Eksistensi Subak atau sistim pengairan sawah masyarakat petani di Pulau Bali yang terbukti mampu menjaga harmoni antara manusia dengan alam selama ratusan tahun diangkat Stasiun Televisi ABC ke dalam program acara "Catalyst" yang khusus mengupas isu perubahan iklim, Kamis malam.Dalam tayangan program acara yang dibawakan Dr.Graham Phillips itu, Subak digambarkan sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Bali yang berhasil menjaga harmoni antara kebutuhan para petani sawah di Pulau Dewata itu akan air dengan kelestarian alam.
Subak telah ada sejak 500 tahun lalu. Menurut TV ABC, sistim pengairan ini merupakan yang tertua yang pernah ada di bumi .
Kearifan masyarakat Hindu Bali dalam menghargai air seperti tercermin dalam sistim kerja sama pembagian air "Subak" ini digambarkan dengan sangat positif dan disandingkan dengan peran Bali sebagai tuan rumah Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dengan segala dinamika yang menyertainya Desember 2007 lalu.
Budaya sistim pengairan sawah terasiring di Pulau Bali yang sudah bertahan selama ratusan tahun itu dikontraskan dengan bagaimana para anggota delegasi dari 190 negara bertemu untuk merumuskan kesepakatan global tentang masalah pengurangan emisi karbon yang telah menyebabkan bumi semakin panas.
Reporter Program Acara Catalyst, Mark Horstman, menggali pesan kearifan budaya Subak masyarakat Bali itu dan mengkontraskannya dengan dinamika di dalam UNFCCC yang sarat pertarungan antarkepentingan kendati pada akhirnya Amerika Serikat yang ngotot mau menerima Peta Jalan Bali (Bali Roadmap) sebagai salah satu langkah menuju upaya bersama menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global.

No comments:
Post a Comment