Thursday, March 13, 2008

TV AUSTRALIA TAYANGKAN "SUBAK" BALI YANG SARAT PESAN LINGKUNGAN

Eksistensi Subak atau sistim pengairan sawah masyarakat petani di Pulau Bali yang terbukti mampu menjaga harmoni antara manusia dengan alam selama ratusan tahun diangkat Stasiun Televisi ABC ke dalam program acara "Catalyst" yang khusus mengupas isu perubahan iklim, Kamis malam.

Dalam tayangan program acara yang dibawakan Dr.Graham Phillips itu, Subak digambarkan sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Bali yang berhasil menjaga harmoni antara kebutuhan para petani sawah di Pulau Dewata itu akan air dengan kelestarian alam.

Subak telah ada sejak 500 tahun lalu. Menurut TV ABC, sistim pengairan ini merupakan yang tertua yang pernah ada di bumi .

Kearifan masyarakat Hindu Bali dalam menghargai air seperti tercermin dalam sistim kerja sama pembagian air "Subak" ini digambarkan dengan sangat positif dan disandingkan dengan peran Bali sebagai tuan rumah Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dengan segala dinamika yang menyertainya Desember 2007 lalu.

Budaya sistim pengairan sawah terasiring di Pulau Bali yang sudah bertahan selama ratusan tahun itu dikontraskan dengan bagaimana para anggota delegasi dari 190 negara bertemu untuk merumuskan kesepakatan global tentang masalah pengurangan emisi karbon yang telah menyebabkan bumi semakin panas.

Reporter Program Acara Catalyst, Mark Horstman, menggali pesan kearifan budaya Subak masyarakat Bali itu dan mengkontraskannya dengan dinamika di dalam UNFCCC yang sarat pertarungan antarkepentingan kendati pada akhirnya Amerika Serikat yang ngotot mau menerima Peta Jalan Bali (Bali Roadmap) sebagai salah satu langkah menuju upaya bersama menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global.

*) My news for ANTARA on March 13, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity