Tim dokter Rumah Sakit Royal Adelaide, Australia Selatan, selama hampir empat jam hari Kamis melakukan operasi plastik terhadap bagian tulang muka Airlangga, pelajar Indonesia yang babak belur dipukul seorang pemuda Australia mabuk Minggu pagi (9/3) lalu."Operasi berlangsung hampir empat jam dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 13.00 waktu Adelaide. Setelah itu tim dokter juga masih memerlukan waktu tiga jam untuk memonitor perkembangan sehingga baru pukul 16.00 Airlangga dipindahkan ke ruang rawat," kata Sekretaris I/Konsuler KBRI Canberra, Meri Binsar Simorangkir.
Mengutip penjelasan tim dokter, Simorangkir mengatakan kepada ANTARA, operasi berjalan dengan baik. "Kami melihat wajah Angga (panggilan akrab Airlangga) jauh lebih baik. Tapi dokter masih terus memantau perkembangan Airlangga selama 24 jam ke depan untuk melihat perkembangan pascaoperasi," katanya.
Remaja yang memiliki nama lengkap Airlangga Hutama dan akrab dipanggil "Angga" ini baru bisa diberi minum karena tulang-tulang mukanya masih belum kuat untuk dapat makan. "Kami sejak tadi pagi terus memonitor perkembangannya di Rumah Sakit Royal Adelaide," kata Simorangkir.
Kesadaran Airlangga belum pulih benar pascaoperasi yang dilakukan tim dokter yang dipimpin langsung oleh ahli bedah plastik RS Royal Adelaide, J.Katsaros, ini, katanya.
"Tim medis menyampaikan bahwa mereka perlu beberapa waktu tapi mereka menyampaikan syukur karena luka dan retak tulang muka Angga bisa dioperasi dengan baik. Kami pun melihat bahwa hasil operasinya sangat baik tanpa terlihat bekas operasi," katanya.
Ia mengatakan, tak tampaknya bekas operasi itu menurut penjelasan tim dokter memungkinkan karena pembedahan dilakukan dari bagian dalam mulut dan bawah kelopak mata.
"Kita ikut bersyukur warga kita bisa ditangani dengan baik oleh tim dokter," katanya.
Sehari sebelumnya, dalam penjelasannya, Simorangkir yang ditugaskan langsung Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb untuk memantau perkembangan kesehatan dan penanganan kasus pemukulan terhadap Airlangga di Adelaide itu mengatakan, Airlangga mengalami retak tulang rahang, pipi dan kening serius.
Tim dokter memperkirakan bahwa proses penyembuhan pelajar Indonesia yang sedang mengikuti program pendidikan persiapan masuk universitas di "Eynesbury College" Adelaide itu setidaknya memerlukan waktu enam minggu, katanya.
Dapat Perhatian
Kasus pemukulan terhadap Airlangga ini tidak hanya mendapat perhatian bagian kekonsuleran KBRI Canberra, tetapi juga sejak dari awal kejadian juga mendapat perhatian serius pihak Konsulat Jenderal RI di Sydney serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr R Agus Sartono MBA.
Sekretaris III/Wakil Konsul Bidang Kekonsuleran KJRI Sydney, Fery Iswandy, juga berada di Adelaide untuk memantau dari dekat kondisi Airlangga dan kasus pemukulan terhadap dirinya itu.
Konsul Jenderal RI Sydney, Sudaryomo Hartosudarmo, bahkan sudah menghubungi langsung ayah Airlangga, Hermansyah, di Jakarta via telepon untuk memberitahu kondisi terakhir putranya yang dirawat di Rumah Sakit Royal Adelaide sejak pemukulan terjadi pada Minggu pagi.
"KJRI Sydney pun sudah mengirim surat 'sponsorship' yang diperlukan untuk pengurusan visa kedua orang tua Airlangga di Kedubes Australia di Jakarta karena mereka berencana menjenguk putra mereka itu di Adelaide," katanya.
Mengenai kronologis kejadian, Febriyan Hidayat, saksi mata yang ada bersama Airlangga pada saat pemukulan terjadi, menjelaskan, insiden pemukulan itu terjadi pada Minggu pagi sekitar 5.45 waktu setempat di jalan Hindley depan Hotel Rockford ketika dia, Airlangga, Oscar dan Rian hendak menuju halaman parkir mobil di Jalan Rose.
"Saat lagi melintasi Jalan Hindley, kami melihat sekelompok anak muda, jumlahnya sekitar 7-9 orang yang kelihatan mabuk. Kami menyadari mereka tampaknya ingin mencari-cari keributan. Saya berjalan bersebelahan dengan Oscar di sebelah kiri trotoar jalan, sedangkan Airlangga dan Rian berjalan di belakang saya," kata Febriyan.
Oscar yang kebetulan mengenal salah seorang dalam kelompok anak muda mabuk itu mencoba mendekatinya dengan harapan mereka mengurungkan niat untuk berbuat onar. Tapi salah seorang pemuda itu justru mencoba memukul Oscar.
"Untungnya temannya Oscar itu menahan rekannya supaya tidak memukul Oscar dengan berkata "Don't hit him guys, I know him, he always playing Bongo (Brazilian drum) at Rundle Mall and Rundle st' (Jangan pukul dia. Saya kenal sama dia karena dia sering main Bongo (drum Brazil) di Mal Rundle dan di Jalan Rundle," kata Febriyan.
Namun provokasi terhadap mereka, kata Febriyan, terus dilakukan oleh anak-anak muda Australia mabuk ini dengan cara mendekati dan menyenggolkan bahu keras-keras ke dirinya dan diri Rian namun mereka berhasil menghindar.
"Pada saat yang sama, seorang lainnya justru berdiri dan langsung memukul muka Airlangga dengan siku kanan. Airlangga yang tidak menyadari situasi (datangnya serangan mendadak-red.) itu tidak bisa menghindar dan tersungkur. Wajahnya menghantam aspal jalan," katanya.
Pemukulan terhadap Airlangga menambah jumlah kasus kekerasan yang pernah dialami pelajar/mahasiswa Indonesia. Pada Oktober 2007 lalu, mantan Ketua Ranting PPIA di Universitas Victoria, Andi Syafrani, juga pernah mengalami tindak kekerasan saat dua pemuda dan seorang pemudi Australia merampok dirinya di halaman parkir Stasiun Kereta Footscray, Melbourne, negara bagian Victoria.
Andi pun sempat dirawat di rumah sakit akibat luka di muka terutama mata yang dideritanya. Di seluruh Australia, terdapat lebih dari 16 ribu orang pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan di Australia.
*) My news for ANTARA on March 13, 2008

No comments:
Post a Comment