Gerakan "Earth Hour" untuk membangun kesadaran publik akan pentingnya ikut menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global berlangsung di berbagai kota utama di Australia, seperti Brisbane, Sydney, dan Canberra, Sabtu malam.Beberapa jam sebelum "Earth Hour" berlangsung, di antara para mahasiswa Indonesia yang berdomisili di sekitar kampus Universitas Queensland St.Lucia juga saling mengingatkan untuk mendukung gerakan etis penyelamatan bumi ini melalui kelompok milis Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di UQ (UQISA).
"'Please, remember to SWITCH OFF all your lights during 8pm - 9pm TONIGHT.' (Ingat mematikan semua lampu dari pukul 20.00 sampai 21.00 malam ini-red.). Selamat bergelap-gelap ria. Salam lingkungan," demikian isi salah satu surat elektronis di kelompok milis anggota UQISA.
Selama berlangsungnya gerakan "Earth Hour" dari pukul 20.00 hingga 21.00 waktu Brisbane, suasana gelap gulita menyelimuti banyak rumah dan gedung di St.Lucia dan kawasan-kawasan lain di sekitar kota Brisbane namun lampu-lampu penerangan jalan tetap hidup.
Dukungan terhadap kampanye penyelamatan bumi ini tidak hanya diberikan oleh masyarakat dan pemerintah tetapi juga kalangan perguruan tinggi yang ada di kota Brisbane dan sekitarnya.
Pihak rektorat UQ misalnya sudah sejak 5 Maret lalu mengumumkan adanya pemadaman lampu di gedung-gedung kampus selama satu jam mulai pukul 20.00.
Vice-Chancellor UQ, Prof. Paul Greenfield, AO, mengatakan, pihaknya senang bisa ikut mendukung kampanye pembangunan kesadaran publik akan pentingnya konservasi energi dan dampak perubahan iklim global yang didukung oleh berbagai pihak di Australia dan internasional ini.
"Di negara bagian Queensland, Walikota Brisbane Campbell Newman, dan Premier Queensland, Anna Bligh, pun telah berkomitmen untuk mendukung 'Earth Hour' 2008 bersama dengan ribuan pebisnis," katanya dalam pernyataan persnya 5 Maret lalu.
Gerakan "Earth Hour" itu tidak hanya didukung oleh masyarakat dan pemerintah kota dan negara bagian di Australia tetapi juga didukung kantor-kantor perwakilan RI di sana.
ANTARA mencatat setidaknya kampanye itu didukung oleh KBRI Canberra, Konsulat Jenderal RI di Sydney dan Konsulat RI di Darwin.
Indonesia mendukung
Juru Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi, misalnya mengatakan, pemadaman listrik dilakukan di dalam gedung KBRI Canberra dan Wisma Indonesia di Canberra selama satu jam.
Dukungan perwakilan pemerintah RI di Canberra itu, katanya, merupakan bentuk kepedulian Indonesia pada kampanye pengurangan emisi karbon dan penyelamatan lingkungan.
Dino Kusnadi mengatakan, gerakan "Earth Hour" yang pada mulanya digagas World Wild Fund for Nature (WWF) Australia di Sydney pada 31 Maret 2007 dan kemudian diperluas menjadi inisiatif global di Bali pada 14 Desember 2007 ini sudah mendapat dukungan banyak kota di Australia dan dunia.
Gerakan mematikan lampu secara serempak selama satu jam pada Sabtu malam (29/3) itu sangat baik untuk mengurangi beban polusi karbon dioksida di bumi. Karena itu KBRI Canberra dan Wisma Indonesia mendukung gerakan ini, katanya.
Setidaknya 24 kota di dunia mendukung kampanye perubahan iklim "Earth Hour" WWF ini. Ke-24 kota itu adalah Atlanta, San Francisco, Phoenix, Bangkok, Ottawa, Vancouver, dan Montreal Dublin.
Selanjutnya Sydney, Perth, Melbourne, Canberra, Brisbane, Adelaide, Copenhagen, Aarhus, Aalborg, Odense, Manila, Suva, Chicago, Tel Aviv, Toronto dan Christchurch.
Gerakan mematikan lampu selama sejam itu tidak dapat dilepaskan dari inisiatif WWF Australia di Sydney pada 31 Maret 2007.
Saat itu, sekitar 2,2 juta orang warga dan 2.100 perusahaan di kota metropolitan terbesar Australia itu serentak mematikan lampu selama satu jam pada tanggal tersebut.
WWF Australia memperkirakan emisi karbon yang bisa dikurangi dari gerakan mematikan lampu selama satu jam dalam setahun penuh di Sydney itu setara dengan mengeluarkan 48.616 unit mobil dari jalan-jalan kota itu.
Setelah keberhasilan di Sydney itu, para aktivis lingkungan hidup Australia lalu memperluas inisiatif mereka ini ke tingkat global dengan meluncurkan gerakan "Earth Hour" secara global di Bali (Indonesia) pada 14 Desember 2007.
Saat itu, Direktor Jenderal WWF, James Leape, mengungkapkan terima kasihnya kepada para wali kota dan pejabat negar yang ikut mendukung gerakan yang disebutnya "kegiatan global unik yang memperlihatkan komitmen" bersama untuk merespons tantangan perubahan iklim.
"Selama 'Earth Hour' itu, kalangan pemerintah, pengusaha, pimpinan masyarakat, dan warga perorangan mematikan lampu-lampu di tempat mereka. Aksi nyata mereka ini dapat membantu mewujudkan satu perubahan di tengah tantangan besar dunia saat ini," katanya.
Pemimpin WWF-Australia, Greg Bourne, mengatakan, gerakan "Earth Hour" bermula di Sydney dan diikuti oleh 2,2 juta orang. Di antara ikon kota Sydney yang sempat "gelap" pada Maret 2007 lalu adalah gedung Opera Sydney dan jembatan pelabuhan Sydney (Sydney Harbour Bridge).
"Peristiwa di Sydney itu membawa pesan global yang kuat bahwa setiap orang bisa ikut dalam merespons tantangan perubahan iklim dunia. Dan, kami ingin pesan itu sampai ke semua orang di dunia," katanya.
*) My news for ANTARA on March 29, 2008

No comments:
Post a Comment