Thursday, March 13, 2008

SETIAP TAHUN DUA JUTA ORANG MENINGGAL KARENA TBC

Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menghantui dunia. Setiap tahun penyakit ini membunuh sekitar dua juta orang di dunia. Korbannya terutama penduduk negara-negara miskin dan berkembang.

"Yang mengkhawatirkan, sekitar 75 persen penderita TBC adalah mereka yang masih berusia produktif, antara 15 dan 54 tahun," kata Sekretaris Parlemen Australia untuk Urusan Bantuan Pembangunan Internasional, Bob McMullan, saat membuka pameran foto tentang para penderita TBC di Gedung Parlemen Australia Canberra, Kamis.

Menurut McMullan, Australia berkomitmen untuk ikut memerangi penyakit yang membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar secara global dengan cara membantu negara-negara tetangga di kawasan Asia Pasifik.

Dalam pernyataan persnya yang dikeluarkan Badan Pembangunan Internasional Australia (AusAID) itu, McMullan mengatakan, Australia selama ini menyalurkan bantuannya untuk memerangi TBC melalui inisiatif "Dana Global untuk Memerangi AIDS, TBC, dan Malaria" (GFFATM).

Sejak terbentuk enam tahun lalu, GFFATM telah memberikan perawatan anti-retrovisal bagi 1,4 juta orang penderita HIV serta 3,3 juta orang penderita TBC, katanya.

Di antara negara-negara yang memiliki tingkat infeksi TBC relatif tinggi di dunia adalah Papua Nugini, Timor Timur, Kamboja dan Kiribati.

Pameran foto bertema TBC di Gedung Parlemen Canberra itu juga berkaitan dengan peringatan Hari TBC se-Dunia yang jatuh pada 24 Maret.

TBC adalah penyakit yang dapat diobati. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri (kuman) mycobacterium tuberculosis yang merusak paru-paru atau bagian tubuh lain.

Penyebaran penyakit ini relatif cepat, karena kuman TBC dapat ditularkan melalui udara pada saat penderita batuk, bersin atau berbicara. Umumnya orang terjangkit kuman TBC dari orang yang sering berada di sekitar mereka, seperti anggota keluarga, teman atau rekan kerja.

*) disiarkan ANTARA pada 13 Maret 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity