di Sekolah Riset Studi-Studi Pasifik dan Asia (RSPAS) Universitas Nasional Australia (ANU), Dr.Hal Hill, mengatakan kepada ANTARA yang menghubunginya dari Brisbane, Rabu, ia tidak melihat adanya kepentingan ekonomi yang sangat besar Indonesia dalam kunjungan Presiden Yudhoyono ke Iran.

Namun, kunjungan dua hari ke Teheran itu tetap penting dalam persepsi negara-negara Barat karena Indonesia selama ini dipandang sebagai negara Muslim moderat yang bisa memainkan peranan penghubung atau "jembatan" mereka dengan Iran.

"Kunjungan Presiden Yudhoyono ke Iran itu lebih sekadar 'political solidarity' (solidaritas politik) antarsesama anggota Dunia Islam . Saya kira 'the economic substance' (substansi ekonominya) tidak begitu banyak," katanya.


Kilang di Banten
Prof.Hal Hill mengatakan, kalaupun Indonesia dan Iran sepakat membangun kilang minyak mentah di Banten, maka pertanyaan yang perlu diajukan adalah mengapa harus Iran mengingat banyak negara lain yang juga bisa bekerja sama dengan Indonesia.

"Tapi hal ini tentu baik untuk menjaga hubungan bilateral kedua negara (Indonesia dan Iran)," katanya.

Bagi negara-negara Barat, hubungan Indonesia yang relatif baik dengan Iran dinilai penting karena di mata Barat, Indonesia adalah representasi dari negara Islam yang moderat sedangkan Iran cenderung "terisolasi", kata Hal Hill.

Sementara itu, terkait dengan lawatannya ke Iran, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, ia tidak melihat ada risiko yang harus dihadapi Indonesia sehubungan dengan keputusannya melakukan lawatan ke Iran di saat resolusi 1803 mengenai penguatan sanksi atas program nuklir Iran baru saja disahkan oleh Dewan Keamanan PBB.

"Ini bukan era perang dingin dimana ada blok-blok tertentu," kata Presiden Yudhoyono kepada wartawan Indonesia dalam sesi jumpa pers di Istana Saad Abad, Teheran, Selasa malam.

Kepala Negara mengatakan, saat ini adalah era bebas sehingga Indonesia sebagai negara berdaulat pun dapat dengan bebas menjalankan politik luar negerinya yang bebas aktif.

Mengenai hasil kunjungannya ke Teheran, Presiden Yudhoyono mengatakan, pemerintah kedua negara sepakat untuk merealisasikan pembangunan kilang minyak mentah di Banten dengan kapasitas produksi 300 ribu barel per hari.

Kerja sama itu melibatkan PT Pertamina (persero), Oil Refining Industries Developing Company (ORIDC) dan Petrofield Refining Company Ltd (Malaysia).

"Pembagian sahamnya 40 persen Pertamina, 40 persen Iran dan 20 persen Malaysia," katanya.

Presiden Yudhoyono berharap dengan adanya kilang baru yang disebutkan bernilai enam miliar dolar AS itu, pasokan bahan bakar di dalam negeri diharapkan akan meningkat sehingga harganya bisa lebih murah karena pengolahan dilakukan di dalam negeri.

Presiden Yudhoyono berada di Iran dari 10 hingga 12 Maret 2008. Selain bertemu Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Kepala Negara juga bertemu pemimpin spiritual Ayatollah Ali Khameini.

*) disiarkan ANTARA pada 12 Maret 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity