Saturday, March 29, 2008

WARGA AUSTRALIA DI BRISBANE MENUNGGU PENERBANGAN LANGSUNG GARUDA

Banyak warga Australia yang mengunjungi gerai Indonesia di pameran wisata internasional di Gedung Konvensi dan Eksibisi Brisbane menanyakan kapan Garuda kembali membuka rute penerbangan langsung Brisbane-Denpasar-Jakarta, kata seorang diplomat Indonesia.

"Para warga Australia yang bertanya itu umumnya berdomisili di Brisbane," kata Kabid Penerangan Konsulat Jenderal RI di Sydney, Minister Counsellor Pratito Soeharyo, kepada ANTARA yang menemuinya di arena pameran yang berlangsung dua hari mulai Sabtu dan diikuti lebih dari 100 gerai itu.

Ia mengatakan, pihaknya berupaya menjawab pertanyaan mereka itu dengan mengatakan, Garuda Indonesia akan kembali melayani rute penerbangan langsung Brisbane-Denpasar-Brisbane tersebut jika jumlah pesawat yang dimiliki Garuda sudah memadai.

Munculnya pertanyaan sebagian pengunjung pameran wisata internasional di Brisbane tentang penutupan rute penerbangan langsung Garuda Indonesia itu mengisyaratkan adanya perhatian mereka terhadap Bali dan Indonesia, katanya.

Penelusuran ANTARA pun mendapati adanya dampak negatif terhadap daya saing pariwisata Indonesia, khususnya Bali, akibat dari keputusan Garuda Indonesia menghentikan rute penerbangan langsungnya dari Brisbane ke Denpasar sejak 13 Januari 2007 itu.

Setidaknya hal ini pernah diakui oleh Operator "Student Flight" di kawasan St.Lucia, Andrew Ellison. Ia mengatakan, sejak Garuda Indonesia menghentikan rute penerbangan langsungnya itu, para turis Australia dan mancanegara dari Brisbane cenderung lebih memilih berwisata ke Bangkok, Thailand, daripada Bali.

"Bagi para turis 'back packer' (turis dengan kantong mahasiswa) lebih murah berlibur ke Thailand daripada Bali akibat tak adanya lagi penerbangan langsung Garuda Indonesia ke Denpasar dari Brisbane. Mereka yang ingin ke Bali harus terbang lewat Sydney atau Darwin," katanya dalam sebuah perbincangan Agustus 2007 lalu.

Kondisi ini sangat tidak praktis karena mereka harus mengeluarkan uang setidaknya 1.200 dolar Australia untuk penerbangan PP. Dengan biaya tiket sebanyak itu, berlibur ke Bangkok, Thailand, justru lebih murah.

Ketika Garuda masih melayani rute penerbangan langsung Brisbane-Denpasar, tiket PP maskapai penerbangan ini tergolong "murah", yakni hanya sekitar 500 dolar Australia, katanya.

Kembali ke masalah keikutsertaan Indonesia dalam pameran wisata internasional di Brisbane itu, Pratito mengatakan, sepanjang Sabtu pagi hingga sore, gerai Indonesia sudah dikunjungi oleh lebih dari 2.000 orang pengunjung.

Jumlah total pengunjung gerai Indonesia di hari pertama ini didasarkan pada jumlah tas suvernir berisi info paket dan brosur wisata yang habis diberikan, katanya.

Keikutsertaan Indonesia dalam pameran ini berada di bawah payung Pusat Promosi Pariwisata ASEAN (APCT) bersama dengan Filipina, Thailand, Singapora, dan Malaysia, katanya.

Indonesia mengandalkan potensi "eco-tourism" (eko turisme) mengingat sekitar 60 persen dari pengunjung pameran di Brisbane ini adalah para orang tua dan pensiunan yang menginginkan suasana berlibur yang tenang, bersih, aman, dan nyaman.

"Kita berharap daerah-daerah kita siap dengan semua tuntutan itu," katanya.

Pratito mengatakan, Bali masih menjadi daya tarik utama Indonesia dalam pameran wisata untuk menyongsong musim libur musim dingin ini namun pihaknya tidak hanya menawarkan paket-paket wisata Bali tetapi juga mencoba untuk mengenalkan potensi daerah tujuan wisata Nusantara di luar Bali dan Lombok.

Tema "Go Beyong Bali" itu sesuai dengan tujuan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan (stake holders) industri pariwisata nasional untuk membangun citra kebinnekaan Indonesia, katanya.

Untuk itu, para pengunjung gerai juga diperkenalkan dengan daerah-daerah tujuan wisata potensial yang tersebar mulai dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Utara, hingga Sumatra. Dua di antaranya adalah Bunaken di Sulawesi Utara dan Danau Toba di Sumatera Utara, katanya.

Keikutsertaan Indonesia yang didukung oleh KJRI Sydney dan Biro Perjalanan Indonesia, Net Fare, itu dimaksudkan untuk mendukung upaya menyukseskan Tahun Kunjungan Wisata Indonesia (VIY) 2008, katanya.

Gerai Indonesia yang dihiasi dengan ornamen-ornamen yang khusus didatangkan dari Pulau Bali ini didukung oleh enam orang personil yang berasal dari unsur KJRI Sydney dan Net Fare, katanya.

Selain diikuti lima negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), pameran itu juga diikuti gerai-gerai milik industri pariwisata Australia yang ada di berbagai negara bagian.

*) My news for ANTARA on March 29, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity