Monday, March 24, 2008

SERUAN KEKERASAN USTADZ BA'ASYIR KONTRAPRODUKTIF TERHADAP VIY 2008

Seruan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir kepada jamaah pengajiannya untuk melakukan tindak kekerasan terhadap para turis Australia yang tidak menghormati cara-cara Islami bertentangan dengan ajaran Islam dan berpotensi mengganggu upaya menyukeskan Tahun Kunjungan Wisata (VIY) 2008.

Pendapat itu disampaikan Cendekiawan Muslim Indonesia yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Wollongong, Dr.Nadirsyah Hosen, kepada ANTARA, Selasa, menanggapi pernyataan kontroversial Ustadz Ba'asyir yang mendorong Menlu Australia Stephen Smith mengeluarkan pernyataan pers khusus mengenai hal itu.

"Saya khawatir pernyataan itu akan mengganggu upaya pemerintah mendatangkan turis asing sepanjang Visit Indonesia Year 2008. Pernyataan (Ustadz Ba'asyir) itu pun bertentangan dengan ajaran Islam karena mengatakan turis asing seperti binatang jauh dari akhlak yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad," katanya.

Seruan kontroversi pemimpin Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) itu mencuat ke publik Australia setelah media negara itu hari Senin (24/3) mempublikasikan apa yang diklaim sebagai isi rekaman video ceramah agamanya di depan ratusan warga desa di Jawa Timur, Oktober 2007.

Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith langsung mengeluarkan pernyataan pers khusus yang mengecam seruan kekerasan pemimpin Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki itu.

"Komentar-komentar Abu Bakar Bashir konsisten dengan pandangannya yang selama ini sudah diketahui dan tak lebih dari sikap fanatiknya. Saya mengutuk pandangan-pandangannya ini," kata Menlu Smith.

Terhadap masalah ini, Nadirsyah Hosen, mengatakan, sejak keluarnya seruan kontroversial Ustadz Ba'asyir, tidak terdengar ada satu kasus pemukulan pun terhadap turis asing di Indonesia dan kenyataan ini semakin membuktikan bahwa "omongan" Ustadz Ba'asyir diabaikan dan tidak diberi tempat di media Indonesia.

"Kalau pun misalnya ada orang Islam di Indonesia kemudian memukul turis tanpa sebab atau hanya gara-gara dia orang kafir seperti yang disebut Ustadz Ba'asyir, maka hukum Indonesia mengatakan bahwa itu kriminal. Jadi sistim hukum di Indonesia sangat melindungi turis dan siapapun dari tindakan kekerasan," katanya.

Dalam VIY 2008, pemerintah RI telah menargetkan kedatangan tujuh juta orang wisatawan asing, termasuk di dalamnya wisatawan asal Australia.

Bagi Pemerintah Australia, pernyataan kontroversial Ustadz Ba'asyir itu jangan kemudian dijadikan pembenar untuk melanggengkan status "peringatan perjalanan" (travel advisory) terhadap Indonesia, katanya.

Alasannya adalah pada saat Perdana Menteri Kevin Rudd dan sejumlah menterinya menghadiri Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bali Desember 2007 lalu, tidak ada satu pun insiden kekerasan terjadi sehingga layak bagi Pemerintah Australia untuk setidaknya menurunkan level "travel advisory" itu, katanya.

Menanggapi seruan kontroversial Ustadz Ba'asyir itu, Menlu Stephen Smith mengatakan, ia akan tetap mengutuk pernyataan Ustadz Ba'asyir yang mengancam keselamatan warga Australia dan warga asing di Indonesia.

Ba'asyir menyebut para turis yang mempertontonkan kulit tubuh mereka di pantai pasir seperti di Bali itu, telah menghancurkan nilai-nilai moral.

Menlu Stephen Smith mengatakan, kerja sama Australia dan Indonesia dalam apa yang disebutnya "kontra terorisme" akan terus berlangsung dan "tetap kuat".

Pada Februari lalu, ia bersama Menlu Indonesia Nur Hassan Wirajuda di Perth telah pun sepakat untuk memperpanjang masa nota kesepahaman kerja sama kontra terorisme kedua negara hingga tiga tahun ke depan.

"Kami juga sepakat untuk mengadakan forum konsultatif bilateral mengenai masalah kontra terorisme tahun ini guna meningkatkan kerja sama kontra terorisme dalam kaitannya dengan Perjanjian Lombok (Perjanjian Keamanan Indonesia-Australia-red.)," katanya.

Menlu Smith mengatakan, Pemerintah Indonesia pun secara konsisten memberikan perhatian khusus terhadap pernyataan apapun yang berisi ancaman terhadap warga negaranya maupun warga negara asing.

Ia mengatakan, Indonesia senantiasa "waspada" terhadap setiap ancaman terorisme dan berhasil menumpas para pelaku aksi kekerasan terorisme.

Keberhasilan Indonesia

Setidaknya sudah 180 orang pelaku berbagai aksi penyerangan sejak 2000 di Indonesia dihukum, katanya.

Seruan kontroversi pemimpin Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) itu mencuat ke publik Australia setelah media setempat, Senin, mempublikasi apa yang diklaim sebagai isi rekaman video ceramah agamanya di depan ratusan warga desa di Jawa Timur, Oktober 2007.

ABC misalnya menyebut Ba'asyir dalam ceramahnya yang diabadikan dalam bentuk video oleh seorang peneliti universitas di Darwin, Australia, antara lain menganjurkan jamaahnya untuk memukul para turis asing yang tidak menghormati cara-cara Islami.

Ba'asyir seperti dikutip ABC dari isi video itu juga meminta jamaah pengajiannya agar "tidak menoleransi" para turis non Muslim yang dianalogikannya bak "ulat, ular, dan belatung yang merangkak".

Ba'asyir menyebut para turis yang mempertontonkan kulit tubuh mereka di pantai pasir seperti di Bali itu, menurut Ba'asyir, telah menghancurkan nilai-nilai moral.

Australia kehilangan 88 orang warganya yang sedang berlibur di Pulau Bali dalam sebuah serangan kelompok Amrozi Cs pada 12 Oktober 2002.

Dalam insiden yang mengentakkan industri pariwisata Indonesia itu, total jumlah korban yang tewas mencapai 202 orang dan yang luka 209 orang.

Ustad Ba'asyir sempat dikait-kaitkan dengan insiden Bom Bali 2002 ini dan pada 3 Maret 2005, tokoh Islam kelahiran Jombang 17 Agustus 1938 itu divonis bersalah dalam Bom Bali 2002 dan dihukum 2,6 tahun penjara. Ia dibebaskan pada 14 Juni 2006.

Tiga tahun setelah insiden 12 Oktober 2002 terjadi, Bali kembali diguncang serangan bom bunuh diri kelompok teroris Malaysia, Noordin M.Top, pada 1 Oktober 2005.

Dalam insiden serangan itu, sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka. Empat orang di antara mereka yang tewas adalah warga Australia.

*) My news for ANTARA on March 25, 2008


No comments:

About Me

My photo
Brisbane, Queensland, Australia
Hi, I am a journalist of ANTARA, Indonesia's national news agency whose headquarters is in Jakarta. My fate has brought me back to Australia since March 2007 because my office assigns me to be the ANTARA correspondent there. My first visit to the neighboring country was in 2004 when I did my masters at the School of Journalism and Communication, the University of Queensland (UQ), Brisbane, under the Australian Development Scholarship (ADS) scheme. However, the phase of my life was started from a small town in North Sumatra Province, called Pangkalan Brandan. In that coastal town, I was born and grown up. Having completed my senior high school there in 1987, I moved to Medan to pursue my study at the University of North Sumatra (USU) and obtained my Sarjana (BA) degree in English literature in 1992. My Master of Journalism (MJ) was completed at UQ in July 2005. The final research project report for my MJ degree was entitled "Framing the Australian Embassy Bombing (Jakarta) in Indonesian and Australian Newspapers". Further details about me can be read in a writing posted in my blog entitled "My Life Journey".

Blog Archive

NeoPod

NeoCounter

The Value of Creativity

The Value of Creativity