Saturday, March 15, 2008

AUSTRALIA PRIHATINKAN CARA CHINA TANGANI DEMONSTRASI DI TIBET

Pemerintah Australia prihatin dengan cara China menangani para demonstran pro-kemerdekaan Tibet di Lasha. Canberra juga terus memonitor kondisi delapan orang warga negaraya yang berada di kota itu.

Menteri Luar Negeri Stephen Smith mengatakan, Sabtu, pemerintahnya meminta otoritas China menahan diri dan menangani masalah demonstrasi yang telah menewaskan sedikitnya sepuluh orang itu secara damai.

"Kami mengimbau Pemerintah China mengizinkan warga (Tibet) menyampaikan aspirasinya secara damai. Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) telah berhubungan dengan delapan orang warganya yang masih berada di Lasha saat ini dan terus memonitor kondisi mereka," katanya.

Menlu Smith mengatakan, semua warga negaranya itu diminta untuk tetap berada di dalam rumah sampai keadaan kembali terkendali.

Menyusul terjadinya demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan itu, Pemerintah Australia memperbaharui status "peringatan perjalanan" (travel advisory) terhadap China sejak 14 Maret dengan meminta semua warganya mempertimbangkan kembali rencana mereka untuk bepergian ke Lhasa saat ini, kata Menlu Smith.

Kantor Berita China, Xinhua, melaporkan sepuluh orang tewas terbakar dalam kerusuhan di ibukota Tibet, Lhasa, yang terjadi hari Jumat.

Kantor berita Reuters menyebut protes pro kemerdekaan rakyat Tibet itu merupakan yang terkeras melanda wilayah itu dalam dua dasawarsa dan mencoreng citra China beberapa bulan menjelang Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade 2008.

Dalam aksi protes pro-kemerdekaan yang berakhir rusuh itu, lebih dari 160 kebakaran terjadi.

China menuduh para pengikut pemimpin spiritual Tibet di pengasingan, Dalai Lama mendalangi aksi kekerasan itu. Namun tuduhan Beijing itu dibantah Pemimpin spiritual Tibet di pengasingan, Dalai Lama.

Dalai Lama mengatakan, tuduhan itu "tidak berdasar sama sekali".

Menyusul terjadinya kerusuhan tersebut, para wisatawan asing dilaporkan tidak diizinkan memasuki Tibet .

China menguasai Tibet sejak 1951 dan perlawanan terhadap kekuasaan Beijing terus berlangsung.

*) My news for ANTARA on March 15, 2008

No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity